Menyambut Ramadan di Tenda Pengungsian

Penulis: (AFP/Denny Parsaulian/I-3) Pada: Kamis, 17 Mei 2018, 05:45 WIB Internasional
Menyambut Ramadan di Tenda Pengungsian

AFP / MUNIR UZ ZAMAN

REMAJA dan anak-anak warga Rohingya di pengungsian merindukan berada di desa mereka saat bulan suci Ramadan tiba. Tapi apa daya, impian itu tidak bisa terwujud karena mereka masih harus tinggal di tenda-tenda pengungsi di Bangladesh. Seorang remaja berusia 12 tahun, MD Hashim,  bahkan mempunyai harapan lebih. Dia menginginkan suasana sukacita seperti saat menyambut Ramadan sebelum terjadi tragedi pembantaian warga Rohingya oleh militer Myanmar dari distrik Rakhine.

Di saat bahagia seperti itu, Hashim dan keluarganya kerap menyantap ikan sebagai menu berbuka puasa. Sukacita keluarga mereka  semakin lengkap karena para kerabat selalu berbagi hadiah. Kenangan lain yang membuat remaja itu bahagia ialah kebersamaan dengan teman-teman sebaya bersantai di bawah pepohonan sambil menunggu tarawih.

Tapi, semua itu kini tinggal kenangan. Saat ini Hashim dan anak-anak Rohingya yang tinggal di pengungsian di Bangladesh hidup dalam kemelaratan. Bagi mereka, Ramadan kali ini hanya sebagai pengingat tentang betapa pahit kehilangan segalanya sejak mereka diusir secara brutal oleh tentara Myanmar dari Rakhine.

“Di sini, kami tidak bisa membeli hadiah dan tidak memiliki makanan yang enak, karena ini bukan negara kami,” kata Hashim kepada AFP di tempat pengungsian di sebuah bukit tandus di Distrik Cox’s Bazar. Seperti diketahui, PBB menggambarkan tindakan keras militer Myanmar saat melakukan pembersihan terhadap kelompok minoritas Rohingya sebagai upaya pembersihan etnik. Akibatnya, ribuan warga muslim Rohingya dibantai setelah dimulainya aksi militer pada Agustus 2017.

Sekitar 700 ribu warga Rohingya melarikan diri ke Bangladesh. Untuk bertahan hidup, mereka berlindung di gubuk-gubuk bambu beratap terpal di lereng bukit. Meski menjalani kehidupan seperti itu, mereka tetap bersyukur karena bisa melarikan diri dari kekerasan tentara Myanmar. Tapi, saat memasuki Ramadan seperti saat ini, para pengungsi Rohingya mulai cemas.

Mereka mengkhawatirkan ketersediaan makanan dan uang untuk membeli sandang dan pangan. Penderitaan mereka semakin berat karena suhu udara panas menyelimuti wilayah pengungsian.

Mengasyikkan
Meski pengungsi Rohingya dirundung kecemasan, Hashim dengan senang hati berbagi kisah tentang sukacita selama Ramadan di desanya. Sembari duduk bersila di dalam tenda plastik di tengah hari yang terik, remaja itu mengungkapkan kebahagiaan dalam kesederhanaan setiap tahun dirasakan warga desanya saat menyambut Ramadan.

Setiap malam, dia bersama teman dan keluarga berbuka puasa bersama dengan suguhan hidangan ikan dan daging yang dimasak hanya sekali setahun di bulan suci.  “Semua anak dapat pakaian baru yang disemprot dengan parfum tradisional. Kami menyebutnya attar untuk menandai liburan Ramadan.” (AFP/Denny Parsaulian/I-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More