Batang, Harmoni Teh dan Lumba- Lumba

Penulis: Ardi Teristi Hardi/(M-1) Pada: Minggu, 13 Mei 2018, 04:20 WIB Travelista
Batang, Harmoni Teh dan Lumba- Lumba

MI/ARDI TERISTI HADI

MATAHARI pagi ini terlihat cerah ketika kami (rombongan jurnalis) yang diajak Kementerian Pariwisata melakukan media trip, hendak melakukan jelajah kebun teh. Memang jam sudah menunjuk sekitar pukul 6.30 WIB, tapi kabut tipis masih terlihat sejauh mata memandang.

Walau semalaman sudah beradaptasi, udara dingin pun masih kami rasakan. Wajar saja, kami berada di ketinggian sekitar 900 di atas permukaan laut. Udara segar dengan panorama hamparan tanaman teh dan keindahan Gunung Kamulyan dari kejauhan membuat suasana pagi ini terasa membahagiakan.

Jelajah kebun teh Pagilaran

Rencananya, jelajah kebun teh akan dilakukan dengan berjalan kaki yang menempuh jarak beberapa kilometer. Namun, rencana itu urung dilakukan karena terbatasnya waktu kami dan masih banyak objek-objek wisata yang harus dikunjungi. Akhirnya, jelajah kebun teh pun dilakukan menggunakan truk.

Truk pun mulai berjalan menuju zona inti perkebunan teh milik PT Pagilaran. Jalanan yang masih bebatuan, sempit, dan banyak tikungan membuat laju truk tidak bisa kencang, mungkin kecepatannya di bawah 10 kilometer perjam saja.

Beberapa kali truk yang kami tumpangi berhenti untuk melihat aktivitas petani memetik pucuk teh. Di kebun teh bagian bawah, para pemetik tehnya mayoritas ialah laki-laki dengan menggunakan gunting pemotong. Di bagian atas, untuk teh dengan kualitas terbaik, pucuk daun teh dipetik oleh perempuan secara manual dengan menggunakan tangan.

Setelah perjalanan sekitar satu setengah jam, truk berhenti di lokasi pembibitan teh. Kami masih harus berjalan kaki sekitar 500 meter melewati kebun teh dan jembatan gantung untuk menuju lokasi makan pagi. Segelas teh hangat produksi Pagilaran pun sudah siap untuk dinikmati sembari melepas penat.

Kebun teh Pagilaran merupakan kebun teh yang sudah berumur ratusan tahun, yakni sekitar 1899, tepatnya dibangun warga negara Belanda bernama E Blink. Setelah mengalami pasang surut pada masa penjajahan dan berpindah-pindah tangan, pada 1964 melalui Surat Keputusan Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pemgetahuan (PTIP), Prof Ir Toyib Hadiwijaya perkebunan diserahkan kepada Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk dijadikan sarana pendidikan dan penelitian mahasiswa.

Selama dimiliki UGM, kebun teh ini memang lebih fokus pada penelitian dan produksi teh, tidak hanya untuk pangsar domestik, tetapi juga untuk pasar internasional. Seiring perjalanan waktu, PT Pagilaran kini mulai serius untuk mengangkat potensi wisata di kawasan perkebunan teh, tetapi tanpa mengganggu produksi teh.

Direktur Utama PT Pagilaran, Rahmat Gunadi menjelaskan, kebun teh ini seluas 1.130 hektare yang berada di ketinggian 900-1.600 di atas permukaan laut. Sejak 2008, teh produksi Pagilaran menduduki peringkat kedua teh yang diekspor. Sebagian besar teh produksi Pagilaran memang untuk pasar ekspor dengan perbandingan 70:30.

Sekitar enam bulan terakhir, Pagilaran kembali serius dalam pemanfaatan sebagian areanya untuk pariwisata setelah mereka yakin pariwisata tidak mengganggu produksi teh.

"Dilema perkebunan teh ada agrowisata adalah kebersihan. Ketika banyak orang datang, akan banyak sampah," kata dia. Pasalnya, kebersihan dan sanitasi menjadi salah satu syarat penting agar saat audit teh produksi Pagilaran tetap dinyatakan layak ekspor.

Untuk menjaga kebersihan, pihaknya akan membangun tempat-tempat khusus bagi pedagang agar tetap bersih dan tertib. Selain itu, ada area khusus yang bisa digunakan bagi wisatawan untuk melihat produksi teh, tetapi tanpa mengganggu proses produksi.

Unggulan wisata di Pagilaran mulai air terjun, panorama matahari terbit, adventure, museum teh, karnaval, agrowisata teh, ekosistem perkebunan teh, jalan kaki sampai bersepeda di kawasan kebun teh. Penginapan dan home stay pun sudah ada.

Ke depan akan dibuat objek-objek pendukung, mulai taman bunga, adventure, museum teh akan diperbaiki, camping akan diubah konsep ke glamping, hingga perbaikan kereta gantung dari puncak ke bawah.

Pelesir Batang
Perkebunan teh Pagilaran hanyalah satu dari sekian banyak objek wisata di Kabupaten Batang yang tengah dikembangkan. Selama tiga hari, para jurnalis dan dari Kementerian Pariwisata pun menjelajah ke berbagai objek wisata yang ada, dari Batang Dolphin Center, Pantai Cemara Sewu dan Ujungnegoro, Sikembang Park, Desa Pandansari, Curug Gombong, dan Sikuping.

Di Batang Dolphin Center, selain lumba-lumba, wisatawan bisa menyaksikan aneka satwa lainnya, dari dalam negeri maupun luar negeri, dari aneka reptil hingga hewan-hewan besar, seperti gajah dan kuda nil. Total ada 42 jenis satwa.

Area wisata yang merupakan bagian dari Taman Safari Indonesia ini mulai dibangun pada Juli 2007 di pinggir Pantai Sigandu. Berada di atas lahan seluas kira-kira 15 hektare, TSI menjadi salah satu objek wisata edukasi andalan di Kabupaten Batang.

Sensasi terasi
Batang juga memiliki hamparan pantai yang indah. Salah satu spot terbaik untuk menikmati matahari tenggelam ialah di Pantai Ujungnegoro. Di pantai ini wisatawan juga bisa membeli terasi lokal.

Proses pembuatan terasi bisa disaksikan langsung. Pasalnya, selain menjual terasi yang sudah jadi, mereka juga membuatnya langsung di lokasi.

Jika sudah lelah berwisata di pantai, ada baiknya mengunjungi area perbukitan di Batang. Banyak potensi wisata alam yang menarik, dari hutan pinus di Sikembang, air terjun di Curug Gombong, river tubing di Pandansari, hingga area paralayang di Sikuping.

Biaya wisata di Batang relatif masih terjangkau. River tubing sejauh 8 kilometer hanya 500 ribu persepuluh orang, sedangkan paralayang Rp400 ribu sekali terbang tandem.

Butuh tiga hari
Tiga hari tidak cukup untuk mengeksplorasi beragam objek wisata di kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Tengah ini. Belum lagi jika mengunjungi lokasi-lokasi kuliner, seperti Lontong Lemprak, Serabi Kali Beluk, ataupun sentra pembuatan emping belinjo di Kecamatan Limpung.

Bahkan, Bupati Batang, Wihaji, menyebut tiga hari tidak cukup untuk mengunjungi semua objek wisata air terjun yang ada di Batang. Ia berjanji, akan menggiatkan sektor pariwisata. Jenis wisata yang ditonjolkan ialah wisata alam dan budaya yang unik dan alamiah.

"Saat ini, akses destinasi memang cukup terbatas, tetapi ke depan akan terus kami bangun," kata dia.

Potensi wisata di Kabupaten Batang semakin terbuka setelah dibangunnya tol di sepanjang Pantura. Waktu tempuh dengan mobil dari Cikampek ke Batang kini hanya sekitar 4 jam, sedangkan dari Semarang kurang dari dua jam.

Pihaknya juga akan mengusulkan ke Kementerian Perhubungan agar stasiun kereta api di Kabupaten Batang bisa lebih diaktifkan. Dengan demikian, wisatawan yang hendak berkunjung ke Batang bisa pula berhenti di Stasiun Batang, bukan di Stasiun Pekalongan seperti saat ini.

Dengan demikian, Batang akan lebih dikenal dengan objek-objek wisatanya, tidak hanya Alas Robannya. Wisatawan paling tidak bisa berwisata di Batang minimal dua hari.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More