Kartini Milenial Manfaatkan Medsos

Penulis: Siti Retno Wulandari Pada: Minggu, 22 Apr 2018, 07:15 WIB Jeda
Kartini Milenial Manfaatkan Medsos

ANTARA/ANIS EFIZUDIN

HIDUP di era digital memang lekat dengan dunia maya, yang sudah tentu generasi milenial terbanyak penggunanya. Bisa untuk menebar kebaikan, tetapi bisa juga untuk menebar isu-isu yang belum diketahui kebenarannya.

Melati Wijsen, 17, pendiri kampanye bye bye plastic bag, mengatakan, saat ini digital menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, khususnya remaja. Apalagi, dengan memiliki banyak pengikut, sudah tentu apa yang disampaikan bisa menyebar dengan cepat dan membawa pada perubahan-perubahan kecil.

Melati Wijsen mengatakan perempuan milenial memiliki kesenangannya sendiri. Yang terpenting berani berbicara, menjadi kreatif, dan sebarkan hal positif.

"Dengan medsos, kita bisa saling menguatkan, menguatkan daerah kita yang tertinggal, bahkan menguatkan negara ini," ujarnya di Bali, kemarin.

Remaja yang baru kembali dari acara European Parliament High-Level Roundtable Discussion on Plastic Free Ocean itu giat mengumpulkan sampah plastik dan menyuarakan agar tidak ada lagi penggunaan plastik di Bali.

Seruan itu disebar Melati yang memulai gerakannya pada 2013 melalui akun Instagram. Tak disangka justru muncul komunitas bye bye plastic bags dari daerah bahkan negara lain. Seperti yang ditemukan, ada akun bye bye plastic bags jakarta, bye bye plastic bags batam, juga bye bye plastic bags nepal. Meskipun banyak yang menyangsikan keberhasilan kampanye Melati, ia tak gentar, baginya selagi masih memiliki harapan dan mau beraksi maka tujuan akan bisa dicapai.

Memanfaatkan media sosial juga dilakukan Alamanda Shantika, 29, pendiri sekolah teknologi gratis Binar Academy; psikolog anak Devi Raissa, 30, dan make up artis Lizzie Parra (lihat hlm 6).

Pengantar pesan yang andal

Politikus muda Tsamara Amany, 21, dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mengatakan perempuan milenial saat ini jangan menyia-nyiakan kebebasan dan kesetaraan yang dimiliki. Perempuan bisa memanfaatkan ruang publik digital dan medsos untuk terlibat politik.

"Sekarang terbuka lebar peluang untuk perempuan-perempuan Indonesia terlibat dalam politik. Baik itu politik praktis maupun nonpraktis. Itu harus dimanfaatkan dengan baik. Jangan sampai perjuangan Kartini itu sia-sia," tegas Tsamara.

Medsos saat ini, lanjutnya, sudah bagus dengan bisa mengakomodasi suara perempuan. Namun, ia juga menyanyangkan munculnya beberapa komentar di medsos ketika perempuan mengemukakan pendapat. Itu juga yang harus dihindari karena itu tidak sesuai dengan semangat kekartinian," pungkas Tsamara.

Sementara itu, Kepala Pusat Studi Kajian Gender Universitas Indonesia, Lidwina Inge Nurtjahyo, melihat hubungan erat antara perempuan dan era digital. Di situ, perempuan menjadi penyerap pesan lantas membawakannya ke anggota keluarga.

"Perempuan memanfaatkan teknologi informasi nyaris untuk segala hal, dari silaturahim dengan kerabat, mencari informasi, belajar memasak, hingga menjahit," jelasnya.

Dalam beberapa konteks budaya di Indonesia, tambah Lidwina, perempuan tidak diperkenankan menjadi juru bicara keluarga besar dalam ruang publik. Namun, perempuan ialah agen penyampai berita yang andal karena dapat masuk pada ruang paling dalam di suatu komunitas.

Era digital, tambahnya, menyuguhkan ketiadaan batas dalam memunculkan ide dan pemikiran positif. "Namun, tak jarang justru menjadi sarana untuk berlaku jahat. Sebabnya, saat tidak berhadapan secara langsung, tidak ada ekspresi wajah dan respons gerak tubuh lawan bicara. Itu membuat seseorang tidak peka pada kemungkinan apa yang disampaikan itu melukai hati orang lain," jelasnya.

Untuk itu, berbicara dalam medsos haruslah santun seperti halnya komunikasi tatap muka. (Zuq/X-7)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More