Tradisi Perekat Silaturahim

Penulis: Siti Retno Wulandari Pada: Minggu, 13 Mei 2018, 15:31 WIB Opini
Tradisi Perekat Silaturahim

KANTONG plastik besar berisi beras, gula, minyak goreng, dan sembako lainnya ditenteng Yahya Andi bersama dengan istri dan anak. Mereka hendak mengunjungi ibunda Yahya untuk memberikan bingkisan serta memohon doa untuk kelancaran beribadah di bulan Ramadan.

Seusai memarkirkan mobil, Yahya segera masuk ke rumah sembari mengucap salam, mencium tangan sang ibu, kemudian diikuti istri juga anaknya.

Permohonan maaf dan permintaan doa agar mendapat rasa tenang lantas diutarakan Yahya kepada ibunda. Doa dan restu pun langsung diucapkan perempuan yang kini berusia 95 tahun itu untuk Yahya dan keluarga.

Tidak ada upacara atau acara yang meriah, pun dengan waktu yang tidak serempak, bergantung pada kebisaan setiap pihak. Intinya, kata Yahya, tradisi masyarakat Betawi bernama nyorog ini merupakan ajang silaturahim.

Nyorog mulai dilakukan satu pekan sebelum berpuasa dan akan kembali tiba menjelang Lebaran, dengan bawaan berupa makanan matang. Saat melakukan nyorog, mereka yang muda wajib mengunjungi yang lebih tua dengan bingkisan yang tidak ditentukan besarannya.

"Sekaligus memohon maaf kepada yang lebih tua meminta doa agar ibadah selama Ramadan penuh ketenangan," kata Yahya saat ditemui di Jakarta, Sabtu (5/5) lalu.

Dalam tradisi nyorog, barang bawaan tidak diatur soal harga dan isinya, sesuai dengan kemampuan ekonomi masing-masing. Terkadang, Yahya bersama kakak-kakaknya urunan uang untuk membantu salah satu adik agar bisa melakukan nyorog kepada orangtua.

Jinjingan yang dibawa untuk orang yang lebih tua bukan sekadar sebagai bentuk penghormatan, melainkan juga memberikan rasa aman dan bisa lebih tenang dalam beribadah. Pembawa bingkisan berharap si penerimanya tidak lagi memikirkan beras, minyak, juga keperluan hidup sehari-hari lainnya saat memulai puasa sebulan lamanya nanti.

Yahya yang juga seniman asal Kampung Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan, itu teringat saat kecil rumahnya selalu dipenuhi bahan-bahan mentah. Salah satunya ikan gabus kering yang menjadi favorit.

Yahya mengatakan tradisi nyorog masih kuat di wilayah selatan, timur, hingga sebagian pusat Jakarta. Sementara itu, untuk wilayah Tangerang, umumnya sudah tidak ditemukan lantaran percampuran dengan pendatang lebih tinggi.

Namun, ada juga sebutan lain yang maknanya serupa dengan nyorog, yaitu meruwahan, berupa acara pengajian untuk mendoakan yang telah tiada serta memohon kelancaran kepada Yang Maha Esa dalam beribadah.

Saat ditanyakan perihal tradisi nyorog yang mulai luntur, Yahya kurang sepakat. Yang terjadi ialah metamorfosis (perubahan), salah satunya dengan alasan kepraktisan.

Jika dulu orang datang dengan tentengan berupa baskom-baskom besar, saat ini yang ditenteng berupa kantong plastik atau amplop kecil. Perubahan ini, imbuh Yahya, sudah dimulai sejak kisaran 2000-an.

"Tidak luntur, hanya berubah secara bentuk material," jelasnya.

Ziarah kubro

Jika masyarakat Betawi melakukan tradisi nyorog, Kota Palembang, Sumatra Selatan, punya tradisi ziarah kubro. Selama tiga hari, sejak 4-6 Mei 2018, ziarah kubro diikuti puluhan ribu peserta dari dalam dan luar negeri dengan pakaian serbaputih yang menyemut di sejumlah titik.

Tempat-tempat yang dituju bersama-sama ialah Permakaman Aulia dan Habib Telaga Sewidak dan As Seggaf, Makam Al Habib Ahmad bin Syekh bin Shahab, dan Al Habib Aqil bin Yahya. Peserta ziarah juga mengunjungi rumah sejarah Sungai Bayas, Permakaman Pangeran Syarif Ali, Permakaman Kesultanan Kawah Tengkurep, dan Permakaman Aulia Kambang Koci.

Selain berziarah, peserta mengikuti haul Ad-dai Ilallah Al Habib Ahmad bin Abdullah Al Habsyi, Al Faqihil Muqqodam Tsani Al Imam Al Habib Abdurahman As Seggaf, haul Al Habib Abdullah bin Idrus Shahab, dan haul Al Habib Abdurahman Al Bin Hamid.

Kegiatan haul dan ziarah kubro merupakan salah satu ritual tahunan untuk berziarah ke makam keluarga ataupun makam para alim ulama yang pernah menyebarkan agama Islam di tanah Sriwijaya.

Panitia Kegiatan Haul dan Ziarah Kubro Ulama dan Aulia Palembang Darusalam, Abdullah Sukri, mengatakan ziarah kubro Palembang terbilang unik jika dibandingkan dengan tradisi sejenis di daerah lain. "Adanya arak-arakan dari satu tempat ke tempat lainnya sehingga makin menyemarakkan acara," kata Abdullah.

Puncak haul dan ziarah kubro ini pada Minggu (6/5) pukul 16.00 WIB. Semua ulama, aliah, serta peserta secara bersama-sama melakukan wisata bahari dengan rute Benteng Kuto Besak, Pulau Kemaro, dan Masjid serta Makam Kiai Merogan Palembang di Kertapati.

Peserta ziarah kubro dikhususkan bagi laki-laki, sementara kaum perempuan bertugas menyediakan makanan. Warga yang tidak ikut ziarah kubro pun antusias. Ada yang merebut menyentuh dan mencium tangan para ulama. Ada pula warga yang menawarkan minuman dan makanan gratis kepada jemaah yang dipercaya akan mendapatkan berkah tersendiri.

"Sebagai umat muslim datang dan mendoakan alim ulama, jadi hal yang baik karena bentuk siar dalam penyebaran agama Islam. Kita juga manfaatkan untuk saling bersilaturahim dan memaafkan," kata Ramdhan Umar, 32, salah satu peserta ziarah kubro.

Berita Terkini

Read More

Poling

BEBERAPA waktu lalu, nama Bung Hatta kembali ramai dibicarakan publik. Berawal dari pernyataan Koordinator Juru Bicara Prabowo Subianto, Dahnil Anzar, di sebuah video yang mengatakan kalau cawapresnya, Sandiaga Uno adalah sosok baru dari Bung Hatta. Hal itu langsung menuai keberatan dari cucu Bung Hatta, Gustika Jusuf Hatta. Sebelumnya, kubu Prabowo-Sandiaga juga sempat menyandingkan nama pahlawan seperti Cut Nyak Dien dan Kartini dengan Ratna Sarumpaet dan Neno Warisman. Setujukah Anda apabila pahlawan dijadikan komoditas politik guna meraih simpati masyarakat?





Berita Populer

Read More