Damarwulan Menakjingga tidak Lekang oleh Waktu

Penulis: Ardi Teristi Pada: Minggu, 22 Apr 2018, 00:18 WIB Tifa
Damarwulan Menakjingga tidak Lekang oleh Waktu

DOK. TMII

DI atas panggung itu, Damawulan dan Menakjingga bergelut. Di bawah bayangan cahaya, mereka saling menyerang dalam gerak teratur.

Bunyi gamelan Jawa gaya Mataraman yang harmonis mengiringi setiap entakan kaki keduanya, sepanjang pertempuran berlangsung. Hingga salah satu dari mereka pun mati.

Demikian salah satu adegan pementasan sendratari Damarwulan Menakjingga, di Sasono Langen Budoyo, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Jumat (13/4) malam.

Cerita rakyat yang berseting zaman Kerajaan Majapahit ini ditampilkan di bawah arahan koreografi Elly D Luthan, Joko W Polong selaku penata musik, dan Waluyo Sastrosukarno selaku penata tembang.

Kisah Damarwulan dan Menakjingga sudah akrab di telinga masyarakat. Damarwulan dikenal sebagai salah satu tokoh legenda cerita rakyat Jawa.

Ia dikisahkan pernah mengabdi sebagai tukang rumput kepada Patih Loh Gender dari Majapahit. Karena kepandaiannya, Damarwulan dapat menjadi abdi andalan Patih Loh Gender, dan Anjasmara putri sang patih terpikat dan jatuh cinta kepadanya.

Damarwulan kemudian mendapat tugas dari raja putri Majapahit, yaitu Ratu Kencana Wungu untuk mengalahkan Menakjingga, penguasa Blambangan yang bermaksud memberontak kepada Kerajaan Majapahit.

Damarwulan yang berparas tampan dan berdedikasi terhadap negerinya pun berhasil mengalahkan Menakjingga yang sakti mandraguna nan bengis. Setelah pertempuran itu, Damarwulan menjadi pahlawan dan bisa mempersunting raja putri Majapahit.

Cerita ini coba menanamkan nilai moral tentang sosok pemuda sederhana, dengan cita-cita yang tidak muluk. Ia hanya ingin memberi kontribusi kepada negara, tanpa punya pamrih apa-apa.

Ketika yang dilakukan dimanipulasi dan dianggap sebuah pengkhianatan, ia tetap teguh dan lurus berkontribusi pada negeri. Pada akhirnya, kebaikan dan kebenaranlah yang menang.

Hingga kini, cerita rakyat ini tidak henti-hentinya direproduksi terus menerus, baik dalam bentuk dongeng lisan, ketoprak, wayang orang, ataupun sendratari.

Elly D Luthan, sang koreografer mengatakan, cerita rakyat selalu relevan untuk terus direproduksi karena masyarakat tidak hanya menikmati cerita rakyat dari sisi akhir cerita, tetapi juga alur cerita dan yang paling penting ialah tuntunan cerita.

"Saya ingin lebih membawa cerita lama dengan relevansi ke kini. Ingin mengajak diri berpikiran positif terhadap peristiwa yang dianggap negatif," kata Elly, seusai pementasan.

Penerima Anugerah Kebudayaan Kategori Anugerah Seni dari Kementerian Kebudayan dan Pariwisata 2014 itu mengaku, koreografi Damarwulan Menakjingga bukanlah karya terbarunya. Koreografi tersebut sudah pernah dipentaskan pada 2007. Kali ini kembali dipentaskan dengan penari yang berbeda dengan semangat baru.

Terpuaskan

Cerita yang berdurasi dua jam tersebut berhasil memberikan kepuasan bagi para pencinta seni, terutama seni tari dan karawitan. Danardono, salah seorang penonton, memuji penampilan sendratari Damarwulan Menakjingga malam itu. Menurut dia, sendratari tersebut sangat kuat pada aspek koreografi tari dan karawitan.

"Tidak masalah sebuah cerit rakyat ditampilkan (direproduksi) karena setiap koreografi selalu memiliki ide dan pandangan sendiri terhadap suatu cerita," kata dia.

Menurutnya, hasil seni yang dipentaskan pun akan selalu memiliki pesan dan kesan masing-masing bagi setiap penonton. Hal serupa juga disampaikan oleh Hernowo, yang sangat kagum dengan pementasan malam itu. "Tidak bisa bilang apa-apa lagi memang bagus banget koreografi dan karawitannya," puji dia dengan semangat.

Di benaknya, cerita Damarwulan Menakjingga tidak lekang oleh waktu. Bahkan, cerita ini tidak ada salahnya apabila dipentaskan dalam koreografi yang lebih kekinian agar anak muda juga tertarik.

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More