Riza Marlon Perkenalkan Satwa Liar lewat Foto

Penulis: Rizky Noor Alam Pada: Sabtu, 12 Mei 2018, 04:20 WIB Humaniora
Riza Marlon Perkenalkan Satwa Liar lewat Foto

MI/SUMARYANTO BRONTO

SUDAH hampir 28 tahun Riza Marlon menekuni profesi sebagai fotografer satwa liar. Dirinya menyebut apa yang dilakukannya sebagai upaya konservasi hutan melalui fotografi. Pria yang memiliki latar belakang pendidikan Biologi di Universitas Nasional, Jakarta, tersebut pun merangkum hasil-hasil karyanya menjadi sebuah buku agar masyarakat umum dapat mengetahui dan mempelajari keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia.

"Kita harus bangga mempunyai keanekaragaman hayati yang paling kaya nomor 2 di dunia," ungkap pria yang akrab dipanggil Caca tersebut.

Caca mencontohkan, rakyat Indonesia seharusnya bangga karena Indonesia memiliki spesies primata tarsius paling banyak di dunia, yakni 10 spesies di Sulawesi dan 2 spesies di luar Sulawesi.

"Masih banyak orang yang belum kenal tarsius. Maka dari itu, saya jadikan tarsius sebagai kover buku saya. Mereka tinggal di hutan. Rumah satwa liar adalah hutan. Jadi, kalau hutan tidak ada maka dia tidak punya rumah," imbuhnya.

Bagi suami Hendriati Rauwita Patty ini, semua hasil jepretannya memiliki keunikan dan berharga baginya. Sebabnya, semua satwa yang diabadikannya merupakan satwa-satwa endemis Indonesia, terutama wilayah tengah karena tidak ada di belahan dunia manapun.

"Konservasi bukan hanya dilakukan pemerintah maupun NGO masyarakat juga harus ikut terlibat karena ini pekerjaan yang berat," kata Caca.

Waktu
Menjadi fotografer wild life butuh waktu ekstra pasalnya tidak hanya mengandalkan keahlian dalam mengambil gambar, tapi juga waktu dan tenaga yang banyak sehingga bapak dua anak ini tidak bisa mengerjakan pekerjaannya berdampingan dengan pekerjaan lain.

Bahkan, dirinya pun rela mengeluarkan dana dari kantong pribadi untuk menjalankan proyek konservasi fotografinya tersebut.

Pria yang memutuskan berkonsentrasi pada satwa liar pada 1991 itu pergi ke Indonesia bagian timur berbekal kamera analog dengan membawa 10-20 rol film berisi 36. Dananya saat itu belum sebanyak saat ini. Kala itu ia berangkat menggunakan kapal laut.

Namun, mengabadikan foto satwa itu tidak mudah. Berbagai tantangan dihadapi pria kelahiran Jakarta, 12 Januari 1960 itu, seperti sulitnya mendapatkan informasi yang tepat akan keberadaan satwa tersebut dan ongkos yang dibutuhkan serta siapa orang yang dapat mengantarnya menemukan satwa tersebut. Oleh karena itu, diperlukan riset mendalam terlebih dahulu sebelum dirinya terjun ke lapangan.

"Butuh komitmen jangka panjang dalam menekuni profesi ini karena laju kerusakan hutan lebih cepat daripada dokumentasi yang dilakukan. Program saya mengenalkan satwa Indonesia agar masyarakat kenal dan kemudian sayang dan peduli. Dengan peduli mereka bisa melakukan apa saja (untuk melindungi)," pungkasnya.

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More