Tenun yang Menolak Tua

Penulis: Suryani Wandari Pada: Minggu, 13 Mei 2018, 05:05 WIB Pesona
Tenun yang Menolak Tua

DOK JAKARTA FASHION AND

SET busana berupa rok vinyl kuning transparan dengan kaus berlengan ekstra panjang serta jaket crop berumbai jadi salah satu daya kejut di koleksi baru Rama Dauhan. Set busana itu menyiratkan segala gaya yang kekinian, muda, dan tidak biasa layaknya melihat gaya busana eksperimental selebritas dunia, macam Rihanna.

Sebabnya, sulit menemukan benang merah tema tenun yang diangkat dalam rangkaian peragaan di Jakarta Fashion and Food Festival 2018 tersebut. Namun, inilah eksplorasi makin luas Rama dalam berkarya menggunakan kain adati itu.

Desainer yang memang dikenal dengan garis busana yang muda dan edgy ini nyatanya tetap memasukkan tenun. Namun, pada kali ini itu sebagai aplikasi ataupun aksen dalam bentuk rumbai. Kemudian ada pula tenun sebagai aplikasi berbentuk swastika dan ada pula yang diterapkan sebagai motif pada kain dengan dipadukan bersama motif tumbuhan. Namun, tentu saja motif swastika yang diterapkan jauh dari kesan swastika yang dipakai ideologi kelam yang mendorong perang Dunia II.

Rama merujuk pada motif swastika dari Jawa Tengah. Ia pun menggunakan nuansa warna abu kecokelatan dan biru tua. Itu seperti terlihat pada padanan kemeja semi kimono yang dihiasi lagi dengan aplikasi bunga-bunga dari bahan vinyl.

Rama menjelaskan koleksi yang bertajuk Sawala itu memang mendobrak citra wastra tenun yang terkesan tua dan tradisional. "Sawala dalam bahasa Sanskerta berarti menolak. Bukan berarti menolak budaya, tapi menolak dianggap tua. Sawala memberikan pilihan untuk mengeksplorasi gaya sporty, unik, dan tidak biasa," ucap Rama sebelum peragaan busana yang berlangsung di Harris Hotel Kelapa Gading, Jakarta Selasa (24/4).

Dobrakan itu diwujudkan Rama dalam keseluruhan busananya. Misalnya pada set lain ia lebih bermain manipulasi motif tenun. Yakni berupa garis patahan di beberapa bagian. Ia hanya memakai sedikit kain tenun sebagai detail tambahan berupa ikat pinggang hingga ban pada celana.

Seperti pada busana jump suit bercelana capri, misalnya, Rama menyisipkan motif tenun dengan teknik bordir bagian lengan kiri. Ada pula motif tenun yang dipasangkan pada satu sisi rumah kancing.

Oversize
Kesan sporty , nuansa street style, bukan hanya diusung Rama Dauhan. Setidaknya dari enam desainer yang kala itu tampil bersama Cita Tenun Indonesia (CTI) ada Danjyo Hiyoji yang berkonsep sama. Bedanya, merek yang digawangi Dana Maulana dan Liza Mashita ini mengombinasikan tenun cual dan songket dari Sambas, Kalimantan Barat, pada delapan busana pria dewasa.

Dana menyebut tema yang diusungnya kali itu bernama Fragmen, yang berarti pecahan. "Pecahan ini maksudnya potongan tenun cual dan songket sambas disatukan dan menjadi busana yang eye catching ," ungkapnya.

Seperti pada salah satu koleksi berpotongan jump suit pendek, tenun cual dan songket beragam warna itu disatukan di bagian dada, ada pula penyisipan tenun pada kemeja katun berwarna putih. Bahkan terdapat celana gombroh bermotif tenun yang dipadukan dengan kemeja asimetris yang tegas sehingga bisa digunakan acara santai maupun resmi.

Palet warna sendiri terdiri atas biru laut, hijau zaitun, fuschia, dan putih. Bagi Dana, Fragmen menjadi bagian dari karakter muda dan maskulin. Lewat Fragmen, Danjyo Hiyoji merangkul kebanggaan kain Indonesia dan menuangkannya dengan karakter yang ceria dan berani.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More