Mobil Listrik Mitsubishi Jawab Kekhawatiran

Penulis: (Cdx/S-4) Pada: Kamis, 17 Mei 2018, 02:45 WIB Otomotif
Mobil Listrik Mitsubishi Jawab Kekhawatiran

DOK MI

MASA depan kendaraan tampaknya berada di pundak mobil listrik. Namun, terdapat beberapa hal yang menghambat realisasi mobil listrik di Indonesia. Salah satu kendala ialah kekhawatiran terhadap keamanan kendaraan. Soalnya mobil listrik menggunakan tegangan listrik yang cukup tinggi, mencapai ratusan volt. Masyarakat khawatir ada risiko tersengat listrik jika kendaraan terendam banjir atau terjadi kecelakaan.

"Masyarakat tidak perlu khawatir akan hal itu. Justru itu, yang pertama kali dipertimbangkan saat merancang mobil listrik ialah bagaimana keamanannya saat banjir," ujar Training Instructor PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) Rahardito Dio Prastowo di hadapan sejumlah wartawan otomotif di Hotel Aston, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (12/5).

Dalam diskusi bertajuk Memacu Kreativitas dan Memelihara Sikap Kritis Menghadapi Jurnalisme 3.0 yang menjadi bagian dari perayaan HUT ke-15 Forum Wartawan Otomotif Indonesia (Forwot) itu, Rahardito mencontohkan mobil listrik Mitsubishi I-Miev memiliki baterai di bagian lantai kendaraan seperti pada mobil listrik lain. "Di Mitsubishi, kami melengkapinya dengan sistem pengaman canggih.

Bagian baterainya dilengkapi sistem insulasi yang sangat rapat sehingga listrik tidak menyebar ke bagian bodi kendaraan." Bahkan saat terjadi kecelakaan, sambung Rahardito, terdapat sistem yang langsung memutus arus dari baterai ke seluruh sistem mengandalkan G-sensor yang akan aktif saat terjadi benturan keras atau jika kendaraan terbalik. "Listriknya tetap ada dan tersimpan di baterai, tapi tidak mengalir ke bagian lain," tegasnya.

Hambatan lain ialah kesiapan infrastruktur berupa ketersediaan stasiun pengisian ulang baterai yang saat ini tengah dipelajari pemerintah. Untuk hal itu, Mistubishi Motors Corporation (MMC) telah menyerahkan delapan kendaraan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) dan dua mobil listrik kepada pemerintah melalui Kementerian Perindustrian. Kendaraan berikut komponen charging station itu kemudian diserahkan ke lima kementerian dan dua lembaga yang berkepentingan dalam mewujudkan sistem transportasi beremisi nol di Indonesia, yaitu Kementerian Perhubungan, Kemenristek-Dikti, Kementerian Keuangan, Sekretariat Negara, BPPT, dan Polri.

Sebagai solusinya, Mitsubishi merilis kendaraan bersistem PHEV, yaitu Outlander PHEV. Kendaraan listrik itu memiliki berbagai keunikan pada sistem penggeraknya. Untuk mengisi baterai, mobil dapat memanfaatkan charging station, jaringan listrik rumah tangga, atau mengandalkan generator yang dimilikinya.

Komponen utama sistem penggeraknya terdiri dari dua motor listrik yang masing-masing menggerakkan roda depan dan belakang (four wheel drive) yang kekuatan torsinya setara mesin bensin 3.0 liter. Penyaluran dan pembagian daya diatur front power drive unit (PDU) dan EMCU (electric motor control unit).

Lalu ada mesin bensin 2.0 liter sebagai pemutar generator untuk pengisian baterai, membantu tenaga saat dibutuhkan, dan seperangkat baterai untuk menyimpan daya listrik. Semua itu memungkinkan Mitsubishi Outlander PHEV berjalan dengan beberapa mode.

Dengan kondisi bahan bakar dan baterai penuh, kombinasi dari sistem hibrida itu mampu membawa Outlander PHEV menjelajah sejauh 897 km.  Jarak tersebut bergantung pada kondisi perjalanan. "Bagaimana kalau tidak ada stasiun pengisian listrik? Tidak usah khawatir karena kendaraan ini mampu mengisi daya baterai sendiri menggunakan mesin yang dimilikinya," tandasnya. (Cdx/S-4)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More