Puaskan Dahaga dengan Orkestra Kota

Penulis: Ardi Teristi Hardi Pada: Minggu, 06 Mei 2018, 06:15 WIB Tifa
Puaskan Dahaga dengan Orkestra Kota

MI/RAMDANI

LAGU kebangsaan Indonesia Raya mengalun indah dari dentingan piano, gesekan biola dan cello, serta gebukan drum. Tiupan trombon, horn, terompet, klarinet, bassoon, dan flute semua tunduk pada perintah Budi Utomo Prabowo, laiknya tentara yang patuh pada komando.

Malam itu, Budi menjadi dirigen atau pengaba pada konser Jakarta City Philharmonic (JCP) di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki. Ini menjadi tahun ketiganya JCP menghidupkan langit Jakarta dengan musik klasiknya.

Setelah lagu Indonesia Raya, komposisi kedua yang dihadirkan Budi dan tim orkestranya ialah karya Johann Sebastian Bach (1685-1750) yang berjudul Aria pada Dawai G. Aria merupakan gerakan kedua Suite nomor 3 dalam D mayor. Gerakan itu sering dianalogikan sebagai pelangi di tengah rinai hujan.

Musik klasik itu menjadi salah satu karya Bach yang terkenal, telah digubah dan diaransemen untuk beragam alat musik. Kecakapan Bach merangkai sebuah karya dalam durasi yang singkat terlihat dalam Aria.

Aria hanya terdiri 19 birama dan tanpa pengulangan. Walau singkat, Bach memodifikasi alur yang dimulai dengan sederhana, berkembang dalam intensitas dan kompleksitas yang tinggi.

Menit selanjutnya, komponis Jenny Rompas hadir dengan salah satu karya terbarunya, yaitu O atau Lingkaran, dimainkan oleh JCP.

Karya itu memadukan tema dan variasi dari transformasi leitmotif menjadi enam sisi musik miniatur yang lugu dan sesekali lucu. Dibuka dengan gelombang lembut, kontras dan selingan serta alunan tremolo diiringi tema yang lebih cepat.

Gagasan itu berkelip menuju bintang-bintang cemerlang, menuju penutupan nada artikulasi agonal sembari menembus jahitan dan jalinan tessitura. Warna musik itu menyinggung gaya pointilis klangfarben melodie pada gerakan ketiga. Kesunyian di antara bebunyian mengubah dimensi penglihatan, pendengaran, pemikiran, dan perasaan yang baru menyeruak kalbu.

Karya O merupakan sebuah eksperimen dramaturgi timbral yang bebas, dibagi dalam enam sisi musik, masing-masing dibawakan tidak lebih dari 2-3 menit.

Tak cukup di sana, JCP juga memainkan karya Max Reger dengan variasi & fugue untuk orkestra berdasarkan tema dari Mozart, Op. 32 di sesi pertama. Setelah jeda sekitar 15 menit, pada sesi kedua orkes kota juga membawakan karya Pyotr Ilyich Tchaikovsky dengan Simfoni nomor 5 dalam E minor, Op. 64.

Metode komposisi simfonik Tchaikovsky lebih lekat pada prosedur penulisan tone poem ala Liszt. Banyak lagu-lagu populer yang menjiplak musiknya, seperti Moon Love yang dipopulerkan Frank Sinatra, diambil dari gerakan lambat simfoni kelima.

Dalam panggung konser orkestra JCP, empat sisi musik Pyotr Ilyich Tchaikovsky yang dibawakan yakni Andante-Allegro con anima, Andante Cantabile, Con Alcuna Licenza, Valse: Allegro moderato, dan Finale: Andante maestoso-Allegro vivace.

Persembahan khusus
JCP secara khusus mendedikasikan penampilannya malam itu kepada seorang komposer musik, almarhum Suka Hardjana yang baru berpulang pada 7 April 2018. Ia dikenal cukup kritis dan kritiknya dikenal baik bagi perkembangan musik Indonesia.

"Keseluruhan program yang dirangkai malam ini dipersembahkan bagi mendiang Suka Hardjana, yang semasa hidupnya konsisten menggenapi pengembaraan hidup dalam bermusik. Sebagai bahasa kalbu, musik merupakan jiwa Suka Hardjana," sebut musikolog Aditya Pradana Setiadi.

JCP merupakan proyek bersama Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) dengan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Sejak pementasan perdananya pada November 2016 lalu, JCP berusaha tetap menjaga titik ekuilibrium masyarakat dengan menyediakan ruang refleksi melalui musik.

"Tema yang diangkat sebagai sebuah pemikiran yang menganggap seluruh alam semesta beserta segenap eksistensi dan energi yang ada di dalamnya berputar dan akan terus bergulir hingga saat yang tidak berkesudahan," beber Aditya.

Orkestra kota ini akan digelar setiap bulannya selama 2018 dengan delapan kali pertunjukan. Pertunjukan perdananya April lalu, mengusung tema Lingkaran Keabadian yang merangkum berbagai pertanyaan mengenai esensi kemanusiaan.

Berkat dukungan dari Bekraf selama dua tahun terakhir, pertunjukan JCP dapat disaksikan oleh masyarakat Jakarta tanpa pungutan biaya. "Konser JCP merupakan kebutuhan kultural sebuah kota metropolitan akan orkes kota yang diselenggarakan secara reguler. Semoga masyarakat dapat bersuka cita dan menikmati program JCP tahun ini," ucap Anto Hoed, Komisaris JCP dan Ketua Komite Musik DKJ.

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More