Mengajar, itu Sumber Energi Saya

Penulis: (Wnd/M-2) Pada: Kamis, 17 Mei 2018, 00:45 WIB Humaniora
Mengajar, itu Sumber Energi Saya

MI/ADAM DWI

SETIAP Senin, Wim Prohanto berkegiatan di Universitas Multimedia Nusantara (UMN) Gading Serpong, Tangerang.  Rutinitas tersebut sudah dijalani sejak 2009. Sebelumnya, ia mengajar di Universitas Pelita Harapan.

Bagi Wim, mengajar sudah menjadi hobi. Ia sama sekali tidak merasa terbebani meski kesibukan lainnya tidak berhenti. "Mengajar itu sumber energi saya, membuat saya kembali bersemangat. Saya pilih hari Senin karena saat itu sedang dalam keadaan segar sehingga bisa memberi dan belajar lebih banyak bersama teman-teman mahasiswa," kata bapak dari empat anak ini.

Malah Wim juga merasa mendapat banyak masukan dari proses komunikasi di dalam kelas. Banyak ide segar dari diskusi dengan para mahasiswa. Ia pun kini tengah menerapkan program Tukar Karbo. Di samping mengajar, Wim juga sangat hobi mengoleksi film-film pemenang penghargaan. Sempat membuka bioskop mini di rumahnya, tetapi usaha tersebut tidak berjalan baik.

Di sisi lain, memiliki laman pemasaran hasil pertanian tidak lantas membuat keluarga Wim antiberbelanja di tempat lain. Sang istri, masih sering belanja sayur, rempah ke pasar dekat rumah atau pasar tradisional satu minggu sekali.

Dulu, kata Wim, saat anaknya masih balita, mereka memaksimalkan konsumsi sayur dan buah organik. Namun saat ini, ia lebih longgar dalam konsumsi pangan itu. Tantangan Regopantes, tambah Wim, ialah memberikan edukasi digital serta literasi keuangan kepada petani.

Tantangan tersebut, menurutnya, tidak terlalu terasa di Pulau Jawa karena para petani telah terbiasa dengan ponsel. Namun, literasi keuangan masih menjadi tantangan umum. Literasi ini harus diberikan agar petani mampu mengelola keuangan serta mencatat setiap biaya produksi satu kali panen. (Wnd/M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More