Buyut Hatta

Penulis: Ronal Surapradja Pada: Kamis, 17 Mei 2018, 05:15 WIB celoteh
Buyut Hatta

TIDAK terasa sudah bulan Ramadan lagi. Seperti dua tahun sebelumnya, tahun ini saya kembali dipercaya untuk menulis sebulan penuh di kolom Celoteh ini. Alhamdulillah, lumayan untuk tunjuangan hari raya alias THR, hehe.Untuk edisi pertama ini saya akan mulai dengan kisah yang terjadi setahun lalu. Seperti biasa, Idul Fitri ialah saat untuk berkumpul dan bersilaturahim dengan keluarga besar. Setelah kumpul keluarga besar saya di Garut, kami sekeluarga ke Jakarta untuk bersilaturahim dengan keluarga besar istri. Keluarga ibu dari istri saya ialah orang Minang, tepatnya dari Bukittinggi.

Saat berpamitan mau pulang, saya sempat melihat ada foto Bung Hatta berpigura dipajang di ruang tamu. Pikir saya, keluarga istri dari Bukittinggi, Bung Hatta juga dari sana, pasti ada kaitannya. Yang terlintas di pikiran saya, ‘wah hebat, saya masih keluarga dengan proklamator’, meski saya tidak tahu hubungannya seperti apa, yang penting saya masih keluarga deh meski itu pun karena pernikahan, hehe.

Di dalam mobil saat perjalanan pulang, anak lelaki saya, Anaking Raka Praceka, yang berusia 8 tahun, bertanya kenapa ada foto Bung Hatta di rumah tadi. Saya dan istri saya bingung menjelaskannya karena memang tidak tahu, hehe.

Akhirnya kami menelepon mama untuk dapat penjelasan. Jadi, rumah tempat tadi kami berkumpul itu ialah rumah dari kakak lelaki mama yang istrinya (kakak ipar mama) memanggil Bung Hatta dengan sebutan paman. Jadi, saya jelaskan ke anak saya bahwa Bung Hatta ialah kakek buyutnya. Saya bisa melihat perubahan ekspresi wajahnya dari datar menjadi gabungan antara kaget, takjub, dan bangga. Dia pun tersenyum dengan mata menerawang.

Yang terjadi selanjutnya ialah anak saya ingin mengunjungi makam Bung Hatta. Setelah sampai rumah, saya dan dia bermotor menuju TPU Tanah Kusir yang kebetulan tidak jauh dari rumah. Jujur, saya terharu, anak di zaman sekarang punya ketertarikan kuat akan pahlawan nasional, sang proklamator, saudara pula, hehe. Sepanjang jalan dia banyak bertanya tentang si Bung, dan saya jelaskan sebisa saya.  

Seminggu setelah kejadian itu, obrolan di rumah masih seputar ‘buyut Hatta’--begitu anak saya memanggilnya. Menyenangkan sekali rasanya membuka lagi koleksi buku sejarah dan browsing tentang perjuangan si Bung lalu menceritakannya kepada dia. Sejarah selalumenjadi ketertarikan saya dan ketika itu terjadi antara saya dan dia, rasanya seperti ulangan obrolan saya kecil dengan bapak.

Berbicara mengenai Bung Hatta, rasanya terlalu banyak kekaguman saya terhadapnya. Perjuangannya untuk kemerdekaan bangsa ini susah untuk diulang generasi sesudahnya. Sifat keras dan keberaniannya membuatnya tidak takut dengan penjara sampai dibuang ke daerah terpencil di Boven Digul jauh di pedalaman Papua.

Soal isi kepala jangan tanya. Bung Hatta ialah seorang pelahap buku yang selalu haus akan ilmu. Ada cerita tentang 16 peti buku koleksinya yang ia bawa dari Belanda, lalu ke Jakarta, diangkut lagi ke Boven Digul. Itu masih tak luput dibawa ketika dipindahbuangkan ke Banda Neira, kembali lagi ke Jakarta, dan kemudian ke Bangka. Bayangkan 16 peti buku! Saking banyaknya, ketika baru tiba di Digul, teman sesama buangan, Moh Bondan, sampai tak tahan berseru, “Anda ke sini dibuang apa mau buka toko buku?”

Teringat kisah tentang sepatu Bally, sepatu idaman Bung Hatta dari Italia yang tidak pernah terbeli sampai akhir hayatnya. Guntingan iklan sepatu itu masih tersimpan rapi hingga akhir hayatnya pada 1980. Saya tidak bisa membayangkan orang yang pernah menjadi orang nomor dua di negeri ini tidak bisa membeli sepatu. Kesederhanaan dan kejujurannya membuat namanya diabadikan menjadi Bung Hatta Award sebagai penghargaan yang diberikan kepada para tokoh dari berbagai latar belakang profesi yang dinilai memiliki komitmen antikorupsi.

Bung, ini anakku cucu buyutmu yang hanya kenal dirimu dari foto dan buku banyak bertanya tentang dirimu. Aku berharap dia mewarisi segala hal baik tentangmu. Sekaligus aku juga berharap para pemimpin bangsa ini membaca sejarah dan meneladani semua kisahmu, agar bangsa ini bisa sepenuhnya merdeka.

Sambil mengirim e-mail ke redaksi Media Indonesia, saya putar lagu Hatta dari Iwan Fals.
Terbayang baktimu, terbayang jasamu
Terbayang jelas jiwa sederhanamu
Bernisan bangga, berkafan doa
Dari kami yang merindukan orang
sepertimu (H-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More