Belajar Seni Samurai dan Filosofi Hidup

Penulis: Abdillah M Marzuqi Pada: Minggu, 22 Apr 2018, 01:00 WIB Gaya Urban
Belajar Seni Samurai dan Filosofi Hidup

MI/AGUNG WIBOWO

KETIKA memasuki dojo (tempat latihan), sudah ada sejumlah orang yang lebih dahulu hadir. Mereka yang baru datang langsung berganti baju dengan pakaian khusus berlatih pedang. Baju longgar berwarna putih yang akrab disebut gi, dipadu dengan bawahan longgar hitam disebut hakama.

Setiap orang yang hadir membawa dua bilah boken (pedang kayu). Ada dua jenis yang digunakan, yakni katana (pedang tajam) untuk latihan solo dan wax wood untuk berpasangan.

Sebelum masuk ruangan, seorang bernama Nurham, 46, menyambut sebagai penunjuk jalan. Sekilas tidak ada yang menarik dari penampilannya, Nurham mengenakan T-shirt berkerah dan celana jins. Sosoknya ramah dan tutur katanya lembut. Sikap hormat ditunjukkannya kepada setiap orang yang ia jumpai.

Nurham ternyata menjadi shibucho (pemimpin cabang) shinkendo di Indonesia. Ia pula yang malam itu akan melatih shinkendo di dojo yang terletak di Studio Gasandra Bumi Serpong Damai (BSD), Jumat (13/4) malam.

Sekilas mungkin sulit dipercaya bahwa Nurham ialah shibucho. Para peserta begitu mendengarkan dan menghormatinya sebagai sensei mereka. Sikap mereka ternyata ialah perwujudan dari filosofi shinkendo yang terbingkai dalam moto jinsei shinkendo, yang berarti hidup adalah shinkendo, shinkendo adalah hidup.

Banyak hal penting ditanamkan pada saat berlatih. Hal itu pula bisa diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, seperti sikap saling menghormati, rendah hati, mau membantu orang lain, serius dalam menekuni sesuatu, ataupun fokus.

"Dengan ikut berlatih, shinkendo juga akan menjadi bagian dari kita dalam menjalani kehidupan sosial di luar dojo, baik di lingkungan keluarga, kerja, maupun lain-lain," terang Nurham.

Seni pedang modern

Shinkendo ialah seni permainan pedang Jepang modern yang diciptakan pada 1990 oleh Toshishiro Obata Kaiso berdasarkan pengalamannya menekuni bela diri.

Obata mendobrak tradisi tersebut dan menggabungkan beberapa aspek penting dalam mempelajari ilmu pedang Jepang dari berbagai aliran menjadi satu bentuk yang komprehensif.

Terdapat lima aspek penting dalam latihan pedang Jepang, yakni suburi (latihan mengayunkan pedang), battoho (mencabut pedang dan menyarungkannya kembali dalam kondisi bertempur), tanrengata (latihan variasi gerakan dalam bentuk solo), tachiuchi (latihan berpasangan), dan tameshigiri (memotong target).

"Dia belajar dari pengalaman itu dan filosofi-filosofi dari setiap bela diri itu dia combine jadi satu. Makanya shinkendo itu boleh dibilang satu ilmu samurai art yang sudah lengkap satu paket. Ketika kita belajar dulu paling cuma dapat dua dari lima aspek itu," lanjut Nurham.

Selain lima aspek tersebut, tambahnya, shinkendo masih dilengkapi dengan ashisabaki, latihan gerak kaki atau kuda-kuda dan taisabaki, yakni latihan menghindari serangan. Seluruh aspek itu dipelajari secara mendalam dan sistematis.

Malam itu, saat melihat langsung aktivitas peserta shinkendo, semua aspek dilatih, kecuali tameshigiri. Latihan cutting membutuhkan pedang tajam asli dan sesuatu sebagai target, sedangkan shinkendo melarang peserta hadir membawa pedang tajam saat latihan. Peserta harus berada pada kondisi mental yang baik. Jika tidak, tentu sangat berbahaya berlatih dengan pedang Jepang yang sudah terkenal ketajamannya.

"Menu hari ini, keempat aspek itu ada, kecuali tameshigiri atau cutting. Itu kita butuh pedang tajam yang namanya katana (shinken)," terang Nurham seusai latihan.

Praktis, simpel, efisien

Nurham lalu mengganti aspek itu dengan latihan lain, yakni menebas menggunakan pedang kayu. Latihan itu ditujukan untuk melatih fokus para peserta sekaligus menjadi fase peralihan sebelum mereka menggunakan target dan pedang tajam.

"Tadi saya ganti dengan suburi, tapi pakai kayu. Kami sebutnya tameshigiri suburi. Itu masih latihan dasar juga untuk beralih ke cutting beneran dengan target beneran," tegas Nurham.

Shinkendo tidak melihat keindahan suatu gerakan sebagai tujuan akhir, tetapi lebih mengajarkan kepada gerakan yang praktis, simpel, fleksibel, dan efisien. Sistem pengajarannya sangat sistematis dan bertahap sehingga menjadikan shinkendo mudah dipahami dan diikuti.

Latihan shinkendo selalu bersifat kembali ke dasar. Bahkan untuk level paling tinggi sekalipun pun, suburi yang notabene merupakan gerakan dasar tetap dilatih.

Shinkendo banyak melakukan pengulangan gerak yang sama. Hal itu mungkin bisa membuat sebagian orang bosan, terutama yang memiliki fantasi samurai seperti di film-film atau komik. Namun, justru melakukan repetisi tersebut diharapkan dapat membentuk memori otot yang keluarannya akan menjadi refleks.

Pola itu rupanya tidak membuat bosan, setidaknya Anton, 42, telah membuktikannya. Semangatnya berlatih shinkendo tidak pudar meski ia tahu saat latihan, gerakannya sama dengan yang sudah-sudah. Ia sadar bahwa sesuatu yang diulang-ulang akan menjadi matang.

"Hal yang sama dilatih itu akan menjadi matang," ujar Anton yang telah mengikuti shinkendo sejak empat tahun lalu.

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More