Mantan Menko Sebut Nilai Tukar Pengaruhi Pembayaran Utang

Penulis: Erandhi Hutomo Saputra Pada: Rabu, 16 Mei 2018, 21:10 WIB Ekonomi
Mantan Menko Sebut Nilai Tukar Pengaruhi Pembayaran Utang

ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

MANTAN Menteri Perekonomian Kwik Kian Gie menyebut utang yang dilakukan pemerintah untuk membangun infrastruktur sah-sah saja dilakukan. Terlebih saat ini rasio ULN (utang luar negeri) terhadap produk domestik bruto (PDB) pada kuartal I 2018 masih di kisaran 34% dan defisit APBN tidak sampai 3%.

"Dulu saat Orde Baru ukuran bahaya utang luar negeri dihitung dari debt to service ratio ambang batas 20%, ketika sudah tersentuh ukurannya diganti menjadi berapa persen dari APBN, kalau belum 3% dari APBN tidak berbahaya dan memang (saat ini) belum," ujar Kwik dalam seminar bertajuk 'Menyikapi Polemik Utang Pemerintah Indonesia' di Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie Jakarta, Rabu (16/5).

Akan tetapi, Kwik menyebut pemerintah perlu mewaspadai utang dalam bentuk valuta asing (valas). Diketahui hingga kuartal I 2018, ULN pemerintah tercatat sebesar US$181,1 miliar yang terdiri dari SBN (SUN dan SBSN/Sukuk Negara) yang dimiliki oleh non-residen sebesar US$124,8 miliar dan pinjaman kreditur asing sebesar US$56,3 miliar.

Perlu diwaspadainya utang dalam bentuk valas tersebut, kata dia, karena utang valas juga harus dibayar dengan valas. Namun sayangnya nilai tukar rupiah terhadap dollar terus melemah.

Ia menyebut sejak tahun 1970 hingga saat ini nilai tukar rupiah terhadap dollar AS melemah 3757% yakni dari Rp363 per dollar AS menjadi saat ini dikisaran Rp14.000.

"Sejak tahun 70-an kondisi moneter semrawut , sambil membandingkan dengan nilai tukar valuta negara-negara tetangga, dollar Singapura saat itu hingga sekarang terhadap US$ itu menguat 57%, Malaysia melemah 31%, Thailand melemah 52%, dan Filipina melemah 756%," sebutnya.

Untuk itu, Kwik meminta pemerintah mencermati ULN agar utang pokok dan bunga utang yang dibayar pemerintah tidak semakin besar akibat terus melemahnya rupiah.

"Saya hanya katakan utang dalam valas harus dibayar valas, maka utang yang besar jumlahnya maka akan akibatkan pembayaran utang dan bunga dalam valas yang juga besarnya saat jatuh tempo," pungkasnya. (A-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More