Nyawuri

Penulis: ONO SARWONO Pada: Minggu, 29 Apr 2018, 08:20 WIB Weekend
Nyawuri

MENYIMAK keriuhan politik elitis di negeri ini kini, tampaknya terjadi polarisasi dua kubu. Satu kubu tiada henti memproduksi serangan yang cenderung semau-maunya terhadap kubu lawan, sedangkan kubu yang menjadi sasaran bersikap banyak diam dan hanya sesekali menangkis.

Kondisi ini bila dianalogikan dalam pasemon dunia wayang seperti perseteruan antara Cakil dan kesatria. Cakil begitu banyak polah, sedangkan sang kesatria anteng. Meski bila dikaji dari sisi lakon, Cakil bukanlah tokoh penting dan berbahaya, polah tingkahnya banyak menyedot perhatian penonton (publik) karena gayeng (ramai).

Di tangan dalang yang terampil memainkan wayang, pertarungan Cakil dengan kesatria--biasa disebut perang Cakil atau Perang Kembang--bisa sangat atraktif dan indah. Namun, itu sekadar hiburan karena kehadiran Cakil dalam setiap lakon tidak berpengaruh apa-apa.

Berdaya bualan

Kisahnya, perang Cakil ini terjadi setelah sesi kesatria rampung menimba ilmu dari resi atau begawan. Kalau kesatria itu Arjuna (Pandawa), misalnya, yaitu seusai ia sowan kepada kakeknya, Begawan Abiyasa, di Pertapaan Saptaarga.

Ketika berada di tengah hutan dalam perjalanan pulang atau hendak ke suatu tempat tujuan lakunya, kesatria mendadak bertemu penghuni hutan yang bernama Cakil. Sebagian dalang menyebutnya Gendir Penjalin.

Cakil masuk kategori buta walau wadaknya ramping dan kecil. Deretan giginya runcing bak gergaji baja dengan empat taring bak bilah belati yang mengilap tajam menambah kesangarannya. Raut mukanya merah menyala melambangkan makhluk pemarah.

Pada setiap kesempatan, Cakil gemar memamerkan 'perangkat' istimewanya itu, yang seolah siap merajam siapa pun yang menjadi musuhnya. Ia juga suka meracau, mengeluarkan suara melengking yang membuat bulu kuduk siapa pun berdiri. Itulah modalnya untuk merontokkan mental lawan.

Dalam ceritanya, Cakil mencegat kesatria yang akan melewati hutan yang ia klaim sebagai wilayah kekuasaannya. Ia kemudian memaksa kesatria itu mengurungkan niatnya melewati hutan. Pokoknya dilarang melanjutkan perjalanannya. Bila nekat, akan menanggung risikonya.

Pada saat itulah Cakil lalu mempertontonkan kejagoannya berkelahi. Sambil memperlihatkan berbagai jurus silat, Cakil gegap gempita nyawuri, menghamburkan apa pun ke arah muka kesatria. Ada debu, sampah, kerikil, atau bahkan batu. Sambil nyawuri, Cakil mengeluarkan suara-suara aneh yang menakutkan.

Tidak berhenti di situ, Cakil juga memamerkan giginya yang mingis-mingis (tajam). Kekuatan otot di sekujur tubuhnya pun ia uji persis di depan atau di kiri-kanan kesatria dengan membanting-bantingkan diri. Ini usaha Cakil untuk menggentarkan lawan.

Namun, bagi kesatria, psywar menggebu-gebu Cakil tidak sedikit pun membuat mentalnya jatuh, apalagi takut. Kesatria memilih diam membisu dan terkesan mengabaikan. Namun, ketika perilaku Cakil sudah menginjak harga diri, kesatria baru bereaksi.

Ternyata, semua yang tampak mengerikan pada Cakil pepesan kosong. Cakil begitu rapuh. Semua keistimewaan yang dimiliki sekadar tampilan. Jurus-jurus serta kepiawaiannya menghunus curiga (keris), pun hanya berdaya bualan. Sekali kena sentil, Cakil jatuh terjerembap.

Koalisi buta

Dalam berperang, Cakil berusaha mengeluarkan seluruh kekuatannya. Berbagai macam cara ia lakukan untuk menggolkan nafsunya. Istilah lain, ampyak awur-awur, menggunakan dan melegalkan segala cara.

Namun, jangankan merobohkan, sekadar mencakar kulit kesatria pun, Cakil tidak mampu. Setiap langkahnya selalu sia-sia dan justru membuahkan petaka baginya. Satu serangan malah melahirkan dua kali pukulan lawan yang membentur tubuhnya.

Dalam perkeliran, Cakil akhirnya mati oleh kerisnya sendiri. Pusaka pemungkas yang semula ia gunakan untuk menghabisi lawan justru menjadi bumerang. Dengan sekali 'colekan' kesatria, keris menghunjam jantung Cakil sehingga terkapar selama-lamanya.

Menurut pakem klasik, Cakil tidak sendirian. Ia didukung teman koalisi buta yang semua penampilannya menggiriskan, yakni Rambutgeni, Pragalba, dan Juranggrawah. Semuanya galak dan ganas. Pertemanan mereka sangat kompak dan kuat. Protapnya, koalisi buta ini selalu menyerang lawan dengan cara mengeroyok.

Maka, ketika mengetahui Cakil mati, ketiga rekan koalisinya itu langsung menyerang kesatria berbarengan. Mereka menyerbu dari segala penjuru sehingga membuat kesatria bingung. Kesatria menjadi sulit menangkis atau melawan serangan yang bertubi-tubi.

Pada akhirnya, sang kesatria terpaksa mengeluarkan senjata pamungkas, panah. Ia melepaskan tiga panah mengarah ke ketiga buta tersebut. Akhirnya, semua penghalang lakunya itu lenyap bak ditelan bumi. Jalan sang kesatria melanjutkan darmanya kembali terbuka.

Jadi, di depan kesatria, terbukti Cakil bersama teman-teman koalisinya tidak ada apa-apanya. Mereka, yang semula mengerikan dengan segala derap langkah, kenyataannya tiada arti.

Dalam perkeliran, Cakil dan kawan-kawannya itu disebut Buta Prepat. Secara filosofis, mereka sesungguhnya lambang nafsu manusia, yakni amarah, aluamah, suapiah, dan mutmainah. Artinya, selalu ada dalam setiap insan selama ia masih memiliki lakon (hidup).

Kesatria sejati mesti mampu mengatasi semua nafsu itu. Serangan (ujian) ini datang ketika kesatria menjalani laku prihatin.

Hanya membuat gaduh

Dikontekskan dengan situasi kebangsaan saat ini, aksi Cakil dan kawan-kawan itu persis dengan suasana perpolitikan elitis saat ini. Ini ditandai dengan banyaknya 'sampah' yang dilontarkan elite dan kelompoknya tertentu terhadap kubu lawan politik mereka.

Bedanya, kalau perang Cakil dalam panggung parkeliran sangat indah dan menarik ditonton, dalam praktik politik terasa lain. Aksi 'Cakil' dan teman-temannya hanya membuat gaduh.

Seperti kesatria, kubu yang menjadi target serangan tetap tenang menghadapinya. Selama masih jujur serta memegang teguh etika dan moral, semua yang tampak menakutkan itu tidak ada apa-apanya.

Dalam kearifan lokal dikenal peribahasa becik ketitik, ala ketara. Artinya kurang lebih yang baik ketahuan, yang jelek juga diketahui. Suradira jayaningrat lebur dening pangastuti, kebencian dan kemarahan akan hancur oleh kelembutan dan kesabaran.

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More