Poppies, Gang Kecil Dengan Keramahan Khas Bali

Penulis: Harry SP Sagala  Pada: Kamis, 03 Mei 2018, 21:20 WIB Features
Poppies, Gang Kecil Dengan Keramahan Khas Bali

MI/Ramdani

Saat kuberlindung dalam pelukan Mira
Langsung kukenal Disa
Hampir kutenggelam aneh senyum tawanya
Juga kukenal hei Corine
Baru terpesona lihat sinar matanya
Tambah kukenal Petty
Lagi kuterbuai dalam kisah khayalnya
Aku tak sadarkan diri

SEKITAR dua dekade silam, lagu dari grup band asal Gang Potlot, Slank berjudul Poppies Lane Memories ini akrab di telinga para pendengarnya. Syair itu begitu lekat di memori saya yang waktu itu masih berstatus mahasiswa. 

Nama Poppies terus mengganggu benak saya. Saat itu rasa penasaran saya begitu tinggi tentang nama itu. Dan akhirnya rasa penasaran itu terjawab tuntas ketika ditugaskan berkunjung ke Pulau Bali. Mungkin tak ada kaitan antara Slank dengan Poppies yang di pulau dewata berwujud sebuah gang kecil, tapi begitu tenar ke mancanegara.

Rabu (25/4/2018) malam saya susuri gang yang menghubungkan Pantai Kuta dengan Jalan Raya Legian tepat di hadapan monumen peringatan bom Bali tersebut. Pertama kali menjejakkan kaki di ujung Gang Poppies, saya sudah disambut dengan pedagang suvenir yang menawarkan barang dagangannya berupa oleh-oleh khas Bali dengan cara yang sangat ramah.

"Kami memang diinstruksikan Pemerintah untuk bersikap seperti ini (ramah) kepada setiap wisatawan untuk menjaga citra Bali di mata dunia," ujar bli Kadek, salah satu pedagang yang saya ajak berbincang-bincang sembari beristirahat. Itu karena kaki-kaki saya mulai terasa pegal setelah menyusuri setengah jalan dari Gang Poppies ini.

Kadek selanjutnya menambahkan, saking hati-hatinya Pemerintah Provinsi Bali dalam menjaga citra Bali, bahkan hal-hal yang bisa dibilang dianggap sepele di luar Bali, semisal sampah yang berserakan atau trotoar pejalan kaki yang pecah sedikit saja, harus segera ditangani dan diantisipasi dengan baik.

"Jadi abang bisa membayangkan bagaimana susah payahnya kami membangun kembali citra Bali yang sempat rusak pada saat ledakan bom tempo hari," lanjutnya.

Bli merupakan sapaan akrab bagi pria asal Bali. Setara dengan 'mas' di Jawa. Kembali ke Gang Poppies, Kadek bercerita tentang asal mula penamaannya adalah karena pada 1970-an ada sebuah restoran dengan nama Poppies dan untuk bisa mengakses ke sana harus melalui gang ini.

"Entah siapa yang mulai memopulerkan, akhirnya gang ini pun disebut Gang Poppies yang artinya gang menuju restoran Poppies," ujar Kadek lagi.

Gang Poppies memang surga bagi wisatawan baik asing maupun lokal khususnya backpacker. Di gang yang lebarnya hanya cukup untuk satu mobil saja ini selain suvenir khas Bali, juga terdapat penginapan, mini market, kafe, restoran bahkan tempat pijat. Harga-harga yang ditawarkan sangat terjangkau oleh wisatawan dengan modal terbatas, namun tetap dengan pelayanan dan keramahan level bintang lima.

"Padahal dulu sebelum restoran Poppies berdiri, oleh warga gang ini dinamai gang memedi karena sepi, gelap. Hanya ada beberapa rumah dengan penerangan obor. Yah bisa dibilang tempat jalan-jalannya makhluk haluslah," kenang Kadek yang ternyata termasuk generasi kedua dari warga Bali yang menggantungkan nasibnya di gang ini sembari tertawa.

Tak terasa malam semakin larut dan segelas brem (minuman fermentasi khas Bali) yang disajikan Kadek sudah tandas. Saya pun berpamitan untuk melanjutkan perjalanan kembali ke hotel.

Saat hendak beranjak tiba-tiba didatangi seorang perempuan muda yang langsung menyapa, "Massage, bang?” sembari memamerkan senyum ramah sedikit menggoda.

"Nah, ini juga termasuk makhluk halus yang saya ceritakan tadi bang," seloroh Kadek sambil tertawa.

Saya pun hanya bisa membalas dengan senyum. Ah… Gang Poppies, suasana dan keramahannya membuat saya berjanji dalam hati untuk kembali mengunjunginya suatu saat nanti.


Peserta Bimbingan Teknis Pembuatan Konten untuk Peningkatan Kompetensi Jurnalis Media Center Daerah 

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More