Perhiasan Nusantara Memikat Mata Kaya Cerita

Penulis: Iis Zatnika Pada: Minggu, 29 Apr 2018, 06:00 WIB Weekend
Perhiasan Nusantara Memikat Mata Kaya Cerita

DOK PRIBADI

KISAH tentang perempuan, rahim, tradisi peranakan, perhiasan sebagai alat pembujuk, dan tanda cinta laki-laki kepada calon mempelainya dituangkan dalam desain perhiasan, yakni anting-anting, kalung, cincin dan kalung.

Perpaduan emas dan berlian dalam desain yang sarat cerita tentang tradisi serta ikhtiar menghubungkannya kembali dengan kaum urban membuat perhiasan tersebut kian istimewa.

Pesona siluet serta ukiran yang dibuat teramat presisi itu dipertunjukkan pada peluncuran Koleksi Perhiasan Nusantara, hasil kolaborasi desainer senior Samuel Wattimena dengan The Palace Jeweler di Jakarta, Kamis (19/4).

Ada tiga seri perhiasan yang menurut Samuel mengajak perempuan urban memburu kecantikan perhiasan sekaligus cerita yang menyertainya. Nusantara menjadi rangkaian seri Nusa, Anta, dan Tara yang bermakna kepulauan, imajinasi, dan cita-cita serta perempuan sarat pencapaian dengan semangat kebebasan jiwa.

"Ketiganya juga sekaligus mewakili tiga wajah Indonesia, yakni barat, tengah, dan timur," ujar Samuel.

Nusa, Anta, dan Tara

Seri Nusa terinspirasi dari pending yang dalam kultur Jawa dan Sunda bermakna perhiasan di dada dan ikat pinggang yang lazimnya dihias berdesain kerawang, bermotif lubang-lubang.

Antropolog Universitas Indonesia Notty J Mahdi pun berkisah, pending masuk ke Nusantara sebagai hadiah dari Tiongkok pada abad ke-7 buat Sriwijaya yang saat itu teramat disegani. Siluet itu kemudian menjadi salah satu wujud kultur peranakan.

Inspirasi pending kemudian diwujudkan dalam desain menyerupai potongan berlian yang disebut marquise, dipadukan aneka ukiran yang detail di dalamnya. Siluet itu pun menjadi aksen yang dipastikan mencuri perhatian, tapi tetap anggun.

Dari tengah, ada seri Anta yang terinspirasi dari perhiasan identitas warga Sumba dan wilayah lain Nusa Tenggara, mamuli dan marangga atau maraga.

Mamuli berbentuk menyerupai mata pena di bagian atasnya dan mengecil di bagian bawah dengan aneka ornamen di sekitarnya, termasuk dua sosok yang memegang tombak dan perisai, masing-masing di kanan dan kiri. Mamuli dikenakan di telinga sekaligus menjadi penanda identitas perempuan, kesuburan, rahim yang melahirkan generasi penerus.

Ditransformasi dalam set perhiasan kekinian, siluet utamanya dipertahankan. Namun, sosok prajurit nan gagah diganti dengan lengkungan.

Perpaduan emas dan berlian itu dipastikan tak hanya memikat perhatian, tetapi juga akan memantik tanya. Siapkan kisah tentang penghormatan kultur Sumba pada perempuan serta korelasi sosok prajurit dengan rahim-rahim yang melahirkannya.

Dari penjuru timur, ada seri Tara, yang siluetnya diambil dari perhiasan warga Indonesia Timur, mas bulan base, belak, serta pepek soriti. Belak, dalam kultur aslinya dikerjakan dengan cucuran keringat. Perajinnya menempa dan membentuk logam di antara api dan palu. Ketika dikenakan di leher perempuan, kedua ujungnya diikat benang merah yang disematkan pada lubang kecil di tengahnya.

Pada koleksi Nusantara, belak ialah tanda cinta laki-laki yang dibawa pada sang kekasih saat melamar, diwujudkan dengan apik dalam aneka motif emas berpadu berlian.

Siluet lingkaran dipertahankan, dengan lubang kecil di tengah, sebagai aksen utama. Tara, perempuan yang terus meraih aneka pencapaian, tampil percaya diri dengan aksen itu, mungil maupun besar.

Tradisi nan modern

Ada 86 jenis perhiasan dengan harga mulai Rp4,3 juta dengan emas seberat 2,350 gram dan berlian 0,069 karat hingga kalung emas 106,37 gram seharga Rp132 juta untuk kalung emas 106,37 gram.

Perhiasan tersebut dikenakan enam model berkebaya, berhijab, bergaun formal hingga kasual. Menurut Samuel, tak perlu risau memadu-padankan tiga seri tersebut. Sebab, mengenakannya pun hanya salah satunya. "Kami mengambil siluet dan inspirasinya. Jadi, kendati bernilai tradisi, tampilannya tetap modern dan cocok dengan aneka gaya dan kegiatan yang dilakukan," ujar Samuel.

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More