Mari Menjelajah di Kelas

Penulis: Fathurrozak Pada: Minggu, 29 Apr 2018, 10:32 WIB Humaniora
Mari Menjelajah di Kelas

Dok. Hellomotion
Siswa SMA Hellomotion, Ciputat, Banten dilatih untuk bertukar ide dengan kawan-kawannya hingga berjumpa pakar dan praktisi dalam program Meet The Master.

NOT all those who wander are lost. Tulisan itu menjadi bagian mural pada pilar di ruang kelas itu. Di lantai kertas-kertas berserakan, titik-titik tinta tersebar, dan beberapa lukisan abstrak dengan cat poster terselip di antaranya.

Di ruangan kelas yang lain, siswa-siswa mengelilingi meja. Mereka  bertukar ide, saling berargumentasi, dan sesekali berkompromi. Di sana mereka yang jadi peran utama, sedangkan guru mengarahkan sesekali dan memastikan mereka mencapai target pembelajaran.

Di SMA Hellomotion, Ciputat, Banten, belajar juga bisa dilakukan di lapangan sekolah. Mereka mengasah keterampilan menggambar di sana. Pada periode yang lain, mereka menonton bareng film pendek. Seusai menonton, para siswa bertukar tanggapan dan penilaian.

Para siswa angkatan pertama SMA ini memvalidasi bahwa kreativitas bisa berkelanjutan, bahkan bisa dilakukan formal dalam ruang kelas. Sekolah ini lahir dari perluasan ide yang mendasari penyelenggaraan Hellomotion. Institusi ini fokus pada pengembangan konten visual di Indonesia. Sang pendiri, Wahyu Aditya, juga menindaklanjutinya dalam kegiatan kompetisi film pendek dan animasi, Hellofest. Tahun ini, menjadi kali ke-12 penyelenggaraannya dan menjadi agenda wajib anak-anak muda penyuka kreativitas.

Seni mendominasi
Di sekolah ini konten seni dalam pembelajaran menjadi yang paling dominan. Dalam sepekan, pembelajaran seni bisa mencapai 20 jam untuk kelas satu dan dua.

“Untuk sementara, angkatan pertama baru buka jurusan IPS, karena kami anggap lebih mudah bersinggungan dengan visi-misi Hellomotion. Nah, apa yang membedakan SMA Hellomotion dengan SMA lain? Ada di metode pendekatannya. Kalau biasanya gunakan pola pendekatan saintifik, yaitu siswa mengawasi, menalar, dan bertanya, di sekolah kita gunakan pola pendekatan design thinking,” papar Trada Lardiatama Trada, sang Wakil Kepala SMA Hellomotion saat dijumpai di sekolah, Jumat (27/4).

Sekolah yang baru membuka tahun ajaran pada 2017 lalu kini memiliki satu kelas dengan jumlah 15 siswa. Dengan pola pendekatan design thinking, diharapkan siswa mampu menerapkan lima tahapan yang ada di dalamnya.

Trada melanjutkan, “Siswa diajak untuk berempati, yaitu berusaha menempatkan di posisi masalah tersebut. Kedua, setelah berempati, mencoba untuk memetakannya (define). Diharapkan, ia punya ide baru untuk problem solving-nya. Setelah nemu ide, baru buat aksinya, yaitu dengan membuat prototype, bisa berupa gerakan, aksi langsung, tulisan, atau film. Terakhir testing. Mereka coba share apakah ide ini berfungsi atau tidak, tapi kita sangat konsen di step yang paling awal. Bagaimana dia bisa membuat sebuah tindakan problem solving kalau dia tidak memiliki empati? Siswa harus merasakan masalahnya tersebut dan paham betul.”

Bagi para pengajarnya, sekolah memberikan pembekalan konsep disiplin positif. Artinya, guru mampu berpikir bahwa semua siswa itu baik dan memiliki seribu alasan positif sebelum menyalahkan siswa saat bermasalah. Kasih sayang dan kepatuhan juga menjadi fokus pada konsep ini sehingga akan melahirkan interaksi positif antara guru dan siswa, dan sebaliknya.

“Tapi, kita harus benar-benar sabar dan perlu tenaga ekstra,” tutur Trada, yang sebelumnya pernah mengajar selama tujuh tahun di sekolah kejuruan.

Berdampak
Kini dampak metode yang diterapkan Hellomotion pun mulai bisa dirasakan para guru. Para pengajar merasa siswa menjadi lebih komunikatif dengan guru di luar ruang pembelajaran. Trada menilai, tidak ada jarak antara siswa dan guru.

“Kuncinya, trust! Murid itu jarang diberi kepercayaan. Di keluarga juga mungkin orangtua kurang memberikan ruang, di masyarakat juga. Contoh, kalau ada murid yang nyeletuk, akan dianggap tabu. Kalau kita kasih kepercayaan, mereka akan bercerita dan akhirnya menjadi terbuka.”

Meski identik dengan dominasi konten seni, SMA Hellomotion juga tetap menerapkan kurikulum pendidikan nasional, yang saat ini menggunakan Kurikulum 2013. Dengan penggabungan konten desain visual di tiap pembelajarannya, diharapkan hal itu menjadi bekal bagi siswa untuk memilih pilihan yang berbeda.

Trada pun menyebutkan perlunya perhatian keluarga sebagai pendukung utama sebagai jaringan Tri Pusat Pendidikan. Baginya, keluarga ialah pendidikan terbaik. Jadi, semua tanggung jawab tidak bisa dilemparkan ke pengajar di sekolah, tetapi unsur Tri Pusat Pendidikan, yaitu sekolah, keluarga, dan masyarakat, juga harus memberikan peranan nyata demi pendidikan nasional yang lebih baik. Semua upaya itu dilakukan demi Indonesia yang lebih baik! (M-1)  

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More