Asep Djuheri Mendobrak Persepsi Masyarakat

Penulis: Siti Retno Wulandari Pada: Sabtu, 05 Mei 2018, 02:40 WIB Humaniora
 Asep Djuheri Mendobrak Persepsi Masyarakat

MI/SUMARYANTO BRONTO

INGIN mendapat perhatian orangtua ialah alasan Asep Djuheri yang kerap disapa Heri Coet melakukan aksi pencurian kendaraan bermotor sejak ia duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP).

Aksi itu membuatnya harus berurusan dengan polisi meski akhirnya tidak sampai mendekam di balik jeruji besi. Namun, peristiwa itu tidak membuat Heri jera. Ia semakin penasaran dan ingin ditangkap polisi. Heri pun kembali beraksi mencuri kendaraan bermotor.

Keinginan Heri mendapat perhatian bukan tanpa alasan. Kedua orangtua Heri sudah berpisah. Anak ke-3 dari 10 bersaudara ini pun harus menanggung kehidupan tujuh adiknya karena dua kakak sulungnya telah menikah. Saat itulah Heri merasa cara paling mudah bertahan hidup dan mendapat uang ialah menjual obat terlarang serta mencuri. Perbuatan serupa kembali diulangi saat ia sudah dibebaskan hingga Heri bolak balik masuk penjara sebanyak delapan kali.

"Apa yang saya harapkan tidak tercapai. Orangtua datang menjenguk, tetapi bukannya beri perhatian ke saya, eh mereka malah berantem ha ha ha," ujar ayah tiga anak ini.

Seusai bebas Heri justru dikucilkan saudara dan tetangga sekitar tempat tinggalnya. Saat melihat Heri, mereka langsung waspada dan berjaga-jaga kendaraan siapa yang akan hilang berikutnya. Sembari tertawa Heri bercerita keadaan itu justru membuatnya semakin nekat mencuri milik tetangganya.

Namun, pada 2000 Heri merasa jenuh dan tergugah lantaran adiknya bolak balik membesuk. Tidak ada yang perlu dipikirkan karena adik-adik semakin besar dan mulai bisa mengurus diri mereka sendiri.

Heri pun harus memikirkan dirinya karena ia tidak hanya menjual narkoba, tetapi juga mengonsumsinya. Saat ditahan, selama dua pekan ia mulai mengalami sakit akibat berhenti menggunakan zat adiktif itu.

Kala itu ia dihadapkan dengan dua pilihan, yakni mengakhiri nyawanya dengan gantung diri atau berbuat baik.

Aksesori, Pakaian, hingga kick boxing
Sayangnya, upayanya berbuat baik tidak mudah. Apalagi, stigma masyarakat akan mantan narapidana tidak bisa dihapuskan dengan mudah.

Heri pun sadar akan stigma itu. Ia harus berusaha berbuat baik secara perlahan karena ia sudah berjanji berhenti berbuat jahat jika ada yang memercayakan pekerjaan kepadanya.

Doanya akhirnya didengar. Pada 2004 Heri mendapat pesanan satu juta pin dari salah satu calon presiden. Tidak mau jalan sendiri, ia lantas mengajak teman-teman mantan narapidana untuk mencari kaleng bekas, mencuci, dan memotong guna dijadikan sebagai pin.

"Awalnya 60 orang saya ajak bekerja pada komunitas rumah pemberdayaan napi insaf (PIN). Tahun 2017 saya bersama LP Banceuy Bandung membentuk Komunitas X-Residivist mulai membuat pakaian, aksesori, seperti pin, juga bergabung dalam olahraga kick boxing," pungkas pria yang dulu bertekad menamatkan pendidikan SMA meskipun sedang berkutat dengan kejahatan itu.

Kehidupan masa lalu yang kelam tak disembunyikan, bahkan kepada kedua mertuanya kala meminang istrinya dahulu. Ia ingin semuanya diawali dengan hal baik agar kehidupan berkeluarga bisa penuh keberkahan.

(M-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More