Hipertensi Sering Kali tidak Terdeteksi

Penulis: Indriyani Astuti Pada: Rabu, 16 Mei 2018, 20:40 WIB Humaniora
Hipertensi Sering Kali tidak Terdeteksi

THINKSTOCK

HIPERTENSI atau tekanan darah tinggi menjadi penyakit kronik yang seringkali tidak terdeteksi. Sehingga disebut sebagai sillent killer (pembunuh senyap).

Direktur Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI Cut Putri Arinie,  mengatakan sebagian besar hipertensi tidak terdeteksi. Diperkirakan 3 dari 10 penderita hipertensi tidak menyadari kondisi mereka karena tanpa keluhan. Sehingga mereka baru mengetahui ketika terjadi komplikasi yang diakibatkan oleh tingginya tekanan darah seperti serangan jantung, stroke atau penyakit ginjal.

"Untuk mencegah hipertensi, maka perlu modifikasi gaya hidup atau perubahan perilaku berisiko," ujar Cut dalam acara press briefing bertema 'Deteksi dini dan pengendalian faktor risiko hipertensi' di Kantor Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan, Jakarta, Rabu (16/5).

Perubahan perilaku berisiko yang dimaksud seperti merokok, diet tidak sehat, kurang konsumsi sayur dan buah, konsumsi garam, gula dan lemak berlebih, kurang aktivitas fisik, stress serta konsumsi alkohol. 

Cut mengatakan hipertensi salah satu Penyakit Tidak Menular (PTM) yang banyak diderita masyarakat saat ini. Dia menjelaskan ada transisi epidemologi di masyarakat dari banyaknya penderita penyakit menular menjadi penyakit tidak menular seperti stroke, jantung, diabetes dan hipertensi. "Penyebabnya karena faktor gaya hidup tidak sehat," ucap dia.

Apabila sudah terlanjur menderita hipertensi, sambung dia, masyarakat disarankan berobat secara teratur supaya tekanan darahnya terkontrol. Adapun untuk mengetahui hipertensi secara dini, dia mengimbau supaya masyarakat rajin melakukan skrining kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan. 

Kementerian Kesehatan, tutur Cut, telah mengupayakan keberadaan pos bindu PTM di setiap desa sehingga masyarakat dapat mengukur tekanan darah, memeriksakan kadar kolestrol dalam darah dan memeriksa gula darah secara teratur. "Apabila hipertensi, dapat ditujuk ke Puskesmas untuk ditangani," pungkasnya.

Data dari World Health Organization (WHO) pada 2015 menunjukan sekitar 1,13 Miliar orang di dunia menderita hipertensi. Cut mebgatakan artinya 1 dari 3 orang terdiagnosis hipertensi. Jumlah penderita hipetensi diperkirakan meningkat setiap tahunnya terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia karena pergeseran demografi yakni banyaknya penduduk dengan usia produktif dan lanjut.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 sebesar 25,8 persen masyarakat di Indonesia menderita hipertensi. Dari hasil itu juga diketahui bahwa sepertiga penderita hipertensi yang terdiagnosis oleh tenaga kesehatan, hanya 0,7 persen yang minum obat. (A-5)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More