Pelajaran dari Terorisme di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok

Penulis: Al Chaidar Departemen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Aceh Pada: Sabtu, 12 Mei 2018, 01:20 WIB Opini
Pelajaran dari Terorisme di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok

tiyok

KERUSUHAN yang terjadi di Mako Brimob (Markas Komando Brigade Mobil) Kepolisian Republik Indonesia pada Selasa, (8/5) malam sudah berakhir pada Kamis (10/5) pagi. Para narapidana teroris yang ditahan di rutan (rumah tahanan) yang memiliki supermaximum security tersebut mengejutkan banyak pihak. Publik bertanya-tanya bagaimana bisa tahanan di Blok C yang jumlahnya hanya 48 orang itu bisa merebut senjata dan menyandera polisi.

Para narapidana teroris kemudian malah semakin mendapat angin setelah mampu merebut gudang persenjataan dan amunisi di markas penjaga keamanan republik ini. Mereka berhasil merebut 35 pucuk senjata.

Mental para napi teroris tersebut semakin meningkat setelah berhasil menguasai blok lain tahanan teroris sehingga semuanya berjumlah 156 napi bersatu dan menyatakan baiat (sumpah setia) ke IS (Islamic State Negara Islam) melalui rekaman media sosial.
Mereka menyatakan akan bertempur hingga tetes darah penghabisan dan berharap para pejuang di luar rutan Mako Brimob segera bergaung dan meramaikan pertempuran yang sangat mendadak tersebut. Dunia pergerakan Islam radikal semakin dikejutkan dengan kemajuan yang dapat dicapai oleh para napi teroris ini.

Semua tokoh pergerakan memprediksikan terjadinya revolusi jihad dan Indonesia akan memasuki babak perang yang lebih dahsyat seperti yang terjadi di Suriah dan Irak. Namun, ternyata, perjuangan yang revolusioner ini berakhir dengan antiklimaks. Para napi teroris tersebut menyerah.

Seseorang yang kembali melakukan aksi terorisme setelah ia keluar dari penjara dinilai sebagai kegagalan program deradikalisasi yang dilakukan pemerintah. Program deradikalisasi yang hingga sekarang ini masih dijalankan tidak memiliki konsep yang jelas. Saat ini Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Agama, Badan Nasional Pemberantasan Terorisme (BNPT), dan Badan Intelijen Negara (BIN) masih menggunakan konsep deradikalisasi sebagai program rehabilitasi nonklinis bagi pelaku-pelaku terorisme di Indonesia. Namun, program tersebut tidak terpadu satu sama lain dan tidak berasal dari theory making process yang akademik sehingga gagal diterapkan di lapangan.

Kontrawacana
Sebagai ganti program deradikalisasi, perlu dilakukan program kontrawacana. Program kontrawacana (counter-discourse) adalah program yang berusaha menciptakan a way of thinking that opposes an institutionalized discourse.

Selama ini wacana kaum fundamentalis, kaum radikal, hingga kelompok-kelompok teroris sudah terlembaga sedemikian rupa di Indonesia melalui proses yang panjang dalam sejarah sosial politik negeri ini. Teka-teki yang muncul, atas motif apakah yang mendasari makin maraknya kaum profesional yang berkecukupan tergiur untuk menjadi tentara IS. IS adalah pintu gerbang untuk memasuki surga yang diidam-idamkan setiap muslim millenarian.  

Konsep Laffan (2003) tentang spirit bela negara dalam komunitas Islam ini begitu membahana dan setidaknya menjadi ketertarikan politik bagi gerakan-gerakan radikal, seperti MIT, JAD, dan JAT yang berafiliasi dengan IS. Ideologi Islamic nationhood ini memengaruhi banyak gerakan-gerakan radikal dan teroris di berbagai belahan dunia. Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Poso segera menyatakan dukungan terhadap gerakan teror di Mako Brimob Depok dan meminta agar JAD tidak menyerah dan tidak bernegosiasi.

JAD adalah organisasi gerakan radikal organik Indonesia. Setiap gerakan sosial selalu membutuhkan intelektual organik (Gramsci, 1971). Aman Abdurrahman ialah intelektual organik kalangan muslim radikal yang pernah menjadi mahasiswa atau santri di Pondok Darussalam LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) Jakarta, yang merupakan cabang Universitas Muhammmad Ibnu Su’ud di Riyadh, Arab Saudi, selama 7 tahun.

Intelektual dan ideologi organik
Antonio Gramsci (1971: 55) melihat pentingnya kehendak dan tekad revolusioner itu ada dalam hati sanubari proletariat atau kaum mustad'afin untuk menumbangkan kekuasaan kaum borjuasi yang telah merasuk dalam semua dimensi kehidupan masyarakat.
Oleh karena itu, diperlukan kelompok intelektual dan partai revolusioner untuk mewujudkan cita-cita kaumnya untuk terbebas dari belenggu imperialisme, kolonialisme, kapitalisme, sekularisme, (neo)liberalisme, dan demokrasi.  

Intelektual organik yang konsisten akan dijadikan sebagai referen yang otoritatif dalam gerakan sosial radikal revolusioner. Aktivitas radikal ini rupanya tercium tak hanya oleh kelompok radikal Indonesia, bahkan ia pun dilirik kelompok militan dari luar negeri. Setiap gerakan sosial selalu membutuhkan ideologi organik (Gramsci, 1971).      

Gramsci beranggapan bahwa ideologi harus menjadi sebuah kesadaran kolektif serta ideologi yang baik adalah ketika mampu mengakomodasikan kepentingan kelompok-kelompok lain serta bisa menarik kelompok lain ke dalam kelompok inti yang menggerakkan revolusi.  
Kelompok teroris yang berada di bawah kepemimpinan Aman Abdurrahman ini berhaluan ideologi Wahabi yang sangat tekstual, literal, dan cenderung sangat skriptural. Wahabi terbagi menjadi tiga bagian: (1) Wahabi shururi; (2) Wahabi jihadi, dan (3) Wahabi takfiri. Kelompok takfiri ini menganut sistem pembedaan dengan cara mengafirkan sesama muslim. Bahkan, yang sesama Wahabi pun saling mengafirkan. Ideologi Wahabi takfiri inilah yang menjadi ideologi organik gerakan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) yang dipimpin Aman Abdurrahman (Al Chaidar, 2015).

Ideologi organik yang dianut dan dijadikan basis pergerakan JAD ini ialah ideologi takfiri yang sangat eksklusif dan cenderung menafikan dukungan sesama muslim. Takfiri ialah sebutan bagi seorang muslim yang menuduh muslim lainnya (atau kadang juga mencakup penganut ajaran agama samawi lain) sebagai kafir dan murtad.

Ideologi ini sangat tidak mendukung gerakan revolusioner karena menolak partisipasi dari dan akomodasi bagi kelompok-kelompok lain. Bahkan kelompok lain, dalam pandangan takfiri, dianggap sebagai tertuduh yang bidah, kafir, zalim, fasik, dan bahkan murtad. Tuduhan itu sendiri disebut takfir, berasal dari kata kafir (kaum tidak beriman), dan disebutkan Gilles Keppel (2002: 31) sebagai takfir ditujukan kepada ‘orang yang mengaku seorang muslim, tetapi dinyatakan tidak murni Islamnya dan diragukan keimanannya’.

Tindakan menuduh muslim lain sebagai ‘kafir’ telah menjadi suatu bentuk penghinaan sektarian, yaitu seorang muslim menuduh muslim sekte atau aliran lainnya sebagai kafir. Tindak kekerasan yang berawal dari tuduhan mengafirkan muslim lain kian marak dengan merebaknya ketegangan antara Sunni dan Syiah di Timur Tengah. Khususnya setelah pecahnya perang saudara di Irak dan Suriah pada 2011.  

Kini setelah menyerahnya gerakan perampasan senjata dan penyanderaan polisi di markas Brimob, Kelapa Dua, Depok, ideologi ini dianggap sebagai biang kerok yang melemahkan semangat jihad dan di tangan kaum Khawarij, takfir menjadi ideologi politik yang paling mematikan bahkan untuk kalangan muslim yang mayoritas di Nusantara ini. Ideologi takfiri ini dianggap sebagai sumber masalah yang bukannya bisa mengintegrasikan kekuatan-kekuatan antidemokrasi, malah justru menjadi predator yang memakan satu sama lainnya secara keji dan biadab

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More