Menyingkap Tabir Indonesia di 2030

Penulis: Zhi/M-1 Pada: Sabtu, 21 Apr 2018, 05:00 WIB Humaniora
Menyingkap Tabir Indonesia di 2030

BAGAIMANA sesungguhnya wajah Indonesia di 2030 sesungguhnya masih menjadi misteri. Namun, tidak bagi beberapa ekonom muda dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Menyimak buku setebal 421 halaman yang dicetak pertama kali pada 2017 itu, perekonomian Indonesia secara makro dan mikro diulas dari berbagai aspek. Topiknya terasa relevan dengan perbincangan tentang Indonesia masa depan pascalontaran Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto tentang kelamnya masa depan Indonesia, mengutip buku Ghost Fleet.

Mengapa 2030? Berdasarkan kajian dari PwC 2017, di tahun itu Indonesia market exchange rate (MER) diproyeksikan akan menjadi peringkat ke-9 terbesar di dunia atau peringkat 8 berdasarkan purchase power parity (PPP). "Proyeksi itu dinilai sejalan dengan tulisan-tulisan para ekonom muda tersebut," ucap Ketua Ikatan Alumni UI FEB Mirza Adityaswara.

Selain itu, pada 2030 Indonesia akan menikmati masa puncak usia produktif penduduknya, yang berjumlah 53,1% dari jumlah total penduduk. Angka itu akan mulai menurun di 2031. Saat itu Indonesia akan memasuki masa late dividend dari bonus demografi.

Alumnus FE UI 1996, Helmi Arman menjadi tulisan pembuka di buku itu, Ia menyoroti kemunculan tiga tren dunia dan pengaruhnya terhadap struktur perekonomian Indonesia menjelang 2030.

Tren pertama, pesatnya perkembangan teknologi gas dan energi terbarukan yang memperlemah pertumbuhan ekspor Indonesia, yang masih bertumpu pada mineral dan komoditas mentah.

Lalu, tren kedua, pesatnya perkembangan teknologi digital dunia yang memicu gelombang otomatisasi industri serta melambatnya aliran investasi asing ke sektor manufaktur.

Yang paling menarik ialah di tren ketiga,yakni timbulnya poros-poros geopolitik baru seperti Tiongkok dan Rusia yang harus dimanfaatkan Indonesia untuk mendiversifikasi sumber investasi dan teknologinya.

"Selama satu dasawarsa terakhir, kedua negara tersebut muncul sebagai kekuatan ekonomi dan militer baru selain Amerika Serikat (AS)," sebut Helmi yang juga Country Economist Citibank Indonesia itu di halaman 19.

Faktanya, kata Helmi, sejak 2014 Tiongkok menyalip Amerika sebagai perekonomian terbesar dunia dan Rusia kini juga makin independen dalam menjalankan kebijakan luar negerinya.

Baik Tiongkok maupun Rusia akan berusaha meningkatkan pengaruh strategisnya di berbagai belahan dunia. Tiongkok, misalnya, perlu mengamankan jalur perdagangan yang dilewati pasokan impor energinya dari Timur Tengah atau Afrika melewati India, Selat Malaka, dan Laut China Selatan.

'Negara Tirai Bambu' itu telah merealisasikannya dengan program Maritime Silk Road yang diluncurkannya. Perlahan-lahan Tiongkok mulai naik kelas dalam rantai nilai dunia dan mulai mengembangkan teknologinya. Hal itu ditandai dengan mulai diproduksinya komponen elektronika yang sebelumnya diimpor dan relokasi sebagian sektor manufaktur ringan serta padat karya.

Sementara itu, Rusia kini makin mempererat hubungan dagang dan investasinya dengan negara-negara Asia seperti Tiongkok dan India. Rusia menyediakan keahlian dalam pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) dan transfer teknologi industri pertahanan dengan India.

Dengan data yang dimilikinya, tulisan Kiki Verico, Wakil Kepala LPEM FEB UI secara gamblang menyingkap bagaimana gambaran perekonomian Indonesia di 2030. Alumnus FE UI 1995 itu memaparkan sejumlah estimasi berdasarkan hasil riset LPEM UI atas permintaan Yayasan Indonesia Forum (YOF) pada 2007.

Indonesia diperkirakan akan masuk sebagai negara berpendapatan tinggi sekitar US$15 ribu (Rp195 juta per tahun saat ini) pada 2030, jika dan hanya jika mampu tumbuh secara rata-rata 13% per tahun.

"Pertumbuhan sebesar itu tentu sulit. Bahkan, hampir tidak mungkin tercapai," sebut Kiki di halaman 83.

Meski bahasannya terbilang berat, goresan tinta para ekonom yang berada di rentang usia 30-40 tahun di dalam buku ini layak diapresiasi. Setidaknya ramalan dan prediksi mereka didasarkan pada data.

----------------------------

Judul: Indonesia Tahun 2030: Ide dan Gagasan Ekonom Muda FEB UI

Editor: Andry Asmoro dan Lutzardo Tobing

Penerbit: Kontan Publishing

Tahun Terbit: 2017

Tebal: xxxviii + 423 halaman

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More