Nada Raya untuk Indonesia

Penulis: Ardi Teristi Hardi Pada: Sabtu, 28 Apr 2018, 03:00 WIB KICK ANDY
Nada Raya untuk Indonesia

MI/SUMARYANTO BRONTO

SEJAK dikeluarkan Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 2013, Indonesia merayakan Hari Musik Nasional setiap 9 Maret. Penetapan hari istimewa itu dilakukan pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam upaya meningkatkan apresiasi terhadap musik di Tanah Air.

Musik dianggap sebagai ekspresi budaya yang bersifat universal dan multidimensional yang merepresentasikan nilai luhur kemanusiaan serta mempunyai nilai strategis dalam pembangunan nasional.

Berkaitan dengan itu, Kick Andy pada tayangan kali ini mengangkat tema musik bertajuk Nada Raya untuk Indonesia. Beberapa bintang tamu yang dihadirkan ialah Glen Fredly, Barry Likumahua, Endah and Rhesa, Vimast, Svara Samsara, Djauhari Oratmangun, Bens Leo, dan Wendy Putranto.

Andy F Noya selaku host acara mengatakan, masih terdapat konflik bernuansa SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) di tengah maraknya ujaran kebencian di media sosial. "Kita lihat negara kita sedikit terganggu sehingga membuat kita prihatin," kata Andy.

Di tengah keprihatinan itu, sambungnya, ada berita tentang optimisme kebangkitan musik Indonesia dari wilayah Indonesia Timur, tepatnya di Kota Ambon. Di Kota itu, sebuah Konferensi Musik Indonesia dan Festival 2018 digelar, tepatnya di Taman Budaya Ambon, 7-9 Maret 2018.

Acara itu sekaligus juga bagian dari peringatan Hari Musik Nasional. Lewat penetapan Hari Musik Nasional, pemerintah berharap kepercayaan diri dan motivasi insan musik Indonesia diharapkan dapat meningkat. Pada akhirnya musik Indonesia bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan menjadi salah satu ujung tombak kekuatan ekonomi kreatif.

Ketua Komite Konferensi Musik Indonesia Glen Fredly mengatakan musik berperan besar merekatkan masyarakat, termasuk saat terjadi konflik horisontal di Maluku, khususnya di Ambon, beberapa waktu yang lalu.

"Konflik horisontal yang pernah terjadi di Maluku, masyarakatnya sendiri yang punya inisiatif besar untuk bisa rekonsiliasi. Kekuatan utamanya adalah perekat kebudayaan dan musik mempersatukan," kata penyanyi berdarah Ambon itu.

Identitas kebudayaan

Terkait dengan Konferensi Musik Indonesia dan Festival 2018 yang diadakan di Ambon selama tiga hari, Glen menjabarkan, ada tiga poin penting yang dibahas, yaitu dari aspek ekonomi, pendidikan, dan ketahanan kebudayaan.

Salah satu poin yang cukup lama didiskusikan ialah mengenai pembajakan. Glen mengatakan, dampak pembajakan tidak hanya membuat rugi industri musik, tapi juga menghilangkan ketahanan dan identitas kebudayaan suatu bangsa.

"Pembajakan adalah wujud tidak ada perlindungan yang berlanjut, apalagi di era ekonomi terbuka seperti hari ini. Jika pembajakan dibiarkan, lama-lama kita akan kehilangan sejarah peradaban bangsa," sebutnya.

Padahal, dalam sebuah karya musik, ada hak moral yang ada dalam hak cipta tersebut. Meskipun Indonesia sudah punya Undang-Undang tentang Hak Cipta, imbuh Glen, tata kelola musik harus terus didukung, terutama dalam mengedukasi masyarakat untuk menghargai hak cipta.

Ia mencontohkan lagu-lagu Koes Plus yang banyak bercerita tentang kekayaan alam dan identitas Indonesia. Indonesia seharusnya bisa seperti Amerika yang berhasil mengelola budaya sehingga menjadi salah satu identitas bangsa dan menyejahterakan.

"Kalau musik Indonesia maju, pengaruhnya besar sekali, tidak hanya buat Indonesia, tetapi juga buat masyarakat," cetusnya.

Seusai acara, Glen mengaku telah menyampaikan hasil-hasil konferensi beserta rekomendasinya ke Presiden dan direspons positif. "Beliau menyampaikan, ini bisa menjadi strategi kebudayaan Indonesia untuk ke depan," kata dia.

Ke depan, masih dibutuhkan kerja-kerja kolektif, baik pemerintah, ekosistem musik, ataupun swasta untuk terus memajukan musik Indonesia. "Cara melihatnya tidak bisa hanya musisinya yang didorong untuk maju, tetapi juga pemerintah harus mendukung dan memberikan ruang untuk musik Indonesia, dari hulu ke hilir, bisa dikelola dengan baik."

Konferensi Musik Indonesia dan Festival 2018 rencananya akan diagendakan setiap tahun sebagai katalisator untuk mengevaluasi dan mengawal hasil rekomendasi dari setiap konferensi.

Konferensi tahun depan akan kembali diselenggarakan di Ambon sebagai upaya untuk mengangkat Ambon sebagai kota musik dunia. Jika Ambon sudah menjadi kota musik dunia, Ambon akan menjadi pintu untuk lahirnya kota-kota musik lain di Indonesia. Di negara-negara lain, kota-kota musik tidak hanya berada di satu kota, tetapi juga di beberapa kota.

Pada bagian lain, Glen mengatakan, saat ini musik Indonesia dianggap telah memiliki posisi bagus. Karena itu, musik Indonesia patut dirawat dan dijaga sehingga bisa dirasakan generasi ke depannya. Pada saat mereka memilih profesi bermusik, mereka bisa berdiri dengan bangga bahwa menjadi musisi itu layak.

Kurang promosi

Bens Leo, wartawan musik senior, menganggap Konferensi Musik Indonesia dan festival sangat penting diselenggarakan karena dalam ajang itulah dibahas semua permasalahan musik oleh seluruh pelaku di industri tersebut.

"Selama itu kita tidak pernah membahas secara detail per meja. Dan itu dibahas secara kelompok-kelompok," kata dia.

Salah satu yang dipertanyakan dalam konferensi tersebut ialah dalam pendidikan musik. Apakah guru-guru yang membuka kursus-kursus musik sampai ke pelosok-pelosok telah memiliki kapabilitas yang memadai?

Selain itu, ada pembahasan tentang peran musik yang bisa menjadi alat diplomasi di dunia internasional. Bens berharap konferensi musik Indonesia ke depan juga bisa terpublikasi ke dunia internasional sehingga dapat mewujudkan Ambon sebagai kota musik dunia.

Bens optimistis kiprah musisi Indonesia di dunia internasional akan semakin terbuka, terlebih di era digitalisasi dan media sosial sekarang ini. Apa pun yang dikerjakan akan dengan mudah merambah ke seluruh dunia.

Kiprah Dwiki Dharmawan sebagai salah satu musikus Indonesia yang tampil di luar negeri menjadi contohnya. Bens mengatakan, Dwiki setiap tahun bisa tampil hingga empat kali di berbagai ajang musik dunia.

Belum lagi, musisi indie yang banyak diundang tampil ke luar negeri. Menurut dia, yang kurang hanyalah promosi tentang musisi Indonesia yang tampil di luar negeri.

"Sering kali teman-teman musisi, terutama dari indie kalau ke luar negeri, tidak tahu sedang apa mereka di sana." Menurut dia, musisi Indonesia harus tetap didukung ketika tampil di luar negeri agar nama Indonesia bisa tetap mendunia.

Wartawan musik lainnya, Wendy Putranto, mengutarakan hal senada. Menurutnya, Konferensi Musik Indonesia dan Festival 2018 di Ambon sangat bersejarah karena membahas strategi industri musik Indonesia.

"Strategi musik Indonesia tersebut menyangkut yang harus dilakukan, masa depannya, dan kesejahteraan terkait musik Indonesia," katanya.

Ia berharap janji Presiden Joko Widodo untuk menyusun langkah-langkah penting dapat mewujudkan musik Indonesia sebagai tuan rumah di negeri sendiri. "Kita sebagai penulis dan jurnalis akan terus mengawal dan menagih janji tersebut," sebut Wendy.

Ia juga mengingatkan, membangun gedung-gedung pertunjukan dan sekolah musik merupakan salah satu strategi yang direkomendasikan. "Ibu Menteri Keuangan ketika menjadi keynote speaker di konferensi musik Indonesia sempat melontarkan janji bahwa beliau akan membangun sekolah-sekolah musik dan gedung-gedung pertunjukan di seluruh kota-kota yang ada di Indonesia," kata dia.

(M-4)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More