Juara Bertahan versus Penantang di HBKB

Penulis: Henri Siagian Pada: Senin, 07 Mei 2018, 15:31 WIB Opini
Juara Bertahan versus Penantang di HBKB

Ist
Henri Siagian

PERBEDAAN tulisan di kaus oblong telah mencoreng rutinitas warga dalam hari bebas kendaraan bermotor (HBKB) di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, Minggu (29/4).

Seorang perempuan yang mengenakan kaus bertagar #DiaSibukKerja dengan seorang bocah dikepung oleh laki-laki berkaus bertuliskan #2019gantipresiden. Perempuan dan anaknya itu kemudian mendapat beragam bentuk olok-olok, persekusi, dan intimidasi mulai perkataan hingga aksi mengipas-ngipaskan uang.

Kaus beserta tulisan tagar itu seakan menjadi tanda yang membelah masyarakat, yakni antara kelompok yang menginginkan pergantian presiden pada 2019 dan yang ingin mengusung kembali Presiden Joko Widodo.

Bila menggunakan pisau analisis semiologi yang ditawarkan Roland Barthes dalam Mythologies (1991), setiap tanda (sign) memiliki penanda (signifier) dan petanda (signified).

Dalam kasus ini, kelompok yang hendak memiliki presiden baru menggunakan kaus bertagar #2019gantipresiden sebagai penanda, sedangkan intimidasi dan aksi mengolok-olok seakan menjadi petanda mereka.

Kebalikannya, kelompok yang mendukung Presiden Jokowi memiliki kaus bertagar #DiaSibukKerja sebagai penanda. Ketegaran dan ketidaktakutan sang ibu seakan menjadi penandanya.

Secara nalar, tidak mungkin ada elite politik yang membenarkan aksi premanisme serta intimidasi yang terjadi di HBKB. Apalagi, tidak ada elite ataupun parpol yang menginginkan pergantian pemimpin yang mengklaim tindakan massa di HBKB. Sayangnya, di sisi lain, tidak ada penolakan dari pengusung ganti presiden terhadap kejadian di HBKB. Akibatnya hanya mengukuhkan persepsi ada relasi khusus antara tindakan dan keinginan mengganti presiden.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pada 1 Juli 2014 -- saat masih menjadi juru bicara tim pemenangan pasangan Jokowi-Jusuf Kalla -- memberi opini terkait penyebaran kampanye hitam (black campaign) terhadap pasangan Jokowi-JK melalui tabloid Obor Rakyat dalam Pilpres 2014.

Bagi Anies, segala perilaku tim sukses tidak bisa dilepaskan dari tokoh yang mereka usung. "Terus jika ini dikatakan, 'oh ini kan bukan dikerjakan oleh tim'. Harus dengan tegas saya katakan, siapapun yang menggunakan kaos, pin, topi, bernama calonnnya, ia secara moral mewakili cara berpikir dan cara bekerja calon yang didukungnya," ucap mantan Rektor Universitas Paramadina itu.

Meski masih satu tahun, aroma kompetisi pemilihan presiden dan wakil presiden (pilpres) 2019 sudah terasa. Dan itu terkait salah satu hukum dasar politik sebagai pertarungan untuk merebut atau mempertahankan kekuasaan. Dikotomi kedua hal itu yang tergambarkan dalam pertarungan tagar dalam kaos di HBKB.

Patrick Butler dan Neil Collins dalam European Journal of Marketing pada 1996 pernah menuliskan mengenai Strategic Analysis in Political Markets. Mereka mengategorisasikan empat posisi para kandidat politik yang dikaitkan dengan strategi masing-masing.

Empat posisi itu ialah pemimpin pasar (market leader), penantang (challenger), pengikut (follower), dan pencari ceruk (nicher).

Bagi kedua pakar pemasaran itu, pemimpin pasar dan penantang cenderung berhadapan. Pemimpin pasar akan memperluas pasar dan pangsa. Adapun penantang cenderung ofensif dan menyerang. Mulai menyerang sang pemimpin dan kompetitor serupa ataupun yang lebih kecil.

Pengikut cenderung hanya meniru dan pencari ceruk akan berusaha mencari-cari dan memperluas ceruk pasar.

Sejauh ini, belum ada nama yang pasti yang akan bertarung dalam pilpres. Akan tetapi, sudah muncul semangat dan keinginan untuk mengganti atau mempertahankan pemimpin. Pembelahan di masyarakat sudah mulai termanifestasi ke dalam kelompok penantang dan juara bertahan.

Di satu sisi, penantang yang sibuk menyerang beragam kebijakan ataupun gambaran diri dari Presiden Jokowi. Seperti persoalan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 20 Tahun 2018 tentang Tenaga Kerja Asing (TKA) hingga persoalan postur tubuh Jokowi saat menunggangi Royal Enfield 350 cc.

Di sisi berbeda, sebagai juara bertahan, pihak pendukung kepemimpinan presiden saat ini juga harus terus memperluas dan mempertahankan pasar serta pangsa. Pemimpin pasar jangan terlalu responsif terhadap serangan dari penantang melainkan terus bekerja dan mengeluarkan kebijakan serta kebajikan bagi publik.

Dalam era pemilihan secara langsung, kompetisi meraih suara menjadi hal utama. Akan tetapi, terlepas dari pertarungan politik, jangan sampai masyarakat kecil menjadi korban seperti pelanduk. Bila melihat kembali ke kasus HBKB, paling tidak sudah memunculkan korban, yakni sang anak. (OL-5)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More