Bert van Marwijk Pengusung Sepak Bola Pragmatis

Penulis: (FIFA/Guardian/Sat/R-1) Pada: Kamis, 17 Mei 2018, 00:30 WIB Sepak Bola
Bert van Marwijk  Pengusung Sepak Bola Pragmatis

AFP PHOTO / Saeed KHAN

PIALA Dunia 2010 merupakan memori yang membanggakan sekaligus menyakitkan bagi Bert van Marwijk. Awalnya, ia dipuja bak pahlawan. Namun, akhir laga final kontra Spanyol menyisakan kenangan buruk bagi kariernya.

Van Marwijk kala itu menjadi pelatih pertama yang menghantarkan tim Oranye mencapai partai final Piala Dunia sejak 1978. Bahkan, pelatih kenamaan, seperti Guus Hiddink, Dick Advocaat, atau Marco van Basten tidak mampu melakukannya. Timnas Belanda memberikan kejutan besar dengan mengalahkan Brasil di perempat final kala itu.

Akan tetapi, ia dinilai melakukan kesalahan besar di final. Van Marwijk seakan menginstruksikan anak asuhnya untuk bermain sangat keras. Mencederai tradisi sepak bola Belanda yang mengagung-agungkan keindahan dalam skema total football. Lebih buruk lagi karena mereka harus menyerah dengan skor tipis 0-1 dari Spanyol. Walhasil, banjir kritik pun diterima pelatih kelahiran Deventer ini.

"Saya pikir negara saya tidak akan pernah mengubah gayanya. Ini menyakitkan bagi saya melihat mereka bermain sangat keras. Jalan yang buruk dipilih oleh tim untuk meraih gelar," tutur almarhum legenda Belanda Johan Cruyff.

Tidak ada yang salah dengan sepak bola pragmatis yang lebih mengandalkan efektivitas jika dibandingkan dengan keelokan permainan. Jose Mourinho mendapatkan banyak gelar dengan cara yang sama. Namun, terlalu banyak yang berpikir skeptis akan hal itu.
Begitu juga saat Van Marwijk resmi menangani timnas Australia awal tahun ini. Banyak pihak beranggapan sepak bola pragmatis yang dibawa pelatih 65 tahun ini akan menjadi kemunduran bagi Socceroos.

Para pengkritik seperti tutup mata dengan keberhasilan Van Marwijk membawa Belanda ke laga final Piala Dunia 2010. Namun, bukan tidak mungkin Van Marwijk membawa Australia melampaui prestasi terbaik di Piala Dunia dengan menembus babak perempat final.
"Saya bukanlah penyihir. Saya mencoba bekerja bersama sebagai sebuah tim, membiarkan mereka percaya pada sesuatu. Kami akan ada pemusatan latihan dan kami berlatih setiap hari," kata Van Marwijk. (FIFA/Guardian/Sat/R-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More