Politisi Ditinggalkan, Rakyat Irak Lirik Bintang Olahraga

Penulis: (AFP/Irene Harty/I-1) Pada: Kamis, 26 Apr 2018, 00:05 WIB Internasional
Politisi Ditinggalkan, Rakyat Irak Lirik Bintang Olahraga

AFP PHOTO / SAFIN HAMED

DALAM panas terik Meksiko 1986, Ahmed Radhi dan Basil Gorgis mengenakan seragam yang sama untuk mewakili tim sepak bola Irak berlaga di final Piala Dunia.

Namun, sepertiga abad kemudian, mereka ialah dua dari beberapa mantan bintang sepak bola yang ambil bagian dalam bidang yang sangat bertolak belakang, kandidat parlemen dalam pemilihan bulan depan.

Meski petualangan keduanya di Piala Dunia berakhir dengan kegagalan yang menyedihkan, yakni Irak tersingkir setelah kalah dalam tiga pertandingan di grupnya, mereka bisa menjadi daya tarik besar bagi para pemilih Irak.

"Rakyat Irak membutuhkan seseorang yang menunjukkan bahwa mereka fokus pada kepentingan mereka, dan siapa yang akan bekerja untuk menjamin kehidupan yang layak," kata Radhi, kandidat Aliansi Nasional (NA), yang pernah ikut pemilihan pada 2014, tetapi kalah.

Laki-laki berusia 54 tahun itu mengatakan kelompok politiknya menyatukan semua komunitas dan pengakuan. Aliansi Nasional dipimpin oleh Wakil Presiden Irak Ayad Allawi, seorang syiah sekuler, dan ketua parlemen Salim al-Juburi, yang seorang Sunni.

"Daftar kandidat NA ialah liberal dan melampaui konfesionalisme. Inilah yang diinginkan orang-orang sekarang," imbuhnya.

Sementara itu, Gorgis menjadi kandidat 'Abna al-Rafideyn', kelompok yang menyatukan orang-orang Kristen Chaldean, Assyria, dan Suriah. Dengan motivasi yang lebih khusus saat berada di Kota Arbil Kurdi, dia mengatakan akan berusaha melindungi kepentingan orang Kristen.

Selain kedua kandidat itu, muncul pula mantan penjaga gawang Irak lainnya, Chaker Mohammad Sabbar yang berdiri untuk hak-hak komunitasnya.

Berusia 50 tahun dan termasuk dalam kaum Sunni, Sabbar mengaku mendapat peringatan dari keluarga yang dicintainya. Namun, hal itu tidak menghentikannya mencalonkan diri sebagai kandidat di Ramadi, ibu kota Provinsi Anbar di Irak tengah yang sempat diduduki kelompok Islamic State (IS).

Sabbar tercatat di nomor 10 dalam daftar kelompok 'Tamaddun' yang mengadvokasi negara sekuler.

"Orang-orang sudah sangat menderita. Sekarang, sudah waktunya kepentingan kita dipertahankan, seperti kepentingan orang Irak lainnya," tambahnya.

Di sisi lain, ada juga mantan perenang internasional Sarmad Abdelilah, yang sekarang anggota Komite Olimpiade Nasional dan bergabung dengan 'Aliansi Kemenangan' Perdana Menteri Haider al-Abadi.

Pesaing lainnya termasuk Taleb Faysal, Ketua Federasi Angkat Besi Irak, yang ada dalam daftar 'Aliansi Hukum' mantan Perdana Menteri Nuri al-Maliki.

Ketidakpercayaan terhadap politisi menjelang pemungutan suara 12 Mei tercatat tinggi semenjak penggulingan mantan diktator Saddam Hussein 15 tahun lalu. "Kami lebih percaya kepada mereka daripada para politisi, yang tidak mengubah apa pun," kata Hussein Hassan, 45, warga Baghdad.

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More