Udang Sarang Burung nan Menggoda

Penulis: Fathurrazak Pada: Sabtu, 28 Apr 2018, 23:15 WIB Kuliner
Udang Sarang Burung nan Menggoda

MI/Pius Erlangga

Fishology tidak hanya menawarkan sajian olahan boga bahari ala tradisional Indonesia, tetapi juga memberikan pilihan dengan sajian gaya Barat. Cita rasa Timur Indonesia begitu kuat dalam sejumlah menu yang disajikan.

SUATU siang yang panas terasa di kawasan Sunter, Jakarta Utara. Segera sengatan terik itu mendadak sirna saat lidah mengecap gurih udang tepung sarang burung. Sebagai salah satu sajian makan siang pengisi jeda kegiatan, pilihan udang tepung sarang burung racikan Fishology sangat pas dikunyah. Tekstur empuk udang, tepung yang sengaja digoreng tidak terlalu crispy juga tidak terlalu lembek, ialah kunci masakan ini menjadi jagoan tersendiri bagi yang mencobanya.

Lengkap dengan suwiran di atas udang tepung, mahkota yang menyerupai sarang burung berwarna jingga kecokelatan, terbuat dari kuning telur. Bila disatukan saat memakannya, akan terasa lebih nikmat.

Saat menyantap satu potong, lidah rasanya tidak ingin berhenti karena amis udang juga tidak tercium. Jadi, tidak memicu enek. Kesegaran menu ini terbukti saat mengonsumsinya, lidah tidak gatal. Sebab, makanan laut yang sudah terlalu lama, biasanya bila dikonsumsi akan menyebabkan gatal di lidah.

Fishology menggunakan jenis udang pancet (tiger prawn), yang berukuran sedang. Udang yang sudah dikupas kulitnya dibungkus dengan tepung kemudian digoreng. Tidak berhenti di situ, saus keju mengguyur udang tepung untuk menambah kegurihan.

Dengan harga Rp50 ribu per porsi, rasanya sepadan, untuk makan siang yang ringan dan tidak terlalu berat.

Untuk menyegarkan hari, ada juga pilihan sayur brokoli yang dipadukan dengan tiga jenis jamur kuping, shitake, dan merang. Dari ketiganya saya sangat suka dengan jamur shitake. Jamur yang berasal dari Asia Timur dan memiliki nama lain jamur hioko ini begitu lembut dan memanjakan lidah. Tekstur dagingnya lebih tebal daripada jamur kuping dan merang.

Itu membuat bumbu lebih meresap sehingga rasa asin yang muncul pun pas. Sayang, jamur kupingnya sedikit kurang segar, tapi masih terasa tekstur kenyal jelinya.

Nasi bali boga bahari

Bila Anda memerlukan makan siang yang agak berat, salah satu menu andalan bisa jadi pilihan. Meski Fishology menyediakan segala jenis sajian boga bahari (seafood), pemilik kafe yang baru berjalan dua bulan ini ingin menawarkan alternatif masakan khas Pulau Dewata, nasi bali.

Siang itu saya mencicipi nasi bali ayam betutu, dengan bumbu yang diguyurkan di atas nasi, laiknya nasi bali, lengkap dengan ayam suwir, kacang tanah goreng, serta urapan sayur kacang. Menu ini juga dilengkapi sambal matah yang segar karena tidak terlalu berminyak. Satu porsi dihargai Rp40 ribu.

"Menu nasi bali yang saya sajikan ini berasal dari Karangasem," aku Hero Gozal, pemilik Fishology.

Ayam betutu boleh dikatakan ialah keharusan dalam menu nasi bali. Tidak bagi Hero Gozal. Ia melakukan eksplorasi menu dengan memberikan tawaran alternatif berupa paduan nasi bali dengan berbagai jenis boga bahari. "Ada nasi bali dengan lobster, nasi bali kepiting. Saya mencoba mengeksplorasinya. Mungkin bisa dikatakan, tempat kita pelopor nasi bali seafood."

Bila Anda datang berombongan, tidak salah bila memilih menu besar boga bahari yang disajikan ala Bbarat. Salah satunya ada small plate 3, yang terdiri atas kepiting, lobster, kentang goreng, dan jagung.

Saat mencoba menu ini, sepertinya bumbu agak kurang meresap ke daging kepiting dan lobster. Namun, lobsternya memang terasa lebih nikmat ketimbang kepiting karena ada beberapa bagian daging kepiting yang hancur. Satu porsi small plate 3 dibanderol Rp230 ribu, tapi bisa untuk dua sampai empat orang.

Saat memasuki kafe yang terletak di Jalan Danau Agung Tengah 3, Blok F Nomor 5 Sunter, Jakarta Utara ini, kami serasa memasuki 'petilan' dunia koboi. Tumpukan kayu yang digunakan untuk mengasapi makanan laut ada di bagian depan kafe, desain bangunan dengan batu bata ekspos, serta beberapa pajangan pelat menempel di dinding, memperkuat karakter dan jadi pembeda dengan beberapa tempat makan yang menyajikan menu laut. Tidak ada asap yang mengepul karena tempatnya memang didesain antara dapur serta tempat pengasapan tidak menyatu dengan tempat makan.

"Saya memang ingin sajikan tempat yang tidak cuma untuk makan, tapi bagaimana kita juga bisa ngobrol dan mungkin secara ambience lebih anak muda," terang Hero, lelaki asli Ambon, Maluku, ini. Sebelumnya, ia juga sempat membuka bisnis kuliner di Ambon, yang juga menyediakan menu serbalaut.

Di Fishology, Hero Gozal ingin menawarkan sajian olahan boga bahari ala tradisional Indonesia, tapi juga memberikan pilihan dengan sajian gaya Barat. Bumbu-bumbu yang ia gunakan tak lain ialah dari kotanya, Ambon, dan beberapa menu Bali. Ia juga ingin memberikan penawaran pada penggemar nasi bali tanpa ada pantangan bahan baku di dalam menu tanpa menyertakan lawar.

Anda sudah menentukan mau mencicipi menu mana? Tergoda udang sarang burung, atau ingin merasakan sensasi nasi bali boga bahari? Biar tidak bingung, Anda bisa cek beberapa menunya di @fishology.co.id.

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More