Surga dan Ajakan Menghargai Kehidupan

Penulis: Tom Saptaatmaja Teolog Pada: Rabu, 09 Mei 2018, 01:30 WIB Opini
Surga dan Ajakan Menghargai Kehidupan

seno

HAMPIR setiap hari terjadi pembunuhan di berbagai tempat. Kadang malah disertai dengan kekejaman dan kebiadaban. Tak heran, bagi sebagian orang, hidup di dunia ini ibarat di dalam neraka.

Yang terbaru dan menyita perhatian publik ialah kasus tewasnya Grace Gabriela, 5, yang jasadnya ditemukan di dalam karung, di dekat rumahnya di Perumahan Bogor Asri, Selasa (1/5). Selain itu, masih banyak kasus pembunuhan lainnya yang terlalu banyak jika ditulis satu per satu.

Sayang karena terjadi tiap hari, pembunuhan dianggap biasa saja. Respons publik pun juga biasa. Padahal, ini bukan hal yang biasa. Karena martabat manusia dan nilai-nilai kehidupan sungguh direndahkan.  

Orang lain ialah neraka
Pembunuhan kian biasa karena kasus ini sudah terjadi sejak awal adanya manusia. Alkitab sudah merekam peristiwa anak Adam bernama Kain yang membunuh Habel (dalam Alquran disebut Qabil membunuh Habil). Bukan semata-mata rasa cemburu yang disebabkan kurban Habel diterima Tuhan sehingga Kain membunuh adiknya.

Jauh lebih mendasar dari itu, karena kehadiran sang adik dianggap Kain sebagai pengganggu atau juga rival eksistensinya. Filsuf eksistensialis Prancis Jean-Paul Sartre, berfilsafat bahwa orang lain itu hanya neraka.

Fakta sejarah menunjukkan banyak orang masih meyakini filsafat Sartre tersebut. Kita tentu tidak bisa melupakan pembantaian enam juta orang Yahudi di bawah komando Adolf Hitler. Peristiwa holocaust itu mempertontonkan kepada kita suatu pembunuhan sistematis yang telah mengakibatkan hilangnya nyawa manusia secara luar biasa. Menghilangkan nyawa orang lain, berarti mengkhianati satu nilai yang paling hakiki dalam diri seseorang, yakni hidup itu sendiri. Tidak heran seorang pembunuh ialah seorang pengkhianat. Ia tidak hanya mengkhianati orang yang dibunuhnya, tetapi lebih dari itu, ia mengkhianati kehidupan.

Sejarah kita juga tidak lepas dari pembunuhan massal. Dalam sejarah Singasari, kita melihat Ken Arok tega membunuh Tunggul Ametung demi meraih kekuasaan. Keris Mpu Gandring kemudian menjadi saksi pembunuhan berantai demi meraih kekuasaan. Menurut Pramoedya Ananta Toer, sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa hingga era orde baru tak pernah lepas dari darah dan kekerasan.

Puncaknya, di era 1965-an ketika orde baru mulai berkuasa, jutaan nyawa dikorbankan dan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dijadikan kambing hitam. Kemudian, orde baru menutup episode kekuasaannya dengan tragedi 13-15 Mei 1998 di Jakarta dan Solo.

Yang paling edan, pada tahun belakangan ini orang membunuh justru menggunakan dalih agama, sebagaimana bisa dibaca dalam buku Terror in the Mind of God: The Global Rise of Religious Violence tulisan Mark Juergensmeyer.

Jangan membunuh
Orang-orang Kristiani sudah sejak kecil diajari perintah 'jangan membunuh’. Perintah ini bermakna; hendaklah kita bertanggung jawab atas hidup orang lain. Kita harus mencintai hak hidup orang lain seperti kita menghargai kehidupan kita sendiri.

Ketika Yesus menjalankan misinya di dunia, hukum jangan membunuh itu  diberi aksentuasi baru. Jika pada era Perjanjian Lama berlaku vendetta atau hukum balas dendam 'mata ganti mata, gigi ganti gigi', Yesus justru mengajarkan hukum baru, "Jika pipi kirimu ditampar, berikan juga pipi kananmu." Bahkan, ada perintah mengasihi orang yang memusuhi kita.

Apa maksud Yesus dengan ajaran itu ketika beberapa pihak menganggap tidak masuk akal? Yesus sebenarnya ingin orang menghayati Kerajaan Allah sudah dekat. Hukum dunia ini memang melestarikan dendam dan kebencian. Hukum dunia ini sangat senang jika ada orang saling melecehkan kehidupan.

Namun, Yesus memberi perintah baru untuk mengasihi, termasuk musuh sekalipun, agar dunia ini siap menyambut Kerajaan Allah. Kerajaan Allah merupakan istilah yang mengandung makna bahwa hanya Allah saja yang meraja dalam semua bidang kehidupan, termasuk dalam hidup kita. Kerajaan Allah itu oleh sebagian umat Kristiani dimaknai dengan surga.

Yesus juga tidak mengajarkan bahwa surga itu hanya beraspek eskatologis (jadi baru terwujud kelak pada hari kiamat). Namun, surga atau Kerajaan Allah itu harus sudah dimulai di dunia, di tempat kita berpijak sekarang ini. Oleh sebab itu, Yesus mencoba terus tanpa lelah agar nilai-nilai Kerajaan Allah, nilai-nilai surgawi, seperti cinta dan pengampunan pada musuh, diterapkan sekarang juga di dunia ini.

Dalam doa 'Bapa Kami', doa yang orisinal diajarkan Yesus, Dia mengajarkan “Jadilah kehendak-Mu, di atas bumi seperti di dalam surga”. Jadi Dia ingin dunia menjadi tempat yang damai dan membahagiakan seperti surga atau Kerajaan Allah.

Menghargai kehidupan
Karena itulah selama tiga tahun misi-Nya, Yesus tidak bosan-bosannya berkhotbah, bertobatlah sebab Kerajaan Allah sudah dekat. Karena sudah dekat, kita semua perlu dan harus menyiapkan diri untuk hidup menurut norma-norma Kerajaan Allah, seperti menghargai hidup. Tidak hanya hidup kita sendiri, tetapi juga hidup sesama kita.

Mengapa hidup harus dihargai? Karena Allah saja memandang hidup kita juga berharga. Manusia dalam perspektif iman Kristiani ialah imago dei, yaitu gambaran Allah yang kelihatan. Menurut Giovanni Pico della Mirandola, magnum miraculum est homo atau manusia ialah keajaiban besar. Sayang lewat tindak pembunuhan atau kekejaman, keindahan manusia yang jadi korban bisa menjadi seonggok daging yang tidak bernilai.

Untuk itu ukuran yang diberikan Yesus sangat gamblang, yakni apa yang kita lakukan untuk sesama di dunia ini, akan menjadi ukuran Tuhan juga untuk mengukur manusia kelak (lihat Injil Matius 25:1-40). Menurut filsuf Emmanuel Levinas (1906-1995), setiap kehadiran orang lain (l‘Autrui) harus kita hargai.

Besok (10/5), umat Kristiani merayakan peristiwa Yesus naik ke surga. Peristiwa itu terjadi setelah dia mengalami peristiwa sangat mengerikan, yakni pembunuhan dengan disalibkan. Untungnya, Yesus bisa mengalahkan kematian dengan kebangkitan-Nya, disusul dengan kenaikan ke surga.

Selama hidupnya, Yesus menunjukkan bagaimana orang harus hidup sesuai dengan nilai-nilai surgawi. Lewat peristiwa kenaikan-Nya, Yesus ingin para pengikut-Nya berani hidup menurut norma-norma surgawi. Karena itu, jangan lagi kita menciptakan neraka di dunia, seperti tindak pembunuhan atau kebiadaban lainnya. Perayaan Kenaikan kali ini, semoga bisa menjadi momentum untuk kembali menghargai kehidupan, baik kehidupan orang lain maupun kehidupan yang dipinjamkan kepada kita.

 

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More