Menikmati Kenyamanan Teknologi EQ Power

Penulis: Ghani Nurcahyadi Pada: Kamis, 17 Mei 2018, 02:15 WIB Otomotif
Menikmati Kenyamanan Teknologi EQ Power

MI/RAMDANI

AJANG Indonesia International Motor Show (IIMS) 2018 medio April lalu menjadi perkenalan manis bagi mobil masa depan Mercedes-Benz yang mengusung platform plug-in hybrid, E 350 e. Kendaraan ini merupakan portofolio keempat dari mobil Mercedes-Benz yang mengusung konsep EQ Power.

Sebagai perkenalan, mobil yang memiliki kapasitas mesin turbo 2.000 cc memang menjadi primadona di booth Mercedes-Benz saat IIMS lalu. Namun, pihak Mercedes-Benz Indonesia belum bisa memastikan kapan penjualan mobil yang sudah dirakit di Malaysia dan Thailand tersebut.

Beruntung, Media Indonesia mendapatkan kesempatan menjajal mobil masa depan pabrikan mobil premium nomor satu di Indonesia tersebut, Senin (7/5). Rute yang diberikan Mercedes-Benz ialah dari Hotel Fairmont, Jakarta, menuju The Breeze di kawasan BSD, Tangerang, Banten, dan kembali ke Hotel Fairmont di kawaaan Senayan.

Media Indonesia lebih dulu menjadi penumpang di rute menuju BSD City, layaknya sedan premium, kabin E 350 e didesain memberikan kenyamanan maksimal bagi pengemudi dan penumpang. Layar lebar di sisi dashboard ditambah sistem suara produksi Burmeister menjadi pendamping yang cocok bagi setiap orang di dalam kabin kendaraan premium ini.

Rasa geregetan mengendarai mobil yang sudah mengaspal lebih dulu di Malaysia baru hilang saat kesempatan mengemudi dari BSD City ke arah Senayan. Memulai perjalanan dengan E-Mode atau mode elektrik penuh, mobil bergerak hampir tanpa suara, sunyi dan halus, hanya sedikit suara ban yang terdengar dalam kabin.

E-Mode dalam E 350 e didukung baterai berdaya 6,2 kwh yang terletak di belakang mobil. Dengan E-mode, mobil ini diklaim bisa melaju hingga kecepatan maksimal 130 km/jam dan jarak tempuh maksimal mencapai 33 km. Untuk bisa mengisi daya baterai, dengan menggunakan Wallbox Mercedes-Benz hanya membutuhkan waktu 1,5 jam. Bila menggunakan aliran listrik biasa membutuhkan waktu hingga 3,5 jam dari kondisi kosong hingga penuh 100%.

Transisi mulus dan responsif
Setelah berasa melayang di sepanjang jalananan BSD, memasuki ruas Tol Jakarta-Serpong, kali ini mode Charge digunakan. Dengan mode ini, mobil berganti menggunakan mesin yang sekaligus mengisi daya baterai yang semakin menipis karena saat memulai perjalanan di BSD baterai tersisa 52%.

Transisi dari baterai ke mesin berlangsung mulus hampir tanpa terasa. Ketika tombol perubahan mode yang berada di bagian tengah kabin ditekan, perubahan hanya terasa saat raungan mesin mulai terdengar. Tol yang sepi pun kami manfaatkan untuk mengubah mode mengemudi dari comfort menjadi sport yang membuat laju mobil makin kencang karena makin responsif terhadap tekanan di gas.

Bagi pengendara E 350 e, tak perlu khawatir ketika lupa mengganti E-Mode ke mode lain agar tak kehabisan baterai. Mercy E 350 e dilengkapi teknologi pintar yang secara otomatis mengubah mode saat baterai menyentuh titik kritis pada 11%-13%. Bila ingin merasakan kolaborasi apik antara kinerja mesin dan baterai bisa dilakukan lewat mode Hybrid.

Mode ini menyelaraskan kinerja kedua daya pendorong E 350 e untuk menghadirkan efisiensi dalam berkendara. Raungan mesin memang cukup mendominasi lewat mode ini, tapi baterai yang digunakan juga tetap terisi dayanya karena digunakan sebagai tenaga pembantu untuk mendorong mobil.

Memasuki kawasan Gandaria, Jakarta Selatan, kami mencoba mode terakhir, yaitu E-Save. Lewat mode ini, kedua tenaga pendorong memang tetap digunakan, tapi tenaga baterai dipertahankan di posisi terakhir sebelum menggunakan mode E-Save. Kala itu daya baterai tercatat 28%. Ini seperti mode power saving dalam smartphone.

Catatan penting dari mobil ini ialah kenyamanan sama sekali tidak terganggu lewat berbagai mode yang digunakan. Transisi antarmode pun berlangsung mulus hampir tak terasa. Sayang, Mercedes-Benz masih belum bisa memastikan kapan E 350 e mengaspal secara resmi di Indonesia karena masih menunggu aturan terkait mobil elektrik/hybrid dari pemerintah. (S-1)

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More