Kurs Rupiah Pengaruhi Harga Bahan Bangunan

Penulis: Ghani Nurcahyadi Pada: Senin, 14 Mei 2018, 23:45 WIB Properti
Kurs Rupiah Pengaruhi Harga Bahan Bangunan

Dok. MI/Atet Dwi Pramadia

TREN nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus melemah sejak awal tahun ini hingga kini. Bahkan, kurs rupiah menembus 14 ribu per dolar AS dari pekan lalu.

Hal tersebut mendorong harga bahan baku bangunan mengalami kenaikan. Setidaknya ini dialami PT Tatalogam Lestari selaku produsen genteng metal dan rangka atap baja ringan. Menurut Vice President Tatalogam Lestari Stephanus Koeswandi, rata-rata harga produknya mengalami kenaikan hingga 5%-10%.

Perlambatan pemesanan sejatinya sudah dirasakan sejak awal tahun ini, terutama dari sektor swasta yang kebanyakan memantau perkembangan ekonomi nasional. Permintaan dari pemerintah diakuinya masih besar karena pembangunan infrastruktur yang digalakkan.

"Saat ini memang terjadi kenaikan walau bahan baku kita masih dapat dari dalam negeri. Soalnya, untuk beberapa produk material, seperti besi, kami menjadikan harga luar sebagai patokan. Kalau di sana naik, harga di sini juga ikut naik," ujar Stephanus di Jakarta, kemarin.

Kondisi seperti itu ternyata rentan disusupi ulah para spekulan yang membuat pembelian di produsen tidak mencerminkan serapan pasar secara riil. Hal tersebut menyebabkan harga semakin tinggi. Karena itu, pihaknya lebih berhati-hati dalam melepas produk kepada konsumen.

Namun, melemahnya kurs rupiah belum terlalu berdampak pada harga properti. Meskipun demikian, psikologi industri tersebut yang sedang merintis masa pemulihan diyakini bakal terganggu.

Hunian

Gangguan terbesar, menurut Ketua Umum Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) Soelaeman Soemawinata, berada pada sektor properti nonsubsidi, terutama kategori hunian. Selain itu, gangguan dirasakan ketika bangunan memiliki kandungan bahan baku impor tinggi.

"Untuk rumah subsidi justru tidak akan terlalu berdampak karena dilindungi berbagai regulasi pemerintah. Untuk rumah nonsubsidi, dampaknya paling terasa karena konsumen menahan pembelian untuk melihat situasi saat ini," ujar Soelaeman saat ditemui di kantornya, Jakarta, Rabu (9/5).

Sinyalemen itu belum terlihat sekarang karena pengembang masih terus membanjiri pasar dengan produk terbarunya. Langkah tersebut dinilai positif oleh Soelaeman yang mengimbau pengembang tidak kendur dalam memperkenalkan produk untuk menimbulkan gairah pasar.

Kekhawatiran pengembang tidak hanya terletak pada harga bahan baku. Masalah lain ialah suku bunga perbankan yang disinyalir akan segera naik begitu Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebagai langkah untuk melindungi nilai tukar rupiah. Di sini, Soelaeman menuntut perbankan memberikan perhatian terhadap nasib pengembang.

"Butuh keberpihakan dan kerja sama semua pihak. Saat suku bunga acuan BI turun, perbankan tidak segera menurunkan bunga, terutama untuk kredit konstruksi. Kalau nanti bunga acuan naik, semoga juga tidak segera dinaikkan. Bunga yang sekarang sudah cukup tinggi juga," tutur pria yang karib disapa Eman itu.

Di sisi lain, Soelaeman melihat nilai tukar rupiah yang melemah berpeluang menarik investor asing masuk ke Indonesia. Ia yang kini juga menjabat Presiden Federasi Realestat Internasional (FIABCI) Asia Pasifik sempat menawarkan kerja sama saat Kongres FIABCI Dunia di Dubai beberapa waktu lalu dan memperoleh sambutan positif.

"Banyak anggota FIABCI tertarik dengan konsep affordable housing (hunian layak) di Indonesia karena digarap melalui kerja sama swasta dengan pemerintah. Di luar negeri, konsep semacam itu dikerjakan pemerintah sepenuhnya," tandasnya.

(Ant/S-4)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More