Ini Cara Hindari Hipertensi

Penulis: Indriyani Astuti Pada: Rabu, 16 Mei 2018, 21:30 WIB Humaniora
Ini Cara Hindari Hipertensi

thinkstock

HIPERTENSI atau dikenal sebagai tekanan darah tinggi menjadi penyakit yang banyak diderita masyarakat. Laporan dari Survei Indikator Kesehatan Nasional (Sirkesnas) 2016 menunjukan kejadian hipertensi naik menjadi 32,4%. 

Sementara data Riset Kesehatan Dasar 2013 lalu, kejadian hipertensi sekitar 31,7% atau satu dari tiga orang di Indonesia mengalami hipertensi.

Prof Dr dr Suhardjono, SpPD, K-GH, K-Ger, FINASIM yang merupakan Anggota Pengurus Besar Persatuan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia mengatakan hipertensi dapat dihindari dengan mengontrol tekanan darah dan mengendalikan faktor risiko, untuk mencegah bertambahnya angka prevalensi tersebut.

Suhardjono memaparkan ada sejumlah faktor yang diketahui dapat meningkatkan risiko hipertensi pada seseorang, yaitu tekanan darah normal yang memang tinggi, adanya riwayat keluarga yang hipertensi, ras tertentu yang berisiko hipertensi lebih tinggi dibanding ras lainnya, kelebihan berat badan (obesitas), konsumsi gula, garam dan lemak berlebih, kurang aktivitas fisik, dan kebiasaan mengonsumsi alkohol atau merokok.

"Beberapa faktor risiko ini dapat dikendalikan untuk mencegah seseorang hipertensi dengan memperbaiki gaya hidup," ujarnya.

Selain mengendalikan faktor risiko, penting bagi seseorang untuk mengetahui tekanan darahnya. Ketua Indonesian Society of Hypertension (InaSH) dr Tunggul D Situmorang, SpPD-KGH mengatakan mengendalikan tekanan darah dapat menurunkan risiko komplikasi akibat hipertensi. Dia menyarankan supaya masyarakat memeriksakan tekanan darahnya setidaknya sekali dalam satu tahun. Sedangkan untuk pasien hipertensi, dianjurkan untuk mengecek tekanan darah di rumah.

"Cek tekanan darah di rumah. Sehingga pasien mengetahui rata-rata tekanan darahnya. Mengecek tekanan darah dapat dilakukan pada pagi dan malam hari," ujar Tunggul.

Dia lebih lanjut mengatakan, tekanan darah pada pagi hari umumnya memang naik. Sedangkan saat malam, turun. Karena itu banyak pasien yang terkena serangan jantung pada pagi hari saat tekanan darah meningkat. Karenanya minum obat pengontrol tekanan darah dianjurkan pada malam hari untuk mengindari hal itu.

Sementara itu, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Cut Putri Arinie memaparkan, hipertensi merupakan penyakit yang cukup menyedot biaya pengobatan dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). 

Dipaparkan Cut, pada rentan waktu 2014-2016, biaya INA-CBG'S dari program JKN untuk penyakit kronis paling besar untuk hipertensi dengan jumlah Rp12,1 triliun, disusul diabetes melitus sebesar Rp 9.2 Triliun, penyakit jantung koroner sebesar Rp7,9 triliun dan gagal ginjal sebesar Rp6,8 triliun. (A-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More