Warga Rasakan Pilkada Sumut Berlangsung Ketat

Penulis: Usman Kansong/Puji Santoso Pada: Rabu, 25 Apr 2018, 17:21 WIB Politik dan Hukum
Warga Rasakan Pilkada Sumut Berlangsung Ketat

WARGA Kota Medan, Sumatra Utara, merasakan Pilkada Sumut berlangsung ketat. Selisih perolehan suara di antara dua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Sumut bakal tipis.

Pilkada Sumut 2018 menampilkan dua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur, yakni Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus dan Ediy Rahmayadi-Musa Rajekshah. Pasangan Djarot-Sihar didukung PDIP dan PPP, sedangkan pasangan Edi-Musa didukung Partai Golkar, Partai Gerindra, PAN, PKS, Partai NasDem, Hanura.

Ada pasangan lain yang sedianya bertanding di Pilkada Sumut, yakni JR Saragih dan Ance Selian yang didukung Partai Demokrat dan PKB. Namun, pencalonan mereka dibatalkan karena ijazah JR Saragih terbukti palsu.

JR Saragih melalui video yang viral menyatakan dukungannya bagi pasangan Djarot Sihar. JR jelas 'meminta' para pendukungnya mengalihkan dukungan ke Djarot-Sihar. “Inilah antara lain yang menyebabkan pertarungan di Pilkada Sumut jadi ketat,” kata seorang sopir Grab bermarga Siregar.

Pilkada Sumut tak bisa dilepaskan dari isu primordial, baik etnis maupun agama. Djarot beretnis Jawa dan beragama Islam, sedangkan Sihar beretnis Batak dan menganut Kristen. Edy Rahmayadi dan Musa Rajekshah keduanya beretnis Melayu dan muslim.

Bila JR Saragih dan Ance ikut berlaga di Pilkada, suara pemilih dari kalangan etnis Batak dan Kristen terpecah antara memilih JR Saragih dan Ance atau Djarot-Sihar. Dengan mundurnya JR Saragih dan Ance, suara pemilih beretnis Batak dan beragama Kristen mungkin mengerucut ke Djarot-Sihar. Di sisi lain, Djarot yang beretnis Jawa bisa mencuri suara orang Jawa yang merupakan etnis terbesar penghuni Sumatra Utara.

Survei memang masih 'memenangkan' pasangan Edi-Musa, tetapi selisih dengan perolehan suara Djarot-Sihar kian kecil. Ada pendapat, lebih tingginya suara Ediy-Musa karena mereka start lebih dulu, sedangkan Djarot-Sihar muncul di injury time. Djarot-Sihar, menurut warga, semakin kencang berkampanye untuk mengejar ketertinggalannya.

Selain urusan primordial, rekam jejak juga menjadi ukuran bagi warga dalam memilih. Seorang pengemudi becak motor mengatakan dirinya tidak suka dengan para calon wakil gubernur. “Sihar dan Ijek (Rajekshah) itu semuanya bermasalah karena urusan tanah. Ijek malah diperiksa KPK terkait korupsi Gatot (mantan Gubernur Sumut terpidana korupsi APBD),” kata pria bermarga Sinaga itu.

Tapi, Sinaga mengaku akan memilih Djarot. “Tak apalah Djarot orang luar Sumut, yang penting dia bisa bikin Sumut lebih baik,” kata Sinaga.

Rizal Siregar, sopir mobil sewaan, juga mengaku akan memilih Djarot. ''Pak Djarot itu sudah terbukti bagus waktu bersama-sama Pak Ahok di Jakarta,” ujar pria yang semasa Pilkada DKI 2017 bermukim di Jakarta itu.

Supriadi, sopir Grab, pun mengatakan akan memilih Djarot. “Nggak apa-apa Djarot orang luar Sumut. Selama ini Sumut dipimpin orang Sumut juga nggak maju-maju. Urus jalan saja nggak bisa,” katanya.

Sejumlah warga mengaku memilih Djarot, namun apakah Djarot-Sihat bisa memenangi Pilkada Sumut 2018? (X-10)

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More