Armada Hantu Penyelamat

Penulis: AT/CS/M-4 Pada: Sabtu, 21 Apr 2018, 05:15 WIB Humaniora
Armada Hantu Penyelamat

DI kapal Coronado milik Amerika Serikat, Komandan Jamie Simmons dan pasukannya mencoba menahan gempuran Tiongkok di Laut Pasifik dan harus kehilangan banyak pasukan di setiap pangkalan militernya.

Perebutan wilayah pasifik yang menjadi pusat tambang energi itu menjadi alasan 'Negeri Tirai Bambu' itu meradang. Tiongkok yang bersekutu dengan Rusia berhasil menaklukkan Amerika. Semua alat tempur canggih Amerika lumpuh karena serangan hacker Tiongkok, termasuk F-35 Lightning. Pesawat supercanggih yang mampu mengelak dari radar lawan dan mampu mengumpulkan data intelijen.

Tak hanya armada perang, serangan peretasan Tiongkok juga menghentikan stasiun angkasa luar jaringan komunikasi Amerika. Dengan gerak cepat, Tiongkok sukses menyerang sejumlah pangkalan militer Amerika di Pasifik.

Amerika pun menggantungkan harapan terakhirnya di sejumlah armada cadangan tua yang sudah dianggap kuno. Tapi, karena kekunoannya itu, justru para hacker tidak mampu mendeteksinya. Armada hantu yang menganggur selama perang dingin itu menyimpan persenjataan yang cukup besar, seperti lima ratusan kapal perang.

Novel Ghost Fleet: A Novel of the Next World War yang dirilis 2015 itu menceritakan perebutan dominasi di laut pasifik, terutama oleh tiga negara adi daya, yaitu Amerika Serikat, Tiongkok, dan Rusia. Tiongkok digambarkan menguasai energi dunia lewat cadangan gas bumi di masa depan.

Secara apik dan meyakinkan, penulis sukses memaparkan fakta-fakta cerita dalam novel tersebut, dari intrik politik, proxy war, hingga perang yang sesungguhnya. Data-data yang disajikan dalam membuat pembaca seolah larut dalam fakta peristiwa di dalam novel.

Meskipun berkategori fiksi, novel sains fiksi futuristik karangan dua ahli intelijen Amerika Peter Warren Singer dan August Cole itu bahkan dianggap nyata oleh Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Berdasarkan novel tersebut, Ia menyebut negara Republik Indonesia lenyap pada 2030.

Saat itu, harga minyak melambung tinggi dipicu oleh perang di Timor Leste yang menyebabkan kekacauan di Indonesia dan munculnya tragedi bom dahsyat di Dhahran, Arab Saudi. Indonesia disebutkan sebagai salah satu wilayah penting yang harus direbut karena banyak menyimpan cadangan energi.

Sebagai karya fiksi futuristik, novel ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Pasalnya, fiksi futuristik semacam ini sudah banyak bermunculan. Indonesia pun punya penulis sains fiksi futuristik, misalnya Eliza V Handayani yang pernah menelurkan karya Area X; Hymne Angkasa Raya. Novel fiksi yang terbit 2003 ini mengimajinasikan Indonesia pada 2015.

Saat menanggapi isi novel tersebut, dosen Universitas Pertahanan Negera (Unhan) Kolonel Abdul Rivai mengiyakan, perang fisik di masa depan tidak lagi mendominasi. "Yang terjadi adalah perang inovasi, di mana setiap negara berlomba mengembangkan teknologinya. Ini merupakan gaya baru dunia perang," katanya.

Namun, ia setuju jika isu pengelolaan energi ini menjadi bagian penting dalam menjaga kedaulatan bangsa di masa depan. Menurut pengamatannya perebutan energi terbesar akan terjadi di wilayah Laut China Selatan dan Samudra Hindia.

Pada 2030, sebutnya, kebutuhan energi dunia diperkirakan akan meningkat hingga 70%. Dan negara yang paling besar mengonsumsi energi adalah Tiongkok dan India yang mencapai 50%.

_________________________________________________________

Judul: Ghost Fleet: A Novel of the Next World War

Penulis: PW Singer dan August Cole

Penerbit: Houghton Mifflin Harcourt, Amerika Serikat

Terbit: 30 Juni 2015

Tebal: 416 halaman

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More