Bertumbuh dari Bazar

Penulis: Hendrikus Yohanes Jurusan Jurnalistik Universitas Multimedia Nusantara/(M-1) Pada: Minggu, 29 Apr 2018, 02:00 WIB Weekend
Bertumbuh dari Bazar

DOK PRIBADI

Jennifer mengaku merintis bisnis konveksi dari nol dan dalam perjalanannya, ia pun merawat mereknya, Keun. Kini ia tengah menikmati aktivitas mendesain, mengawasi penjahit, membesarkan mereknya, mengobrol dengan pelanggan, dan berniaga dari satu bazar ke bazar yang lain.

Ceritakan dong tentang bisnis kamu?

Baru jalan hampir setahun ini sih. Sampai saat ini pun harus banyak belajar lagi soal bisnis ini. Apalagi, saya dari enggak tahu apa-apa soal konveksi, sekarang terus berproses untuk brand saya, Keun.

Gimana perjalanan kamu mendirikan Keun?

Awalnya bukan mau bisnis ini sebenarnya, tadinya pengin buka rumah makan. Pertimbangannya, banyak yang jual aneka sajian ayam karena bahan bakunya murah, tapi ternyata saingannya banyak.

Akhirnya saya survei kecil-kecilan, lihat kebutuhan orang, makin ke arah gaya hidup atau mode. Akhirnya saya memilih bisnis konveksi, selain karena permintaan pasar banyak, kita bisa bebas berkreasi terus. Intinya kan enggak mungkin basi, kalau makanan kan bisa basi. Awalnya modal nekat karena belum ngerti, dari pegawainya cuma satu terus keluar, jatuh bangun juga, tapi kita kan belajar bukan hanya di sekolah, bisa di mana saja. Sampai begini deh, ikut bazar terus pameran, festival.

Saya sudah punya rencana, baru mau buka toko di Mal Teras Kota, tapi belum sekarang, nunggu timing-nya sih.

Bulan Ramadan kan udah dekat, permintaan pasti bertambah. Nah kalau masih ada tempat untuk jualan dengan tidak mengeluarkan modal banyak, tentu pilih itu. Dana untuk buka toko bisa buat aneka keperluan yang lain dulu.

Cara kamu berjualan ?

Nah ini masih agak susah buat saya, pertama kan pikirnya media sosial, tapi kok enggak terlalu efektif menarik pelanggan. Akhirnya ikut bazar-bazar atau pameran.

Saya juga ikut komunitas UMKM, nah di situ ngobrol sama ibu-ibu di sana, lebih ke word of mouth, metode ini sampai sekarang masih jalan. Polanya, saya nawarin jasa custom, dengan kualitas mal, tapi harganya ala Tanah Abang.

Karena saya bisnis konveksi, saya juga bikin baju buat merek orang. Saya bikin bajunya, tapi emblem merek pakai punya dia. Pokoknya menerima jahitan untuk merek orang. Sampai saat ini saya masih melayani semuanya, pesanan satuan hingga lusinan atau jumlah yang lebih banyak lagi.

Jenis pakaian yang kamu produksi?

Macam-macam sih, ada gamis, kulot, blus, dress, sama kemeja, 80% baju perempuan, itu yang merek saya sendiri.

Kan ada juga yang buat untuk merek orang lain, itu bisa macam-macam dan apa saja.

Produk saya untuk lelaki cuma kemeja, itu pun kalau ada pesan, baru dibikin. Nah sekarang mau bulan Ramadan gini, banyak yang pesan untuk bikin baju koko juga, kalau mau di-custom minimal selusin.

Siapa saja pelanggan kamu?

Kebanyakan sih ibu-ibu yang jual-jual baju, tapi kadang juga ada yang cari pakaian buat dipakai sendiri.

Mayoritas pelanggan, beli lalu ditambahkan merek mereka. Ada beberapa desain tadinya buat brand sendiri, tapi karena banyak yang akhirnya yang minta dijadikan brand mereka, saya terima aja.

Bagaimana pertumbuhan bisnis kamu?

Saat ikut bazar ini itu, biasanya ada saja konsumen baru. Produk paling laku ya busana muslim, gamis, blus yang tertutup. Awalnya enggak kepikiran bakal jualan baju jenis begini, tapi memang pasarnya saya mungkin di situ.

Ciri khas produksi kamu?

Pembedanya, misalnya, gamis, biasanya kalau konveksi lain coraknya kan satu baju. Nah kalau saya, biasanya modifikasi lagi corak sama polos. Terus ada emblem untuk memperindah gayanya.

Terus biasanya jika ada bagian yang harus menggunakan dalaman, saya bikin jadi satu.

Saya juga terus ikut perkembangan mode supaya orang menggunakan pakaian sopan tapi masih mengikuti mode.

Dari fotografi ke dunia konveksi, seru juga ya dunia yang kamu geluti?

Fokus sekarang ke konveksi, kalau bisnis dokumentasi mungkin pemasarannya kurang bagus.

Enggak kepikiran juga sih, bisa banting setir jauh begini. Intinya harus kreatiflah. Sekarang foto saya anggap hobi.

Cara kamu bersaing dalam soal harga?

Intinya kalau dibandingkan dengan konveksi lain atau produk lain, dengan kualitas seperti produk saya ini, harganya sangat-sangat terjangkau.

Pesanan terbanyak?

Sejumlah 250 buah sekali pesan, itu yang paling banyak, karena saya juga masih kekurangan pegawai.

Jadi kalau untuk partai lebih besar dari itu bisa, tapi mungkin butuh waktu di proses pengerjaan karena kan harus teliti.

Banyak konveksi lain yang buat pakaian, tapi jahitannya enggak ketemu, kalau punya saya, detil, rapi, dan dicek terus. Sekarang, kebanyakan yang pesan 2 atau 3 kodi.

Kiat sukses kamu ikut bazar?

Minimal seminggu harus sekali bazar mengingat saya belum punya toko. Jadi bazar satu-satunya kesempatan berjualan. Apalagi kadang-kadang pelanggan pasti menanyakan kenapa enggak ikut bazar.

Kebanyakan para pelanggan itu mau ketemu sama saya. Bazarnya sih enggak tentu, bisa di mana saja. Belum lama ini ikut bazar di Bulog dan Festival Palang Pintu Kemang.

Saat bazar, saya hanya menyediakan produk sendiri. Nanti kita dekati lagi pelanggan, jelaskan kalau desain itu bisa di-custom dan jasa kami lainnya.

Sudah untung belum nih?

Kalau dihitung-hitung sih, saya baru bisa untung beberapa bulan belakangan ini. Kalau diingat jerih payah yang saya keluarkan sampai sekarang, saya bisa bilang bersyukur banget. Yah kalau dihitung-hitung bisa buat makan enak dan ada sisa buat nabung hehe.

Kiat kamu buat bersaing di pasar konveksi?

Kasih harga yang terjangkau, juga kualitas. Karena siapa sih yang enggak mau harga murah, kualitas bagus?

Tapi jangan lupa, ini merupakan bisnis lifestyle, jadi harus tetap mengikuti mode dan tren biar enggak ketinggalan.

Percuma kan kalau produknya dijahit bagus, tapi desainnya sudah enggak jaman.

Satu lagi, harus terus belajar, apa pun itu, termasuk soal permintaan pasar dan kendala yang harus dihadapi. Enggak berhasil dengan satu cara, harus coba dengan cara yang lain.

Tantangan yang kini kamu hadapi dan cara mengatasinya?

Marketingnya belum maksimal, sudah coba memakai website, medsos, tapi enggak berhasil di situ. Jadi, sekarang masih pakai cara dari mulut ke mulut, dan bisnis bisa jalan. Memang masih harus banyak belajar lagi sih.

Kiat yang bisa kamu bagi buat Muda yang merintis usaha?

Jangan takut melangkah ke sesuatu yang bukan bidang kamu. Janganlah terlalu idealis. Enggak usah pilih-pilih mau ini mau itu. Jalani apa saja yang penting bisa menghasilkan, tapi harus dengan cara-cara kreatif sehingga menghasilkan sesuatu yang benar, jangan gengsi.

Biodata

Nama: Jennifer

Tempat, tanggal lahir: Jakarta, 30 September 1998

Pendidikan: D-3 Perhotelan Universitas Pelita Harapan, Tangerang, Banten

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More