Bersuara melalui Pakaian

Penulis: Wnd/M-3 Pada: Minggu, 13 Mei 2018, 08:30 WIB Humaniora
Bersuara melalui Pakaian

'JANGAN perkeruh situasi, kecuali situasi', 'Bhinneka bukan boneka. Beragam bukan seragam', 'Religi bukan bahan jualan saat pendekatan', serta 'Negeri sedang berproses dan baktimu cuma protes'. Kata-kata itu menarik perhatian orang yang membacanya, tapi bukan pada selembar poster atau selebaran, tapi kaus.

Kata-kata itu merupakan aspirasi yang ingin disampaikan Randhy Prasetya. Sebabnya, ia resah menuangkan isi kepala dan hatinya di laman media sosial lantaran bisa saja disalahartikan. Tercetuslah ide menggunakan media kaus.

"Yang memakai atau membeli pasti sepakat dengan kalimat yang saya buat, dan mereka sadar memiliki tanggung jawab atas kalimat tersebut. Beberapa kali saya bicara cinta, tetapi tidak jarang juga perihal politik dan kondisi yang seakan ingin dipecah belah," kata Randhy saat ditemui di RPTRA Teratai Jakarta, Kamis (10/5).

Dengan mengusung prinsip dewasa dalam berkata, Randhy tetap menjaga idealismenya dengan memilih kalimat yang mudah dibaca, diingat, dan dicerna orang, serta tidak mengikuti arus tren saat ini. "Kami memilih kalimat, siapa pun pemenangnya, saya bukan anaknya. Mendukung siapa pun itu tidak masalah asalkan tidak sampai segitunya, memberi opsi untuk menciptakan kondisi yang lebih adem," jelas pemilik label Yajugaya yang memiliki 300 kata-kata yang dilindungi hak cipta.

Kalimat yang menarik itu pun menjadi alasan Andry H Diyani membeli kaus tersebut. Tanpa memedulikan warna, pria yang mengoleksi kaus sejak SMP itu memiliki 15 kaus berdesain pernyataan yang bermakna. Pun rekan-rekan yang melihat kerap sepakat dengan pernyataan yang sanggat menggambarkan pribadi Andry.

Kini kaus bukan semata pakaian merupakan pernyataan sikap. Terbukti dengan aksi yang terjadi belakangan, mengenakan kaus bertuliskan #2019gantipresiden dan #diasibukkerja. Kaus sebagai medium pernyataan politik sudah berlangsung lama, yaitu sejak 1970-an oleh perancang busana Inggris Vivienne Westwood dan Malcolm McLaren.

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More