Di Bukit Tandus, Rohingya Jalani Ramadan

Penulis: Denny Parsaulian Pada: Rabu, 16 Mei 2018, 15:41 WIB Internasional
Di Bukit Tandus, Rohingya Jalani Ramadan

AFP/Munir UZ ZAMAN
Para pengungsi Rohingya sedang berwudhu bersiap untuk melakukan salat di kamp pengungsi Ukhia, Cox's Bazar, pada 10 Mei.

HIDUP dalam pengungsian, MD Hashim memimpikan menjalani Ramadan di desanya sendiri. Pengungsi Rohingya berusia 12 tahun itu membayangkan ikan untuk berbuka puasa, hadiah dari keluarganya, dan bersantai di bawah pepohonan sebelum taraweh.

Tetapi bagi Hashim dan para pengungsi lainnya yang hidup dalam kemelaratan di Bangladesh, dimulainya bulan suci Ramadan kini hanya menjadi pengingat, betapa pahit kehilangan segalanya sejak diusir dari Myanmar oleh tindakan keras militer.

"Di sini, kami tidak bisa membeli hadiah dan tidak memiliki makanan yang enak, karena ini bukan negara kami," kata Hashim di tempat pengungsian berupa sebuah bukit tandus di Distrik Cox's Bazar.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut tindakan tentara Myanmar melakukan pembersihan terhadap minoritas yang disebut sebagai pembersihan etnis. Ribuan Muslim Rohingya diyakini telah dibantai sejak dimulainya aksi militer ini Agustus lalu.

Hampir 700 ribu warga Rohingya melarikan diri ke Bangladesh, di mana mereka berlindung di gubuk bambu beratap terpal di lereng bukit.

Sementara mereka bersyukur karena bisa melarikan diri. Sekarang, dengan makanan dan uang yang langka dan suhu udara yang tinggi, Ramadan menjadi sumber kecemasan bagi banyak warga Rohingya.

Duduk di dalam tenda plastik di hari yang terik, Hashim dengan senang hati mengingat kembali kesenangan sederhana yang membuat Ramadan menjadi saat paling mengasyikkan sepanjang tahun di desanya.

Setiap malam, teman dan keluarga akan berbuka puasa bersama dengan hidangan ikan dan daging yang dimasak hanya sekali setahun untuk bulan suci. Pakaian baru akan ditawarkan dan disemprot parfum tradisional yang disebut attar untuk menandai liburan.

"Kami tidak dapat melakukan hal yang sama di sini, karena kami tidak memiliki uang. Kami tidak memiliki tanah kami sendiri. Kami tidak dapat menghasilkan uang karena kami tidak diizinkan," kata Hashim.

Rohingya dilarang bekerja dan lebih dari dua lusin pos pemeriksaan militer melarang mereka meninggalkan apa yang telah menjelma menjadi kamp pengungsi terbesar di dunia.

Mereka mengandalkan amal untuk semuanya, mulai dari makanan dan obat-obatan hingga pakaian dan bahan-bahan perumahan. Hasyim harus berjalan lebih dari satu jam dalam panas yang membakar untuk mencapai pasar terdekat.

Hashim mengatakan banyak pemuda Rohingya juga cemas tentang makanan dan air di tengah suhu yang membakar di kamp.

Di masa lalu, Hasyim senang bergabung dengan teman-temannya bekerja saat puasa karena mereka tetap dapat beristirahat di bawah naungan pepohonan yang sejuk di antara tugas-tugas mereka.

"Kami tidak dapat berpuasa di sini seperti yang kami lakukan di Burma (Myanmar), karena terlalu panas. Tidak ada pohon," katanya kepada AFP. "Terpal itu panas, dan menjadi lebih panas ketika sinar matahari makin panas. Ini sangat sulit."

Meski begitu, Hashim adalah salah satu yang beruntung, mampu merayakan bersama keluarganya. Anak-anak Rohingya lainnya akan menghabiskan Ramadan tidak hanya jauh dari rumah, tetapi sendirian.

Ribuan orang menyeberang ke Bangladesh tanpa orangtua atau keluarga, baik yang terpisah dalam kekacauan atau yatim karena kekerasan dan penyakit.

"Sayangnya, ini akan menjadi Ramadan pertama mereka untuk diingat karena alasan yang salah," kata Roberta Businaro dari Save the Children kepada AFP di Cox's Bazar.

"Mereka hanya akan memiliki kotoran dan lumpur dan debu untuk dimainkan. Mereka akan menghabiskan Ramadan jauh dari rumah mereka, dari orang tua mereka dan dari teman-teman mereka."

Alquran membebaskan orang sakit, lansia dan orang lain untuk tidak berpuasa dari makanan dan air. Tetapi meskipun kesulitan, Rohingya tidak akan meninggalkan tradisi mereka, tidak peduli seberapa menantang keadaan mereka. Seperti dikatakan imam Muhammad Yusuf.

"Ini akan sulit ketika matahari sangat panas, tetapi kami akan tetap berpuasa," kata Yusuf. (AFP/OL-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More