Renungan Spiritualitas Diri

Penulis: Ferdian Ananda Majni Pada: Sabtu, 05 Mei 2018, 02:00 WIB Humaniora
Renungan Spiritualitas Diri

KEHIDUPAN itu ibarat dawai yang bergetar. Setiap jiwa ialah partikel yang hanyut dalam gelombang nada. Pada setiap renik partikel diri, terekam informasi semesta.

Demikian juga pada setiap detak suara, terpantul nyanyian alam. Pada setiap helaan napas, terurai energi jagat besar.

Memahami rahasia keluasan alam raya bisa dilalui dengan menyelami kedalaman diri. Sang Pencipta tak pernah menampakkan diri dalam sesuatu apa pun sebagaimana perwujudan-Nya dalam diri manusia.

Manusia ialah mahkota penciptaan. Tercipta dari cahaya Tuhan, manusia ialah rahasia Tuhan, sedangkan Tuhan ialah rahasia manusia. Tuhan jadikan manusia sebagai kendaraan-Nya, dan Dia jadikan seluruh isi alam sebagai kendaraan manusia.

Saat ini, agama cenderung larut dalam formalisme, diekspresikan dalam kebisingan. Jauh dari sunyi yang kudus, kebatinan mikrokosmos melebarkan diri dalam kebatinan makrokosmos dalam menyelami kedalaman spritualitas.

Demikianlah sekelumit kalimat pembuka buku Makrifat Pagi. Penulisnya Yudi Latif, cendekiawan muslim muda Indonesia yang mendapat gelar Phd atau Doctor of Philosophy di Australian National University pada 2004 silam.

Lewat buku ini, Yudi mencoba mengajak pembacanya memahami makrifat Tuhan dan menghayati hidup dengan mata batin, agar pembacanya memiliki renungan terhadap peristiwa dan pengalaman manusia dalam hubungannya dengan Sang Pencipta, pemberi anugerah hidup ini.

Hubungan manusia dengan Tuhan (hablum minallah) dan (hablum minannas) hubungan dengan manusia. Setelah memahami dengan pendekatan ketuhanan, Yudi mengajak kita juga lebih peduli dengan sesama.

Ia menegaskan, Islam bukanlah agama yang memerintahkan untuk hanya beribadah saja tanpa memikirkan kehidupan dunia, begitu pun sebaliknya tidak juga hanya mengejar kehidupan dunia semata. Setiap ibadah itu harus seimbang antara dunia dan akhirat. Jika salat diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam, berarti mendoakan seluruh makhluk yang ada di bumi ini.

"Jangan pernah merasa dirimu hanyalah partikel sia-sia di tengah hamparan ruang waktu tak terhingga. Bukankah setitik nuklir setuah zarah memiliki ledak yang membumihanguskan?" serunya.

Mikrajkan potensi

Laki-laki kelahiran Sukabumi, 26 Agustus 1964 itu mempercayai, setiap pribadi ialah miniatur istimewa dari semesta. Karena itu, percayalah pada potensi diri yang dimiliki.

Lihatlah kesebelasan Barcelona tanpa Lionel Messi. Maka mikrajkan potensi kedirianmu, melambung tinggi, hingga menembus langit impian; tumpuan banyak orang mengantungkan harapan.

Dalam setiap kalimatnya di buku itu, Yudi berupaya membangkitkan semangat dan motivasi. Renungan dan muhasabah disertakannya agar tak salah mengambil tindakan dan melangkah.

Dalam cakupan yang luas, ia juga memberikan renungan terhadap cara kita berbangsa. Ia menyebutkan, Indonesia merupakan cermin yang retak. Elite negeri hanya melihat segala sesuatu dari sudut bayangan kepentingan masing-masing. Keakuan dan kekamian mencekik kekitaan. (halaman 169)

Rakyat kebanyakan hidup tanpa perlindungan berarti dari negara, baik yatim piatu yang ditinggalkan, dikhianati, dan dikorbankan. Dalam kondisi kerakyatan yatim piatu, bahaya terbesar ialah terjebak dalam pola pikir ketergantungan dan mentalitas korban (victim mindset) yang serba pasif menanti kedatangan juru selamat.

Hal tersulit dalam melewati ujian hidup itu bukanlah mengejar sukses manusia sebagai individu, melainkan sukses manusia sebagai masyarakat. Yudi mengatakan, kumpulan individu-individu yang sukses belum tentu melahirkan masyarakat yang sukses, karena masyarakat sebagai suatu entitas kolektif lebih dari total penjumlahan orang per orang. Sukses masyarakat memerlukan penyatuan dan koherensi sukses individu ke dalam cita-cita, konsepsi, pranata, gerak, dan maslahat kebersamaan.

Apalagi keadilan tidak bisa ditukarkan dengan persatuan. Kita tidak bisa memperjuangkan keadilan dengan mengorbankan persatuan. Sebaliknya, tak bisa memperjuangkan persatuan dengan mengorbankan keadilan. Keduanya ibarat sepasang sayap yang harus bergerak serempak.

Dengan mengutip kalimat filsuf Imam al-Ghazali, Yudi yang merupakan alumnus Pondok Pesantren Gontor, Jawa Timur, itu mengawali pembahasan Bab keempat dalam buku tersebut. "Kerusakan rakyat disebabkan oleh kerusakan penguasa, kerusakan penguasa disebabkan oleh kerusakan ulama, kerusakan ulama disebabkan oleh cinta harta dan kedudukan," demikian kalimatnya.

Pada kalimat ini, Yudi ingin menegaskan begitu pentingnya posisi alim ulama atau pemuka agama dalam sebuah negara. Kecintaan akan harta dan kedudukan yang menjangkiti kalangan ulama pada akhirnya hanya akan menyebabkan rakyatnya sengsara.

Kekinian
Wawasan paripurna dalam renungan-renungan Yudi Latif dihimpun menjadikan buku setebal 362 halaman ke dalam 5 bab pembahasan utama, yaitu tentang ketuhanan, kemanusian, kebangsaan, kerakyatan-kepemimpinan dan keadilan-keadaban, dengan 98 judul berbeda di setiap bab.

Artikel-artikelnya yang terhimpun ke dalam buku filsafat kehidupan itu sangat mudah dipahami, bahasanya ringan dan lekat dengan keseharian kita. Bahkan, beberapa tulisannya menjadi barometer dan tolok ukur agar kita lebih bermuhasabah diri untuk melakukan setiap tindakan.

Pengagum cendekiawan Nurcholis Madjid itu, memang mencoba menyampaikan pemikirannya lewat seminar maupun tulisan. Bahkan, pemikiran-pemikirannya pun telah banyak dituangkan dalam bentuk artikel koran dan jurnal ilmiah.

Yudi produktif menulis, tidak heran jika peraih Islamic Fair of Indonesia (IFI) Award 2011 ini telah menulis sejumlah buku. Salah satu karya fenomenalnya, Negara Paripurna: Historitas, Rasionalitas, Aktualitas Pancasila. Yudi memaparkan tentang sejarah, menafsir nasionalitas, dan mengaktualisasi nilai-nilai yang tertanam dalam Pancasila. Lewat buku itu pula, Yudi dikenal sebagai pemikir Pancasila.

Seakan merespons kondisi kekinian, di tengah gonjang-ganjing isu kebinekaan, toleransi, perpecahan, dan NKRI, pemikiran Yudi Latif menjadi sisi alternatif untuk persoalan bangsa kita. Isi buku itu juga berasal dari berbagai renungan "Makrifat Pagi" yang tersebar di media sosial Yudi.

Buku itu sangat relevan dengan kehidupan saat ini, betapa tidak, kemajuan zaman telah mengikis jati diri seseorang dan mudah terpengaruh dengan isu yang sebenarnya tidak realistis.

Di era digital, orang-orang begitu mudah goyah. Begitu juga hubungan manusia dengan Tuhan menjauh, pun hubungan manusia dengan manusia yang kian menjarak. Tidak ada lain, persoalan peliknya kehidupan menjadi bom waktu.

Buku itu sangat direkomendasikan untuk jiwa yang haus akan spiritualitas, motivasi diri, dan dalam meningkatkan relasi ketuhanan, kemanusian, serta kealaman, agar bisa menghikmati setiap hembusan nafas kita secara lebih bermakna, mendekati kebahagiaan leluhur.

(M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More