Pram hanya Seorang Bapak Biasa

Penulis: */M-4 Pada: Minggu, 29 Apr 2018, 07:40 WIB Tifa
Pram hanya Seorang Bapak Biasa

MI/ROMMY PUJIANTO

TIGA mesin ketik, sarung yang terselampir pada sandaran kursi, dan meja kerja dengan berbagai perkakasnya seakan mengantar kita pada waktu saat sosok yang juga terwakilkan lewat patung kayu dan potret wajah sedang mengisap rokok kretek di ruangan berdinding putih itu menghabiskan masa-masa kreatifnya di sana.

Pramoedya Ananta Toer atau biasa dipanggil Pram dikenal lewat karya-karya sastranya. Termasuk di antara dari 50 deretan karyanya ialah tetralogi Pulau Buru. Melalui karya-karyanya pula, sebagai pembaca dan awam, kita mencoba memersepsikan Pram. Namun, bisa jadi kita benar-benar tak pernah mengetahui Pram dari kacamata intim.

Bila Soekarno enggan mengabadikan rumahnya sebagai saksi saat dibacakannya Proklamasi dan memilih menghancurkannya karena tak ingin barang-barang pribadinya menjadi objek pameran, Pram memilih sebaliknya.

Dalam pameran arsip bertajuk Namaku Pram, beragam hal mengenai Pram dipamerkan di ruang seni dia.lo.gue di Kemang Jakarta Selatan, hingga 20 Mei. Selain buku-buku, kutipan yang dicetak dalam spanduk-spanduk ukuran besar, video wawancara dengan keluarga, dan tata letak ruang kerja Pram, hal yang menarik tentu arsip-arsip.

Salah satu arsip memperlihatkan catatan-catatan Pram selama menjadi tahanan politik di Pulau Buru, Maluku. Pram kerap menggunakan kertas semen dengan tulisan mesin ketik atau tulisan tangan khas tegak bersambung.

Happy Salma, salah satu penggagas pameran ini, melalui yayasan Titimangsa, mengungkapkan Pram ialah pendokumentasi terbaik. "Saat saya berkunjung ke rumah Pram, dan bolpoin saya ketinggalan, kemudian saya ke sana lagi setelah beberapa tahun, masih disimpan. Termasuk keterangan waktu tahun bolpoin itu tertinggal di rumahnya," ungkap perempuan yang juga membidani pentas Bunga Penutup Abad, adaptasi dari karya Pram.

Yang terkasih

Surat-surat dari istrinya, Maemunah Thamrin, yang makamnya bertumpuk dengan suaminya, juga tiga anak perempuan dan satu bungsu lelakinya, cukup mewakili bagaimana Pram hanyalah seorang bapak seperti kebanyakan bapak.

Dalam salah satu surat anaknya, disebutkan alasan Pram tak pernah menggambarkan kondisinya, hanya selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan, khas seorang bapak yang selalu ingin terlihat tegar di hadapan anak-anaknya dan tak ingin melihat anaknya ikut memikirkan derita yang Pram alami.

Lewat surat-surat itu pula kita bisa membaca peristiwa-peristiwa apa saja yang terjadi saat Pram ada di Pulau Buru, termasuk cerita Astuti Ananta Toer, dalam surat tertanggal 23 Maret 1977 untuk membalas surat Pram pada 21 Mei 1976. Astuti bercerita ia mengalami kecelakaan motor dan mengalami gegar otak ringan serta terdapat sedikit sobekan di kepala.

Namaku Pram, sebuah lubang lain upaya mengenal Pramoedya Ananta Toer yang kita kenal dengan keberaniannya, ialah jejak kontroversialnya bersama Lekra pada masa itu. Namun, tak lain ia ialah bapak yang tak luput dari kisah kasihnya yang lembut dan penuh dengan perhatian. Termasuk saat ia memperhatikan perkembangan anaknya, Yudhistira Ananta Toer. Lelaki kelahiran Blora yang pernah menjadi penggembala kambing itu tak lain hanya seorang bapak biasa layaknya para bapak kita, penyayang anaknya.

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More