Kartini Belajar di Negeri Kanguru

Penulis: Zubaedah Hanum Pada: Sabtu, 21 Apr 2018, 05:45 WIB Humaniora
Kartini Belajar di Negeri Kanguru

"KALAU Papa kirim kamu belajar ke Australia, konsekuensinya adik-adikmu tidak kuliah," ucap ayah, saat Ellis bilang mau kuliah di luar negeri, selepas lulus SMA.

Dengan berat hati, gadis berusia 16 tahun itu pun melepas bayangannya untuk sekolah di 'Negeri Kanguru'. Brosur-brosur kampus di Australia yang digenggamnya, ia tatap lekat-lekat.

"Suatu saat saya yakin, bagaimanapun caranya saya akan bisa belajar di sana. I do believe in miracles. It does exist and there are three words for miracles to happen."

Begitulah Ellis merapal mantra. Hingga keajaiban pun muncul. Pegawai negeri sipil (PNS) Kementerian Sekretariat Negara, Jakarta itu mendapat tawaran beasiswa G to G dari pemerintah Australia melalui Australian Development Scholarship (ADS) untuk bisa melanjutkan ke jenjang S-2. Meski sudah mendaftar sejak 2006, ia baru lulus tes empat tahun kemudian. Dewi fortuna masih berpihak padanya.

Direspons negatif

Namun, bukannya mendukung, Ellis justru menuai banyak kecaman yang cenderung menakut-nakuti. Status lajang yang melekat di dirinya menjadi penyebab begitu banyak komentar miring dari keluarga maupun rekan sekantornya. Lebih banyak yang pesimistis daripada yang optimistis.

"Umur kamu sudah waktunya menikah. Jodohmu pasti makin jauh saja!"

"Sudahlah. Perempuan itu enggak usah sekolah tinggi-tinggi. Paling, jatuh-jatuhnya masak, manak, macak."

Dalam bahasa Indonesia, manak berarti memberi keturunan dan macak berarti mempercantik diri.

Rentetan komentar miring tersebut didengarnya sesaat sebelum dirinya bertolak ke Australia. Entah kebetulan atau tidak, hubungan asmaranya dengan kekasih betul-betul kandas saat ia harus mengikuti kelas persiapan bahasa.

Tak hanya itu, kedua orangtuanya juga sakit parah dan harus dirawat di rumah sakit. Ellis merasa terpuruk, putus asa. Dalam kondisi itu, ia pun kembali merapal mantra ajab, "Jodoh, rezeki, dan maut berada di tangan Tuhan. Kalau memang hubungan saya kandas, bukan berarti dunia saya menjadi abu. Dengan pengobatan, saya yakin orangtua saya bisa pulih. Theres's always a miracle in hope..."

Kisah Ellis Indrawati menjadi cerita pembuka dalam buku bersampul merah jambu berjudul Neng Koala terbitan PT Gramedia Pustaka Utama yang terbit awal 2018 ini.

Buku setebal 254 halaman tersebut berisi kisah belasan perempuan hebat yang mencoba mengejar impiannya untuk mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri dan negara yang dipilihnya ialah Australia. Mereka ialah para ibu, istri, pekerja, dan pelajar. "Terkadang, semua peran tersebut bahkan diambil sekaligus," kata Paul Grigson, Dubes Australia untuk Indonesia dalam kata pengantarnya.

Dilematis

Kejujuran mereka dalam bertutur membuat siapa pun pembacanya merasa ada pada situasi dilematis yang mereka alami. Bagian paling dilematis bahkan cenderung dramatis dalam buku tersebut ada pada bagian II, mulai halaman 51 hingga 141, saat-saat di mana mereka harus memilih antara kuliah dan mengurus keluarga.

Seperti yang dialami Nadia Sarah di halaman 56. "Saat itu saya sudah menikah dan memiliki anak perempuan berusia dua tahun yang sedang lucu-lucunya," kata Nadia.

Meski belum dapat gambaran akan seperti apa, suami dan ibu mendukung Nadia untuk tetap melanjutkan niatnya kuliah, berbekal beasiswa dari ADS. "Jalani saja. Ada Mama. Anakmu akan baik-bak saja," begitu sang ibu memotivasi Nadia.

"Anak kok ditinggal? Jangan egois. Nanti dapat mama baru loh. Nanti pulang, anakmu enggak mau sama kamu loh," begitulah segelintir omongan orang saat tahu dirinya lulus dan mendapatkan beasiswa.

Saat Nadia berencana memboyong ibunya ke Australia, kabar sedih datang dari Tanah Air. Ibunya sakit keras, stadium 4. Dokter sudah angkat tangan.

Rasa marah, sedih dan takut berkecamuk sedemikian hebat. Terlebih saat sang ayah mengabarinya kalau sang ibu masuk ICU. Dengan pikiran tak karuan, Nadia mengemasi pakaian untuk terbang menemui ibunya.

Pesawat dari Brisbane ke Gold Coast baru akan berangkat pukul 02.00 pagi, tetapi Nadia kembali mendapat telepon pada pukul 10 malam waktu setempat.

"Kamu sebaiknya bicara dengan mama. Mama pengin pulang tidak mau lagi di rumah sakit, seluruh selang-selang ditariknya," kata ayah di ujung telepon.

Dengan pengeras suara telepon yang diaktifkan, Nadia pun bicara. "Ma, sakit ya? Sakit banget ya? Maafkan aku ya, Ma. Kalau mama memang tidak kuat, tidak apa jangan tunggu aku. Aku ikhlas Ma. Maafkan aku Ma...." ujar Nadia ditelepon. Tidak ada jawaban. Malam itu juga mama dibawa pulang dan meninggal di kamarnya.

Dengan hati remuk, dalam perjalanan pulang ke Tanah Air, terlintas keinginan untuk meninggalkan kuliahnya di Australia yang baru memasuki semester satu itu.

Jika Nadia terpaksa meninggalkan buah hatinya di Tanah Air, Efalia Lumban Gaol nekat membawa serta Billy, anaknya yang baru berusia satu setengah tahun ke Canberra. Sebelum merealisasikannya, Efalia melakukan survei singkat selama enam bulan pertama dan berusaha mencari tahu dukungan fasilitas yang tersedia di Australia, untuk anak-anak.

Lain lagi dengan kisah Sri Murni di halaman 97. Menjelang keberangkatannya ke Canberra, dia terganjal oleh pemeriksaan kesehatan. Hasil laboratorium menyebutkan dirinya tengah berbadan dua, dengan usia kandungan sekitar empat minggu. Sri akhirnya tidak bisa melakukan X-Ray paru sebagai bagian dari syarat pemeriksaan kesehatan. Sri pulang dengan membawa tanya. Kok bisa? Padahal, dia dan suami selalu menggunakan alat kontrasepsi.

Bapak rumah tangga

Dari sudut pandang berbeda, pembaca juga bisa mengetahui perasaan para kaum adam. Apa yang mereka rasakan? Begitu mendengar sang istri ingin kuliah di luar negeri, yang otomatis jauh dari rumah dan keluarga. "Kalau bisa, kenapa tidak," ucap Bowo Sugiarto.

Padahal, saat mengatakan itu sebenarnya dia belum memiliki bayangan apa-apa, jika ternyata mereka akan hidup terpisah untuk sementara.

Apa yang kemudian dialami suami Emma Soraya juga di luar perkiraan, saat dirinya dan dua anak ikut serta ke 'Negeri Kanguru'. Sang suami resmi menjadi bapak rumah tangga. Di saat Emma harus mengurus administrasi, suaminya harus memberi makan anak-anak, termasuk air susu ibu (ASI) perah ke anak mereka yang masih berusia tujuh bulan, menceboki, hingga mengajak main di playground dekat rumah.

"Sebelumnya di Yogyakarta, tidak pernah suami bertiga dengan anak-anak. Paling ada si mbak yang membantu, ibu mertua atau adik-adik ipar saya yang bantu momong," ungkap Emma di halaman 65.

Kisah sahabat perempuan

Butet Manurung, Direktur SOKOLA yang juga alumnus Australian National University mengatakan, keinginan para perempuan untuk tetap melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang tertingi bukan bermaksud untuk melampaui laki-laki. Pun bukan untuk meninggalkan tanggung jawab mereka sebagai ibu dan istri di rumah.

"Saya sangat menikmati membaca Neng Koala ini. Model tuturan yang jauh dari model tulisan akademis ini sangat menyenangkan. Seakan kita sedang membaca surat dari sesama sahabat perempuan yang dari lembar ke lembarnya, semakin mengatkan semangat," kata Butet seperti tertulis di halaman awal buku.

Melati, penulis buku Neng Koala mengatakan, kisah-kisah di dalam buku itu telah diterbitkan di laman www.nengkoala.id yang dirilis pada Hari Kartini. "Terlepas dari segala tantangan yang dihadapi perempuan Indonesia pada zaman modern ini, peluang bagi mereka untuk melanjutkan pendidikannya sangatlah besar," sebut Melati.

Secara keseluruhan, buku bergenre inspirasi ini cukup ringan di baca. Gaya bertuturnya membuat pembacanya bisa dengan mudah memahami situasi yang terjadi. Meskipun kisahnya sebelas dua belas miripnya, tetap saja ada yang unik pada setiap kalimat yang dituturkan.

Secara keseluruhan, buku ini memberikan perspektif lengkap suka duka perburuan beasiswa dan realitas kehidupan sehari-hari para mahasiswi Indonesia di 'Negeri Koala'.

Penjelasan yang diberikan sangat spesifik disertai kiat, mulai memilih kampus, lulus tes tertulis maupun wawancara, mengurus visa, memboyong keluarga, memilih tempat tinggal, memilih sekolah anak, hingga memilih tempat penitipan anak.

(M-1)

________________________________________________

Judul: Neng Koala

Penulis : Melati, dkk

Tahun Terbit: 2018

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal: XX + 254 halaman

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More