Titik tak Terhingga Yayoi Kusama

Penulis: Fathurrozak Pada: Minggu, 13 Mei 2018, 06:20 WIB Weekend
Titik tak Terhingga Yayoi Kusama

AFP/TOSHIFUMI KITAMURA

BUNGA tulip merah setinggi 2,5 meter dengan titik-titik putih yang wewarnai sekitarnya, terlihat mencolok di ruangan itu. Ia bertumpu pada batang hijau melingkar bergaris hitam.

Di sisi kanan kirinya, dua helai daun hijau dengan titik kuning di seluruh helainya menyokong sang bunga tulip. Setangkai bunga tulip, dan dua helai daun itu tertanam rapat dalam wadah pot besar berpolkadot kuning.

Di sudut lain, juga terdapat patung bunga dengan riasan mata. Tertulis tahun karyanya 2016. Bentuk tangkainya tidaklah begitu jelas dan hampir tidak realistis. Namun, komposisi warna yang dimainkan, merah, hijau, kuning, dan biru, serta corak polkadot sama dengan yang melekat pada instalasi patung bunga tulip.

Lebih dalam lagi menyusup ke ruang lain, terdapat karya monumental dengan ukuran 170 cm x 88 cm x 88 cm dengan warna dominan kuning. Sekilas, melihat bentuk yang ada di depan mata ini tampak seperti makhluk angkasa luar dalam film fiksi ilmiah.

Dengan sulur-sulur bercorak polkadot hitam saling melilit dan tumpukan rambut di atasnya, karya ini dinamakan Pollen (1986). Patung lunak interpretasi serbuk sari bunga terbuat dari serat sintesis juga kain. Betapa dari ketiga karya baik dari yang lama (1986) juga dengan karya terbaru (2016) masih membicarakan tema sama.

Selain bunga, labu juga mengambil sisi sentral pada sederet karya seniman asal Jepang, Yayoi Kusama, yang kini berusia 89 tahun. Ini tak terlepas dari lingkungan semasa kecilnya yang besar di tengah keluarga dan lingkungan perkebunan benih.

Seperti pada karya The Spirits of the Pumpkins Descended Into the Heaven (Roh-roh Labu Turun ke Surga), karya instalasi yang dibuat pada 2015 itu memperlihatkan ruangan besar berwarna kuning dengan polkadot hitam.

Di tengah ruangan itu terdapat kubus kaca, dan kita bisa mengintip pada salah satu rongganya, untuk melihat ke dalam ruang kaca. Di situlah kita menjumpai kesemestaan tak berhingga titik yang tiba-tiba mengingatkan kita pada sosok-sosok labu.

Keluarga Kusama, menanam labu yang kelak menjadi penting saat masa-masa Jepang dalam krisis perang dunia, labulah penyelamat pangan.

Namun, di balik warna-warna terang cerah nan menyenangkan itu, menyimpan luka Kusama yang tersemai sejak ia berusia 10 tahun, titik saat ia memulai berkarya, juga mulai muncul titik dalam kehidupannya. Kusama kecil mengalami halusinasi dengan banyak visual polkadot dalam kepalanya.

Di tangan Kusama, labu-labu juga bunga-bunga itu mampu berdialog satu sama lain. Pemikiran dan halusinasi itu kemudian Kusama salurkan pada bidang visual.

Lewat karya-karyanya, seniman yang nyentrik dengan dandanan rambut palsu berwarna merah menyala itu ingin penikmat karyanya turut merasakan apa yang ia rasa dan ia lihat.

Seri Infinity Nets (jaring tak berhingga) secara konsisten juga mengisi ruang kreatif Kusama sejak 1950-an hingga kini. Goresan tidak teratur, tekstur cat tebal dan tipis, juga kenihilan titik sentral, menjadikan jaring-jaring ini sebagai sulaman meditatif.

Karya-karya Kusama ini akan dipamerkan di Museum Macan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, pada Mei hingga September mendatang, dalam rangkaian pameran survei bertajuk Yayoi Kusama: Life is the Heart of a Rainbow.

Direktur Museum Macan, Aaron Seeto, menjelaskan, Indonesia menjadi negara ketiga sekaligus terakhir dalam seri pameran ini, setelah sebelumnya dipamerkan juga di National Gallery Singapore dan Queensland Art Gallery.

Menurut asisten kurator Museum Macan, Asri Winata, tujuan hidup Kusama ialah berkesenian dan ia telah berhasil mencapainya. Kusama telah menjadi salah satu ikon seni kontemporer abad ke-21 dan telah berkarier sepanjang lebih dari tujuh dekade. Pada 2017, Kusama membuka Yayoi Kusama Museum di Tokyo, Jepang.

"Tujuan hidupnya memang ingin berkarya. Dia ingin jadi seniman, sampai pada akhirnya selama hidupnya dia mencari sesuatu yang tidak ada, tetapi dia bilang kini sudah melihat apa yang ia cari. Ia konsisten berkarya hingga detik ini," kata Asri.

Kosmos
Selain polkadot dan jaring, Kusama lekat dengan konsep ketidakterbatasan ruang. Ia bermain-main dengan cahaya, juga cermin.

Dalam salah satu karya berbasis ruang kaca tak berbatas, misalnya I Want to Love on the Festival Night (2017), Kusama mungkin mengizinkan kita untuk sedikit saja mengintip pada semesta kosmosnya lewat kerlap-kerlip lampu. Namun, bisa jadi ia sedang memberi tahu kita bahwa kita juga ialah titik-titik kecil bagian dari kosmos dan semesta planet bintang tak berhingga itu, yang kemudian akan menjumpai ketiadaan.

Seni ialah cermin refleksi seniman untuk pemirsanya. Kita mungkin akan merasakan euforia dalam warna-warna pastel Kusama, tetapi juga merasakan kepanikan, saat kita mencoba memasuki ruang karya instalasinya yang bermain dengan cahaya dan cermin atau merasa geli pada beberapa patung-patung lunaknya.

Kusama tak pernah ingin berhenti berkesenian sebab kesenian telah menyelamatkan hidupnya sejak berpuluh tahun lalu dari kematian. "Di usianya sekarang ini, dia menyadari bahwa kematian tidaklah lagi menakutkan, tapi sebagai perpindahan ruang saja, seperti berpindah ke kamar sebelah," beber Asri.

Pada karya Life is the Heart of a Rainbow (2017) yang dibuatnya, sambung Asri, Kusama seolah mendeklarasikan bahwa tujuan hidupnya ialah membuat karya yang membuatnya tidak lagi takut dengan kematian. "Tetapi membuat kekaryaan yang bisa memahami kematian, dan saya rasa dia sudah menemukan jawaban itu, lewat Life is the Heart of a Rainbow."

Ya, repetisi Kusama ialah upayanya bertahan hidup lewat 'seni obat'nya. Membacai karya-karya Kusama ialah membacai perjuangan dirinya bertahan hidup.

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More