Milenial Beli Properti untuk Investasi

Penulis: Fetry Wuryasti Pada: Kamis, 17 Mei 2018, 06:30 WIB Ekonomi
Milenial Beli Properti untuk Investasi

MI/Pius Erlangga

KEBANYAKAN generasi milenial lebih tertarik membeli properti untuk kali pertamanya sebagai investasi ketimbang sebagai rumah pertama mereka atau first home buyer.

Hal itu terungkap dalam sentiment survey H-I/2018 yang melibatkan sebanyak 1.922 responden selama periode 13 Maret-27 April 2018. Responden berasal dari wilayah Jabodetabek dan beberapa kota besar lainnya di Pulau Jawa.

"Responden milenial sudah cukup sadar bahwa membeli properti ini memiliki return (imbal hasil) yang bagus. Jadi, meskipun bukan hunian idamannya, ketika mampu membeli sebuah properti, maka mereka akan berpikir bahwa properti itu sebagai bentuk investasi," ungkap Country General Manager Rumah123 Ignatius Untung dalam pemaparan sentiment survey H-I/2018, di Jakarta, kemarin.

Untung menjelaskan berdasarkan survei tersebut, sebanyak 60,32% generasi milenial pada rentang usia 22-28 tahun mencari hunian sebagai bentuk investasi mereka, sedangkan sebanyak 39,68% lainnya belum berencana sedikit pun.

"Meningkat cukup banyak, setidaknya ada 75% milenial pada rentang usia 29-35 yang juga kini mulai mencari hunian investasi," tutur Untung.

Ia melanjutkan pola pikir pragmatis tersebut juga cukup mewarnai keputusan pembelian properti dengan menggunakan fasilitas kredit pemilikan rumah (KPR).

Hal itu cenderung terjadi pada masyarakat golongan penghasilan di bawah Rp10 juta yang rela membayar cicilan dengan bunga lebih tinggi selama proses pengajuannya tidak terlalu sulit.

Namun, ia menerangkan, mereka yang berpenghasilan di bawah Rp10 juta per bulan kesulitan membayar uang muka lantaran kurangnya penghasilan.

"Berbeda dengan mereka yang berpenghasilan di atas Rp10 juta, cenderung kesulitan membayar DP (uang muka) karena terlilit utang. Sebut saja untuk penggunaan credit card, kredit tanpa agunan (KTA), dan kredit kendaraan bermotor (KKB)," ungkap Untung.

Di sisi lain, ia menambahkan masih adanya sebagian generasi milenial yang belum berencana membeli properti disebabkan kurangnya edukasi. Pengembang juga dinilai belum serius menggarap dan menguasai benar cara menyasar kaum milenial. "Karena itu, pengembang harus berusaha mengerti karakter milenial," ucap dia.

Akan tetapi, menurut dia, jika generasi milenial terus menunda membeli properti, setiap tahun milenial yang menunda pembelian properti itu berpotensi kehilangan 4%-8% ukuran properti. "Artinya rumah yang bisa dibeli ialah rumah ukuran kecil atau yang berada di dalam gang-gang sempit."

Rumah warisan
Berdasarkan survei tersebut, Ignatius juga mengakui pihaknya menemukan fakta bahwa nyaris 45% penduduk Jakarta tidak tinggal di rumah yang mereka bisa beli sendiri.

Berdasarkan data yang diolah Tim Business Intelligent Rumah123, meski mereka tinggal di rumah yang berlabel milik sendiri, hunian itu didapat dari hasil warisan keluarga.

"Betul, pengakuan mereka tinggal di rumah sendiri, tapi rumah tersebut mereka peroleh dari warisan. Bukan dibeli dengan uang mereka sendiri," tukas Untung. (E-3).

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More