Sang Pamomong

Penulis: Ono Sarwono Pada: Minggu, 22 Apr 2018, 07:45 WIB Opini
Sang Pamomong

TEMA hari ulang tahun ke-95 Nahdlatul Ulama (NU) yang baru lalu ialah Menuju satu Abad NU, memperkukuh ukhuwah wathoniyyah (persaudaraan berdasar kebangsaan) untuk Indonesia yang lebih sejahtera. Moral pokok pikiran ini jelas untuk menegaskan kembali akan jati diri NU sebagai salah satu pilar kukuh negara ini.

Dengan bahasa lain, NU merupakan bagian integral eksistensi bangsa dan negara ini. Tidak berlebihan pula dikatakan--ini terbukti dalam perjuangan ormas Islam ini sejak lahir hingga kini--selama NU masih ada, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tetap tegak berdiri.

Saking vitalnya posisi mereka itu, mendiang cendekiawan Nurcholish Madjid (Cak Nur) mengibaratkan jika umat Islam Indonesia, bahkan Indonesia itu sendiri, seekor burung garuda, NU ialah salah satu sayapnya. Sayap lainnya adalah Muhammadiyah.

Tulus dan ikhlas

Bila dianalogikan dalam dunia wayang, posisi NU itu persis seperti keberadaan Semar di Negara Amarta (Pandawa). Semar merupakan salah satu sayap Pandawa. Sayap lainnya digambarkan pada diri Kresna. Kedua tokoh ini tidak bisa dipisahkan dengan Pandawa, putra Pandudewanata-Kunti/Madrim, yakni Puntadewa, Werkudara, Arjuna, Nakula, dan Sadewa.

Dari sudut pandang budaya, NU itu ibarat Semar. Peran utamanya sang pamomong. Semarlah yang momong, yang meng-gulawentah atau mengasuh Pandawa, mulai usia kanak-kanak hingga dewasa menjadi kesatria utama. Semarlah yang mengisi jiwa dan mengkreasi serta membentuk karakter Pandawa.

Semar tidak pernah henti menjaga Pandawa untuk senantiasa pada jalur sebagai kesatria linuwih (hebat) sampai pengabdian mereka kepada dunia paripurna. Tanpa Semar Pandawa akan kehilangan kiblat. Bahkan, bukanlah tidak mungkin para cucu Abiyasa itu ambruk dan musnah tak berbekas dalam peta peradaban.

Dalam sanggit pedalangan, Semar digambarkan selalu menuntun Pandawa ke jalan yang diridai. Ia intens menunjukkan mana yang benar dan mana yang salah. Mana becik dan mana tidak baik. Mana perilaku luhur, mana perbuatan kufur, dan sebagainya. Oleh karena itu, dalam setiap kemunculannya, Semar tidak banyak bicara di luar konteks itu.

Semar akan menyegerakan diri meluruskan Pandawa ketika momongannya itu melakukan kekeliruan atau kealpaan. Semar juga langsung menunjukkan pepadang (jalan keluar) bila momongannya didera kegelapan atau kesulitan. Semar juga tidak akan lelah memotivasi momongannya jika tidak bergairah atau kalah ketika sedang diterpa ujian hidup.

Pada sisi lain, Semar tampil di garis depan bila Amarta diganggu para siluman yang tidak kasatmata. Ia akan mengejar dan menemukan aktor intelektualnya, lalu disirnakan seketika. Biasanya, kreator pengganggu Pandawa ialah Dewi Durga dan balanya dari Kahyangan Setragandamayit.

Catatan penting lain pada Semar ialah ia tidak pernah mendapatkan imbal balik dari jerih payahnya, bahkan jiwa raganya yang telah dipertaruhkan. Ia memberikan sumbangsihnya itu kepada Pandawa dengan tulus dan ikhlas. Lakunya itu ia jadikan ibadahnya di marcapada.

Semar bersama ketiga anaknya, yakni Gareng, Petruk, dan Bagong tetap berderajat wong cilik. Ia memang tidak ingin memiliki jabatan formal dan tinggal di tempat mewah yang berlimpah. Semar merasa terhormat dan ayem tenteram tinggal di rumah sederhana di Dusun Karangkadempel.

Lima laku utama

Maka, konteks ketika dalam perayaan ulang tahunnya itu Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) menggelar pergelaran wayang kulit dengan lakon Kalimasada Kawedhar, Sabtu (7/4). Pertunjukan semalam suntuk itu dibawakan dalang muda dari Surakarta kelahiran Blitar (Jawa Timur), Ki Cahyo Kuntadi.

Kisah dalam lakon itu menggambarkan betapa sentralnya ketokohan Semar mengurai sekaligus menyelesaikan persoalan kebangsaan yang melanda Amarta. Kondisi kebangsaan sedang gonjang-ganjing, persatuan terancam pecah, dan negara di ambang kehancuran. Kondisi menggiriskan itu akibat hilangnya pusaka Kalimasada.

Ki Cahyo menyanggit persoalan pokok itu menjadi lead atau prolog pergelarannya. Itu digambarkan dengan pertemuan empat mata antara Semar dan Raja Amarta Prapu Yudhistira alias Puntadewa. Dalam dialog mereka, Puntadewa menyatakan kesedihannya karena Kalimasada lepas dari genggamannya.

Semar mengaku dirinya sebenarnya sudah tahu ada sesuatu yang tidak semestinya sedang terjadi di Amarta. Rakyat tidak lagi hidup tenteram karena semua aspek kehidupan diliputi kanistan (perbuatan hina). Moral dan etika sudah hilang dari peri kehidupan.

Menurut Semar, Amarta akan kembali pulih bila semua komponen bangsa, mulai rakyat hingga para pemimpinnya, mesti kembali kepada pegangan hidup yang terdiri atas lima laku utama.

Pertama, bangsa Amarta mesti berketuhanan. Artinya, setiap insan harus beribadah sesuai dengan keyakinan masing-masing. Melaksanakan semua yang menjadi perintah-Nya dan menjauhi yang menjadi larangan-Nya.

Kedua, berwatak welas asih kepada sesama. Dalam hal itu setiap insan senantiasa memiliki rasa tresna sebagai sesama titah sehingga terwujud suasana peradaban yang mulia.

Ketiga, setiap insan mesti mengutamakan kerukunan sehingga tercipta persatuan yang kuat sebagai bangsa. Dengan demikian, tidak ada yang tidak bisa dicapai bila hal itu terwujud selamanya.

Keempat ialah menjunjung tinggi kebijaksanaan dalam setiap kali bertindak. Semua langkah mesti diambil setelah melibatkan semua aspirasi rakyat, sedangkan yang terakhir semua energi harus dibelanjakan bagi terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat.

Tampil terdepan

Itulah di antara yang diperankan Semar dalam menjaga eksistensi Amarta (Pandawa). Masih banyak contoh dalam kisah-kisah lain dalam pakeliran yang menceritakan betapa sentralnya peranan Semar dalam konstelasi politik di Amarta atau Indraprastha.

Sejujurnya Semar memang bukan titah sawantah, insan biasa. Ia Bathara Ismaya yang mengejawantah. Sanghyang Tunggal yang memerintahkan Ismaya turun ke marcapada dengan nama Semar yang diberi tugas membimbing para kesatria.

Dalam konteks kebangsaan, kodratnya NU memang 'diturunkan' ke Nusantara untuk momong negara ini. Pada sisi lain, seperti halnya Semar, NU akan berada di baris terdepan mengganyang bila ada pihak-pihak dari Setragandamayit yang berusaha mengusik, apalagi mengutak-atik eksistensi negara ini.

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More