Maraton Bangun Persepsi Diri

Penulis: Indy100/Ire/X-7 Pada: Sabtu, 28 Apr 2018, 08:30 WIB Humaniora
Maraton Bangun Persepsi Diri

MARATON itu sulit, butuh waktu berbulan-bulan untuk persiapan dan pelatihan untuk mencapai garis akhir. Namun, kesulitan itu membantu pelari membangun dan merevolusi persepsi serta mencintai diri sendiri. "Pergeseran itu tidak didorong oleh perubahan fisik, tetapi pikiran," ungkap Rhi Willmot, peneliti psikologi perilaku dan positif, Universitas Bangor, Inggris.

Maraton, lanjutnya, juga membangun rasa kemanusiaan yang umum, mengacu pada pemahaman bahwa penderitaan ialah bagian alami dari kehidupan yang dapat menghindari siklus negatif mengasihani diri sendiri.

"Berlari dianggap sebagai olahraga yang terisolasi dan sangat kompetitif, tapi itu tidak selalu benar. Pelatihan maraton mungkin menyakitkan, tapi kadangkala kita harus mengalami tingkat penderitaan tertentu untuk benar-benar menghargai diri kita sendiri, orang lain," tukas Willmot.

Berita Terkini

Read More

Poling

BEBERAPA waktu lalu, nama Bung Hatta kembali ramai dibicarakan publik. Berawal dari pernyataan Koordinator Juru Bicara Prabowo Subianto, Dahnil Anzar, di sebuah video yang mengatakan kalau cawapresnya, Sandiaga Uno adalah sosok baru dari Bung Hatta. Hal itu langsung menuai keberatan dari cucu Bung Hatta, Gustika Jusuf Hatta. Sebelumnya, kubu Prabowo-Sandiaga juga sempat menyandingkan nama pahlawan seperti Cut Nyak Dien dan Kartini dengan Ratna Sarumpaet dan Neno Warisman. Setujukah Anda apabila pahlawan dijadikan komoditas politik guna meraih simpati masyarakat?





Berita Populer

Read More