Ayah Bunda, Main Yuk

Penulis: Seto Mulyadi Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak (LPAI), Dosen Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma Pada: Jumat, 11 Mei 2018, 00:30 WIB Opini
Ayah Bunda, Main Yuk

seno

JUDUL di atas saya ambil dari ajakan anak-anak pada saat mereka bermain gembira sore hari di halaman Istana Merdeka dan mengajak Presiden Jokowi untuk bermain bersama.
"Pak Jokowi, main yuuk...!"

Mengapa sampai anak-anak berani mengajak Presiden untuk bermain bersama? Ini simbol kerinduan jutaan anak-anak di seluruh Tanah Air untuk dapat bermain gembira bersama para orangtua di rumah maupun guru-guru di sekolah.
Bermain gembira di luar ruang pada anak-anak tampaknya memang sudah mulai banyak dilupakan. Dampaknya, akhirnya anak-anak lebih lekat ke permainan gawai yang membuat mereka menjadi kurang bergerak secara fisik maupun kurang bersosialisasi.
Sebetulnya berapa jam yang dihabiskan anak-anak zaman now untuk bermain di tempat terbuka? Survei yang dilakukan National Trust dua tahun lalu menyimpulkan, rerata 4 jam per pekan, sedangkan orang dewasa yang disurvei umumnya bermain di luar rumah semasa kecil hingga 8 jam lebih setiap minggunya.

Bila penjelasan para orangtua tentang penyebab minimnya anak-anak mereka menemukan keasyikan di luar rumah disimak, jawaban mereka sebagian tipikal dari masa ke masa dan sebagian lagi khas era kekinian. Misalnya, khawatir anak terkena cacingan, cuaca yang kurang mendukung, kemajuan teknologi internet, takut anak diculik, serta kurang ramahnya arena bermain anak.

Lepas dari faktor-faktor yang menjadi 'batu sandungan' bagi anak untuk bermain di luar rumah sebagaimana disampaikan di atas, seberapa jauh sebetulnya orangtua patut mengalokasikan waktu untuk bercengkerama bersama buah hati mereka sendiri di udara segar dan siraman mentari pagi atau sore? Sekian banyak sigi menemukan angkanya pada kisaran 50% dari ribuan orangtua yang diteliti.

Juga sungguh menyedihkan, adanya bentuk-bentuk perlakuan diskriminatif--disadari maupun tidak--bahkan terlihat pada aktivitas bermain dan anak. Anak perempuan diketahui lebih jarang bermain di luar ruangan. Ini jelas kontras dengan hakikat bermain sebagai salah satu hak dasar anak. Bahkan, UU Sistem Peradilan Pidana Anak pun memuat hak rekreasional sebagai salah satu kegiatan yang harus dilaksanakan bagi anak-anak di dalam lembaga pemasyarakatan.

Jadi, 'sempurna' sudah. Faktor penarik (pull factor) kurang memadai, faktor pendorong (push factor) pun pas-pasan belaka. Pantas bila akhirnya anak-anak lebih lekat dengan gawai yang di dalamnya tersedia aneka macam permainan daring.
Padahal, cukup banyak studi yang merekomendasikan pentingnya aktivitas bermain fisik di alam terbuka bagi anak. Mayo Clinic, misalnya, menyarankan anak (bersama orangtua) menikmati kegiatan di tanah lapang selama 1 hingga 1,5 jam setiap harinya.  
 
Begitu pula The American Academy of Pediatrics yang menyebut permainan jasmani di lingkungan terbuka bermanfaat bagi kesehatan mental dan perkembangan psiko-sosial anak. Kegiatan outdoor selama 30 menit, menurut University of Illinois, membantu anak dengan gangguan perhatian dan hiperaktivitas menjadi lebih berkonsentrasi di sekolah serta lebih tenang di rumah. Cornel University bahkan menemukan banyak anak yang terbiasa aktif bermain di alam bebas dalam waktu yang signifikan kelak akan menjadi pegiat konservasi.
Kurangnya waktu anak untuk bermain di alam terbuka memunculkan gambaran karikatural tentang sosok anak-anak masa depan.

Mereka menyerupai makhluk yang disebut datang dari tata surya lain: jari-jemari panjang karena sibuk menekan layar sentuh, mata yang membesar karena terus-menerus terpapar cahaya, ukuran badan yang menyusut karena jarang digerakkan. Lalu, mulut yang mengecil karena lebih intens berkomunikasi dengan teks, dan tempurung kepala yang menggelembung karena kerja otak yang semakin berat.

Jangan-jangan alien di film-film sci-fi ialah tampilan lahiriah anak cucu kita sekian puluh atau ratusan tahun ke depan dan mereka seolah menjelma dengan raga sedemikian rupa karena semakin berjarak dari alam terbuka!
Mungkin teori-teori perkembangan dalam psikologi pun kelak terpaksa harus dibongkar. Sejak dulu hingga kini teman sebaya dianggap sebagai tokoh signifikan kehidupan anak-anak usia pra dan saat sekolah. Namun, karena teman virtual yang anak-anak kenal lewat gim daring tidak lagi sebaya, suasana batiniah mereka pun mungkin hanya berbeda tipis dengan individu berusia di atas usia mereka.

Mungkin saya terkesan kolot karena terlalu khawatir akan dampak dari anak-anak yang terlalu akrab dengan gawai. Namun jujur, di tengah kerisauan saya ini, saya akhirnya menemukan tokoh-tokoh yang menjanjikan untuk mengampanyekan kembali jam main anak. Tentu bukan bermain gim daring, melainkan bercanda ria di alam bebas di lapangan, di sungai, di pematang sawah, atau di area-area terbuka lainnya.  
 
Beberapa figur itu antara lain Pak Jokowi yang menikmati kegiatan bermain gobak-sodor, engklek, dan kuda lumping bersama ratusan anak-anak. Beliau mendukung inisiasi LPAI untuk menyelenggarakan peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini dalam kemasan Presiden dan para Menteri bermain permainan tradisional bersama dengan anak-anak di Istana Merdeka pada 4 Mei.

Selain Pak Jokowi, ada Pak Baharudin Djafar, jenderal polisi, yang lewat foto-fotonya saya lihat basah kuyup bermain basah-basahan dengan anak-anak di wilayah beliau bertugas.  Kesenangan Pak Bahar--begitu sapaan akrabnya--sepatutnya menginspirasi, khususnya para personel Polri yang bertugas di unit perlindungan anak, untuk juga 'bekerja' sambil bercanda-ria bersama para bocah, sesuai dengan program Polisi Sahabat Anak.

Bukankah polisi tidak hanya sebatas penegak hukum yang menangani kasus, melainkan juga, bahkan lebih vital, sebagai pelayan dan pengayom masyarakat? Konsekuensinya, masuk akal apabila pelayan dan pengayom di unit perlindungan anak mempunyai kesibukan khas dengan lebih sering bercengkerama bersama anak-anak pula. Ini tidak perlu harus selalu menunggu sampai terjadi perkara hukum.

Ada pula Pak Sandiaga Uno yang sejak sebelum hingga saat menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta konsisten menggalakkan kegiatan lari sehat. Beberapa waktu lalu Pak Sandi bahkan bersedia berlari dan berjoget ceria bersama anak-anak di salah satu perhelatan yang diselenggarakan LPAI dan Dompet Duafa di alam terbuka di jantung Ibu Kota.

Bermain bersama anak-anak di alam terbuka bukan semata mencari sehat badaniah. Lewat aktivitas berlari, melompat, berteriak, memanjat dst, secara psikologis kegiatan itu akan meninggalkan jejak-jejak kebahagiaan pada diri anak. Selain memiliki fungsi terapi, sisi lain juga mendorong berbagai aspek perkembangan jiwa anak, seperti kognitif, emosi, psikososial, bahasa, moral, dan kreativitas.

Lewat kegiatan bersama ini, selain para orangtua dapat mendekatkan kembali anak-anak ke alam yang indah, sekaligus juga dapat membangkitkan kembali nostalgia permainan tradisional yang seolah punah digerus gawai, seperti gobak sodor, petak umpet, balap karung, tapak gunung, egrang, dan getok lele. Pendidikan tentang peduli lingkungan pun seyogianya dapat dimulai dari sini.

Memang, sebagaimana keluhan para orangtua di atas, kebutuhan akan tempat terbuka yang ramah-anak, aman, sehat, dan berbasis alam sudah menjadi persoalan tersendiri saat ini. Namun, saya tetap berharap pemerintah di setiap daerah dapat menyediakan fasilitas ini.   
Sungguh indah andai salah satu kriteria kota dan kabupaten ramah anak di setiap provinsi ialah tersedia arena yang cukup luas untuk bermain bersama, termasuk kawasan-kawasan wisata alam yang bisa dibuka secara cuma-cuma bagi para pengunjung cilik, sekaligus sebagai upaya mendekatkan kembali anak-anak setempat ke Tanah Air mereka sendiri.

Presiden dan para menteri sudah mulai, juga jenderal polisi serta wakil gubernur. Mudah-mudahan berikutnya ialah bupati, wali kota, camat, lurah, dst. Semua adalah para tokoh pemimpin yang peduli dan patut menjadi model bagi pembentukan karakter generasi anak-anak di Tanah Air. Masalahnya, bagaimana sekarang dengan para guru di sekolah dan para orangtua sendiri di rumah? Mari dengarkan suara nyaring anak-anak, "Ayah, bunda, main yuuuk...!" Semoga.

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More