Merayakan Indahnya Uis di Panggung Fesyen

Penulis: Iis Zatnika Pada: Minggu, 13 Mei 2018, 03:30 WIB Weekend
Merayakan Indahnya Uis di Panggung Fesyen

DOK PRIBADI

MAYENDA Pebri Dita Purba membuktikan itu. Ia yang mengaku tak terlalu berbakat, bermodal ketekunan bisa meraih aneka pencapaian di kompetisi desain fesyen.

Dita mengingatkan, di balik panggung dan kerennya baju-baju di kapstok, ada proses belajar dan uji mental. Belajar mendesain dan menjahit dari nol, hingga harus menggambar sketsa badan, wajah, dan mata berulang-ulang, alumnus LaSalle College Jakarta itu menjawab Muda, setelah kesibukannya mereda seusai Creative Show yang digelar kampusnya, Jumat (13/4).

Ceritakan dong bagaimana kamu bisa jadi juara 1 di Indonesia Young Fashion Designer Competition (IYFDC) 2018 pada rangkaian Indonesia Fashion Week (IFW), April lalu?

Pada Desember 2017, pihak kampus sudah mengumumkan ada lomba ini. Aku pun mendaftar, temanya disesuaikan dengan koleksi yang aku garap untuk tugas akhir, memadukan kain tenun untuk baju siap pakai atau ready to wear. Namun, pada perjalanannya aku harus mendesain ulang khusus untuk kompetisi ini. Pada tahap penyisihan, yang masih mengadu sketsa, ada dari 200 lebih desain yang masuk, terpilih 30 besar. Aku masih sebagai salah satu 30 besar itu dan diwajibkan mewujudkan desain dalam bentuk baju. Pada saringan berikutnya, ada 21 yang tersaring kembali di tahap final, hingga akhirnya aku terpilih jadi juara ke-1. Dalam lomba ini ada enam desain yang diajukan dan tiga desain yang kemudian diwujudkan dalam bentuk baju.

Tenun apa yang jadi jagoan kamu dalam kompetisi ini?

Aku membawa tenun dari Tanah Karo Sumatra Utara, kampung halamanku. Inspirasi utamanya dari Uis, yang dalam bahasa Karo, artinya kain. Selama ini yang lebih terkenal dari tanah Batak ulos, kain tenun asal Batak Toba. Selain daerah asalnya, keduanya juga punya karakter berbeda. Uis itu warna dasarnya didominasi merah, dengan campuran benang emas dan hitam. Sepintas, motifnya mirip dengan ulos sih. Yang pasti, ada tulisan majuah-juah, yang berarti selamat datang, sedangkan ulos, warna dasar kainnya hitam, benangnya bukan emas, dengan tulisan yang dibubuhkan, horas.

Bagaimana kamu menampilkan kain tenun tradisional itu dalam desain baju siap pakai?

Aku memilih untuk menggunakan Uis sebagai bahan utama, tetapi dengan gaya yang modern. Desain aku, walaupun buat perempuan, tapi enggak terlalu feminin. Jadi, kesan yang yang dimunculkan, pemakai baju aku itu perempuan yang percaya diri, powerful, tegar, dan kuat. Aku yakin dengan desain yang pas, Uis bisa tampil sebagai baju sehari-hari. Saat mendesain, aku mencari inspirasi dari desainer luar dan dalam negeri, salah satunya Oscar Lawalata. Ciri khas desain aku, pada teknik potong atau cutting yang lurus, rapi tapi berkesan mewah. Jadi, tema besarnya, clean dan bermain cutting.

Apa saja hadiah yang kamu dapat?

Ada uang tunai Rp100 juta serta beasiswa sekolah mode di Italia, nama sekolahnya KOEFIA (International Academy of Haute Couture and Art of Costume) di Roma, Italia, selama 1 tahun.

Tantangan yang harus kamu hadapi saat mendesain buat lomba ini?

Mungkin saat proses membuat voil emas, jadi ada bahan tafeta silk, yang lalu kita buat dari voil dari cat emas. Itu aku lakukan manual, selama tiga hari, memakai sikat dan lem.

Seberapa banyak komposisi penggunaan Uis pada karya-karya kamu?

Dengan bahan Uis yang masing-masing 3 meter, aku memakainya sebagai komposisi utama hingga 80%, tetapi ada pula yang hanya 40% atau 30%. Aku memang suka mengeksplorasi kain-kain lokal, apalagi jenis yang orang-orang belum tahu. Uis selama ini kan lebih banyak dipakai sebagai rok atau selendang, jika ingin dijadikan baju memang harus dikombinasikan dengan kain lain agar tidak terasa panas, belum lagi harganya juga mahal. Uis itu per lembar rata-rata Rp1,2 juta, dengan ukuran 2 x 1 meter.

Butuh berapa lama untuk mengerjakan baju-baju itu?

Sekitar 2 minggu, lumayan padat juga karena semua dijahit sendiri dan memang di rumah aku punya mesin.

Apa mesin jahit favoritmu?

Ya, yang selama ini jadi perlengkapan aku belajar di LaSalle, mesin jahit portabel yang bisa dibawa-bawa dengan mudah, tanpa ada meja khusus. Mereknya Janome, keistimewaannya, dia bisa jahit bahan yang tebal dan tipis, harganya sekitar Rp2,3 juta. Mesin itu yang mendampingi aku selama ngekos.

Dalam seluruh proses kerja bisnis ini, tahapan mana yang paling kamu suka?

Kami diajari mulai bikin sketsa, membuat pola, memotong kain, hingga menjahit. Diajari dari awal hingga akhir prosesnya, tapi yang paling aku suka, menjahit dan membuat pola. Aku sengaja menguatkan keterampilan menjahit supaya di tingkat teknis, kita bisa tahu betul detail proses produksi.

Kalau dalam proses belajar sih, biasanya dari sketsa, kita belajar mewarnai, dari situ terbayang detailnya. Lalu, membuat pola, dan sampel dari bahan blacu hingga akhirnya dijahit pada bahan yang asli.

Pernah ikut kompetisi lainnya?

Aku juga pernah jadi finalis Next Young Promising Designer Jakarta Food and Fashion Festival (JF3) 2017. Di sana, aku masuk hingga tahap 10 besar dengan menampilkan kain tenun NTT. Dengan ikut lomba-lomba, aku merasa bisa optimal mengembangkan kreativitas.

Bagaimana dengan sekolah kamu?

Aku lulus dari LaSalle College Jakarta pada April kemarin dan pada Cretive Show bertema Nian Tana, aku menampilkan 4 desain atau look, termasuk yang menggunakan Uis itu, ada yang panjang bahannya hingga 5 meter.

Aktivitas kamu sekarang?

Aku buka brand Briel bersama satu kawanku, teman kampus. Kami melayani produksi baju custome made, kebanyakan berdesain kebaya dan gaun wedding. Aku fokus ke produksi, penjahitan, dan kawan ke bidang bisnisnya.

Apa sih yang dimaksud custome made ini?

Jadi, desainnya bisa berasal ada ide dari klien, lalu dipadukan dengan masukan dari kami. Kami sengaja pilih pendekatan ini untuk belajar banyak dari interaksi dengan klien, juga dari pengalaman orang lain. Kami buka usaha Briel mulai pertengahan Januari lalu, pemasarannya sih baru dari mulut ke mulut, sudah ada 20 klien yang kami tangani. bahan yang digunakan brokat juga ulos. Harganya mulai Rp800 ribu hingga Rp3 juta.

Apa bedanya kamu menjadi desainer dan merilis produkmu sendiri dengan merintis bisnis custome made?

Kalau custome made, tantangannya meghadapi klien yang komplain, kalau mereka puas, itu kebahagiaan tersendiri. Kalau soal idealisme di bisnis custome made ini, kami kan dapat duit dari klien, jadi ya memang karakter bisnisnya seperti ini dan kita tetap bisa memberikan masukan juga kok.

Mendengar cerita kamu sepertinya dunia desainer itu tak melulu soal glamor ya?

Iya, di kampus ku, kami kadang harus begadang, terutama jika mengerjakan tugas akhir semester. Mata kuliahnya lengkap dan banyak banget. Jadi, di balik baju-baju yang bagus itu ada kerja keras. Belajar mode juga harus cepat karena ada tren dari dalam dan luar negeri dan kita harus pintar-pintar menerjemahkannya dalam karya.

Ceritakan dong tentang masa magang dan kunjungan lapangan kamu?

Saat magang wajib dari kampus, aku belajar dan praktik di Auguste Soesastro. Aku belajar tentang detail karena jaket pun dibuat pakai tangan, bahannya dari kasmir. Jadi, lebih paham tentang teknik yang lebih sleek, rapi, sehingga kesannya simpel tapi gaya. Selain itu, kami juga belajar langsung dari lapangan. Angkatan aku jalan ke wilayah Sapa di Vietnam yang punya tradisi tenun, di sana warnanya lebih pop. Namun, kalau dibandingkan dengan Indonesia, kita lebih juara tentunya! (M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More