Kejujuran Perempuan dalam Karya Seni

Penulis: (RS/M-4)/ Agus Utantoro Pada: Minggu, 29 Apr 2018, 08:40 WIB Tifa
Kejujuran Perempuan dalam Karya Seni

MI/AGUS UTANTORO

PARA perempuan ternyata mampu menghadirkan detail yang sangat indah yang jarang menjadi perhatian para perupa laki-laki, misalnya, pada sebuah mangkuk. Cairan yang ndledek di pinggir dapat dipindahkan ke kanvas melalui sapuan kuas yang indah dan menunjukkan perhatian yang detail.

Budayawan Romo Sindhunata mengemukakan hal itu saat membuka pameran lukisan bertajuk Pengilon karya 12 perupa perempuan di Bentara Budaya Yogyakarta, Jalan Suroto, Kota Yogyakarta, Sabtu (21/4) lalu. Karya mereka tergabung dalam Projek Bumbon dan akan dipamerkan hingga 29 April 2018.

Menurut Romo Sindhu, pameran ini berbeda dengan pameran yang selama ini didominasi perupa laki-laki. "Lewat karya-karya mereka, muncul aura dan aroma feminin yang tidak pernah muncul sebelumnya," ucap Sindhunata.

Pengilon atau cermin merupakan benda yang tidak pernah lepas dari tangan perempuan dalam kehidupan kesehariannya. Pantulan cermin tidak hanya memberikan perspektif diri sendiri, tetapi juga sekitarnya. Bahkan, cermin juga mampu memantulkan seluruh lekuk keindahan yang tidak hanya wujud yang menarik bagi mata lelaki.

Agustina 'Tina' Tri Wahyuningsih, salah satu perupa di pameran itu, mengatakan, cermin menjadi jalan refleksi mereka untuk mencari dan memaknai perjalanan hidup sebagai ibu, istri, dan pekerja.

Cermin merupakan benda yang sederhana secara bentuk dan fungsinya. Setiap orang memerlukan cermin untuk melihatnya secara utuh. Cermin juga menunjukkan dan menampakkan diri kita apa adanya. "Kita tersenyum, menangis, atau tertawa cermin akan memantulkan dengan jujur, tampak dengan jelas apa pun yang ada di diri kita, begitu tampak transparan," kata Agustina.

Bahkan, seluruh ingatan dan memori di masa lalu saat kita kecil, remaja, dewasa, dan menjadi ibu dapat tiba-tiba muncul, seolah refleksi diri itu hadir.

Perupa lain, Sari Handayani berkarya dengan media video berdurasi 5 menit menghadirkan gambar demi gambar seluk beluk keseharian seorang ibu. Videonya itu diberi judul Panggilan Domestik.

Sementara itu, Utin Rini menggabungkan beberapa media dalam kanvas, termasuk rajutan berwarna merah. Ia mengaku, Pengilon mengingatkannya pada kegiatan merajut yang diajarkan ibunya.

"Karya ini tentang penelusuran saya terhadap apa yang terjadi di masa lalu dan bagaimana realitas itu terlihat di jendela personal saya," katanya dalam keterangan karya berjudul Reflection of the Window ini.

Mommy zaman now

Selain di Yogyakarta, karya lainpara perupa perempuan Tanah Air juga tampil di Bali dan Jakarta secara serentak dalam memperingati Hari Kartini tahun ini.

Salah satu lukisan di antara 50 karya yang dipamerkan Komunitas 22 Ibu di Bentara Budaya Gianyar, Bali, cukup menarik perhatian pengunjung. Dengan mengambil judul Keseharian MOMMY Jaman NOW, Ariesa Pandanwangi menuangkan gagasannya di atas media kain berukuran 100 x 190 cm, dengan paduan warna-warni yang cemerlang. Kesan yang menunjukkan sebuah eksistensi tergambar dari goresan tersebut.

Bagi Ariesa, karyanya merupakan metafora keseharian tentang bagaimana tokoh 'aku' (perempuan) menjadi tokoh sentral. Visualisasi yang di atas bidang kain ialah cermin keseharian yang dijalankan sehari-hari. "Media kain yang dipakai mencerminkan perempuan menjalankan kehidupannya dengan fleksibel lentur mengikuti jaman now," ujarnya.

Konsep yang diusung Ariesa, 'aku' ialah tokoh sentral yang dibangun situasional. Dalam keseharian, total waktu 24 jam seakan tidak cukup menjalani hidup keseharian dengan berbagai aktivitas yang sangat padat.

Kurator pameran, Hardiman, hingga memilih tajuk 'Sang Subjek' karena dalam pengamatannya terhadap Komunitas 22 Ibu ini melihat ada semacam 'perlawanan' yang ingin menunjukkan eksistensinya bahwa perempuan tidaklah sekadar sebagai 'objek', tapi sekaligus subjek. Hal itu juga ditunjukkan, misalnya, dalam penggunaan media yang selama ini cenderung menjadi klaim kaum laki-laki. Misalnya, penggunaan cat minyak, fotografi, dan instalasi dalam karya-karyanya.

Sifat fleksibilitas, kata Hardiman, juga tergambar dari tidak adanya yang memegang teguh suatu aliran tertentu. Jadi, ada kebebasan dalam berbagai gaya untuk menunjukkan eksistensinya sebagai perempuan. Pesan-pesan yang disampaikan melalui karyanya pun berbicara bagaimana 'sang subjek' hadir di tengah publik dengan menunjukkan eksistensinya dengan peran ganda.

"Jadi, mereka (Komunitas 22 Ibu) dalam berkarya tak lagi hanya hobi, tapi sudah profesi, dan dijadikan alat mengekspresikan diri tentang eksistensinya," ujar Hardiman.

Komunitas 22 Ibu yang embrionya pada 21 April dan terbentuk pada 22 Desember 2013 ini awalnya beranggota 22 orang dari lintas profesi. Namun, dalam perkembangannya, kini komunitas itu memiliki 65 anggota dari sejumlah daerah, termasuk ada yang tinggal di Jerman.

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More