Kembali ke Gaya Vintage dan Era 1980-an

Penulis: Suryani Wandari Putri Pertiwi Pada: Minggu, 22 Apr 2018, 05:00 WIB Pesona
Kembali ke Gaya Vintage dan Era 1980-an

MI/RAMDANI

BAJU atasan atau blus longgar yang terlihat seperti kebesaran oleh si pemakainya cukup mendominasi koleksi terbaru Mel Ahyar yang ditampilkan pada Fashion Nation di Senayan City, Rabu (11/4).

Busana oversize itu berpadu dengan kaus kaki tebal warna-warni neon hingga lutut. Maka terlihatlah gaya perempuan 1980-an yang selalu tampil percaya diri.

Begitulah cara Mel Ahyar bernostalgia dengan kenangan manis di era 1980-1990-an yang juga merupakan tahun kelahirannya. "Koleksinya akan mengenang masa lampau tentang walkman, sepatu roda, dan yang berkenaan dengan recalling childhood memories," kata Mel Ahyar sebelum pagelaran busana dimulai.

Melalui koleksinya bertajuk Vignette itu, ia memberikan kesan zaman yang sangat dekat dengan dunia fotografi. Nama vignette diambil dari salah satu efek visual yang mengacu ke foto yang mencerahkan atau menggelapkan latar belakangnya. Biasanya digunakan untuk membuat koleksi antik melalui vinyet.

Di bawah label busana siap pakainya, Mel Ahyar First, ia bermain-main dengan denim, jaring, kain bertekstur, katun tebal, dan organdi. Ia berhasil mengeksplorasi dan menggambarkan busananya seakan anak berani melakukan apa pun, bahkan berarti melanggar aturan, seperti tabrak warna maupun tabrak motif.

Permainan warna itu hadir dalam garis desain yang minimalis, feminin, dan eklektik. Tak hanya itu, kehadiran motif plaid atau kotak-kotak serta material mika sebagai hiasan tiga dimensi pada oversized outerwear, seperti coat, vest, dan jaket, semakin mempertegas gaya di zaman 30 tahun lalu.

Kotak dan 3 dimensi

Masih bernostalgia dengan gaya busana tempo dulu, Priyo Oktaviano pun menghadirkan koleksi bertajuk La Riviera yang membawa kita ke masa-masa 1960-an di pantai selatan Prancis yang dikenal dengan C`ote d`Azur.

"Saya terinspirasi oleh vintage beachwear selama musim panas di French Riviera pada era 1960-an yang diambil dalam foto-foto lama dan kartu pos vintage, mode trapeze siluet yang menampilkan potongan-potongan dengan material yang sangat tipis," ujarnya.

Untuk materialnya, ia memilih bahan-bahan natural, seperti linen, katun, tulle, dan organza. Yang menarik, busana itu dibordir dan disulam halus tiga dimensi dengan detail kelopak bunga yang diaplikasikan pada bahan berwarna pasir. Koleksi Priyo tersebut ditampilkan dalam 15 set, terbagi menjadi 10 set pakaian perempuan dan 5 set untuk pria.

Sementara itu, perancang Tri Handoko mempersembahkan koleksi busana bertajuk A state with no motion yang masih memperlihatkan gaya klasik tapi tetap playful.

Energi dari koleksi kali ini tergagas dari emosi yang berkobar atau berontak di dalam hati, tapi terlihat tenang di luar. Emosi tersebut hadir dalam corak kotak-kotak dalam model kemeja, celana, blus, hingga rok dengan berbagai siluet dan aksen tumpuk.

Di koleksi tersebut, Tri lebih banyak menggunakan bahan katun flanel, yakni jenis flanel yang lebih sejuk. Tak hanya warna merah cerah, ia pun mengombinasikan corak kotak-kotak dengan warna hijau, krem, dan coklat pada satu set busananya.

Nostalgia memang selalu memberikan kesan mendalam bagi semua orang, terlebih apa yang dirindukan ialah kenangan indah. Mode-mode tempo dulu ternyata tidak selalu memberikan kesan kolot, tetapi justru bisa menjadi tren di zaman modern.

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More