Mendompleng

Penulis: ONO SARWONO Pada: Minggu, 06 Mei 2018, 07:30 WIB Opini
Mendompleng

Dok MI

PERINGATAN Hari Buruh baru saja diperingati di hampir seluruh penjuru Tanah Air. Berbagai cara digelar kaum buruh, di antaranya dengan turun ke jalan yang melibatkan ribuan massa. Ini memang momen istimewa bagi mereka untuk menyuarakan harapan hidup sejahtera. Suatu perjuangan asasi yang harus dihormati.

Namun, yang disayangkan, hadirnya para pendompleng di tengah-tengah para buruh. Mereka berlagak pahlawan memperjuangkan aspirasi buruh, tetapi sesungguhnya para politikus avonturir itu memanfaatkan massa sebagai alat perjuangan. Tentu saja itu mengotori kemurnian laku prihatin kaum buruh.

Dalam kisah wayang, tokoh pendompleng yang kerap memainkan politik keruh seperti itu ialah Sengkuni. Patih Astina sekaligus tangan kanan Prabu Duryudana itu memang piawai memanfaatkan setiap momentum. Namun, kodratnya, perjuangan Sengkuni selalu gagal.

Dianggap tidak adil
Di antara kisah 'politik ndompleng' yang dilakukan pilar rezim Kurawa itu ketika Antareja melakukan unjuk rasa. Putra pertama Werkudara dari istrinya, Dewi Nagagini, itu memprotes keras kebijakan Pandawa yang mengangkat Gathotkaca sebagai panglima perang Negara Amarta.

Namun, unjuk rasa yang ia lakukan tidak dengan cara berkoar-koar di jalanan dengan mengerahkan seluruh pendukungnya dari Kesatrian Jangkarbumi. Antareja hanya tidak sudi sowan dalam pasewakan agung di Istana Amarta. Sudah beberapa kali pisowanan, ia absen, mengabaikan kewajibannya sebagai kesatria Amarta tanpa kabar.

Antareja sadar dan siap menerima segala konsekuensi atas aksi pembangkangannya. Ia meyakini perjuangannya berdasar dan benar. Benaknya selalu bertanya, atas dasar apa Gathotkaca yang dipilih?

Menurut pemahamannya, dirinya yang paling pantas menduduki jabatan tersebut. Alasannya, pertama, yang tertua di antara ketiga putra Werkudara. Perihal loyalitas, kesetiaan, dan dedikasi kepada bangsa dan negara, ia merasa sudah berulang kali membuktikan.

Kemudian dari aspek kesaktian, ia merasa tidak kalah dengan Gathotkaca. Bahkan ia siap untuk membuktikannya dengan cara diadu dengan adiknya itu. Pendukungnya di Jangkarbumi pun banyak dan semuanya digdaya, tidak kalah jika dibandingkan dengan anak buah Gathotkaca di Pringgondani.

Dengan pertimbangan sepihaknya itu, Antareja menuduh pepundennya, Pandawa, tidak arif dan tidak adil. Ia pun menyayangkan bapaknya yang tidak mengajukan namanya. Karena itu, ia merasa tidak ada gunanya menghormati Pandawa karena faktanya tidak memahami realitas.

Di tengah kegalauannya yang memuncak, tiba-tiba datanglah dua nayaka praja Astina, yakni Sengkuni dan Durna. Setelah dipersilakan duduk, dua elite rezim Kurawa itu mengatakan kedatangan mereka diutus Duryudana untuk mengonfirmasikan apakah benar Antareja sedang galau.

Akibat masih dibalut emosi, tanpa kontrol diri, Antareja dengan apa adanya mengungkapkan ketidaksenangannya terhadap Pandawa. Menurutnya, pepudennya emban cinde emban siladan (pilih kasih). Sudah tidak ada lagi keadilan di Amarta.

Sengkuni tersenyum dan membenarkan hal itu. Menurutnya, Pandawa memang telah lama tidak adil terhadap para putra dan rakyat. Kurawa siap membantu Antareja meminta kembali keadilan. Bahkan, saat itu juga semua kekuatan Kurawa telah disiagakan untuk membela Antareja.

Antasena diusir
Ketika pembicaraan mereka belum tuntas, datanglah Antasena. Keberadaan dua tamu dari Astina membuatnya curiga. Antasena menduga pasti ada sesuatu yang terjadi dengan kakaknya. Namun, ia berusaha tidak mengungkapkannya sebelum bicara langsung dengan Antareja.

Kepada kakaknya itu, Antasena mengungkapkan kedatangannya diutus Prabu Yudhistira (Raja Amarta) untuk menanyakan kenapa sudah berulang kali tidak sowan ke Amarta. Antareja dengan nada amarah mengatakan memang sengaja tidak sowan karena Pandawa tidak adil, mengangkat Gathotkaca sebagai panglima perang, bukan dirinya.

Antasena mengingatkan bahwa semua kebijakan yang diambil Pandawa tentu telah dipertimbangkan dengan masak. Pun tidak pada tempatnya seorang kesatria iri karena pangkat. Namun, Antareja tidak menggubris sehingga terjadilah ketegangan yang berpuncak pada pengusiran.

Sebelum meninggalkan tempat, Antasena mengatakan dirinya tidak tahu-menahu jika terjadi apa-apa di Jangkarbumi. Ia tahu bahwa kakaknya semakin rusak pikirannya akibat ditunggangi Sengkuni.

Setelah Antasena pergi, Sengkuni kembali menegaskan bahwa Kurawa siap berada di belakang Antareja menuntut keadilan. Kemudian atas seizin tuan rumah, Sengkuni memerintahkan prajurit Kurawa menangkap Antasena.

Namun, meski telah mengeluarkan seluruh kekuatan, Kurawa tidak mampu mengalahkan Antasena. Anak bungsu Werkudara itu pun buru-buru menghadap Pandawa melaporkan apa yang terjadi.

Pada kesempatan terpisah, Antareja bertemu dengan Gathotkaca yang sedang berkeliling menjaga kedaulatan Amarta. Tanpa tanya, ia langsung menggelandang adiknya itu. Terjadilah peperangan dua bersaudara. Namun, pada akhirnya Gathotkaca tahu ada yang ganjil pada kakaknya sehingga memilih meninggalkan gelanggang.

Werkudara marah besar mendengar laporan Antasena bahwa Antareja mbalela. Ia bergegas ingin menghajar anaknya yang ia anggap memalukan. Namun, langkahnya dicegah Kresna.

Botoh Pandawa itu meminta Werkudara bersabar karena jika terpancing dengan situasi yang sedang panas, akan merugikan persatuan atau kekuatan Pandawa. Sengkuni dan Kurawa akan bertepuk tangan.

Merapuhkan persatuan
Pada akhirnya Kresna sendiri yang menemui Antareja. Raja Dwarawati itu menjelaskan bahwa semua kebijakan yang diambil Pandawa merupakan strategi besar demi kejayaan Pandawa di masa depan.

Kresna menasihatinya, Pandawa dan seluruh keluarga besar serta rakyat Amarta harus senantiasa menjaga persatuan, terutama untuk menghadapi perang suci Bharatayuda. Jika tidak rukun dan hanya berebut kepentingan masing-masing, hal itu akan merapuhkan persatuan yang membahayakan eksistensi Pandawa (Amarta).

Wejangan Kresna membuat Antareja sadar. Ia meminta maaf atas kekurangajarannya, pun kepada Pandawa pepundennya serta seluruh rakyat Amarta. Ia berjanji tidak akan mengulangi kekeliruannya. Pun siap menerima apa pun tugas yang diperintahkan kepadanya.

Bila dikontekskan dengan peringatan Hari Buruh, poin kisah itu merupakan gambaran tentang berbahayanya ketika ada pendompleng di tengah-tengan perjuangan mereka. Peringatan Hari Buruh seyogianya digunakan murni untuk memperjuangkan hak-haknya.

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More