Cuaca Ekstrem Rusak Karang Australia

Penulis: Nature.com/Anastasia Arvirianty/I-2 Pada: Sabtu, 21 Apr 2018, 02:00 WIB Internasional
Cuaca Ekstrem Rusak Karang Australia

AFP PHOTO / ARC Centre of Excellence for Cor

PANAS ekstrem pada 2016 telah merusak Great Barrier Reef di Australia jauh lebih banyak daripada survei awal yang diindikasikan. Gelombang panas menyebabkan pemutihan karang secara besar-besaran yang menarik perhatian dunia.

Para peneliti melaporkan pemutihan yang parah pada skala yang belum pernah terjadi sebelumnya memicu kematian massal karang. Ini secara drastis mengubah komposisi spesies hampir sepertiga dari 3.863 terumbu individu yang terdiri dari Great Barrier Reef.

"Kerusakan itu ialah pertanda dari apa yang mungkin terjadi pada masa depan akan kekayaan ekosistem terumbu karang tropis," ujar Terry Hughes, penulis studi terkemuka dan direktur pusat terumbu karang di James Cook University di Townsville, Australia.

Hughes dan tim ekolognya meneliti dengan cermat 2.300 kilometer Great Barrier Reef setelah gelombang panas 2016. Survei udara ekstensif mengungkapkan pemutihan karang yang luas antara Maret dan April 2016.

Fenomena ini terjadi ketika panas yang berlebihan membunuh atau mengusir ganggang yang disebut Zooxanthellae, yang memiliki hubungan simbiosis dengan karang pembangun terumbu.

Hasil amatan menunjukkan, banyak karang, terutama karang di bagian utara terumbu karang, cepat mati karena tekanan panas. Yang lainnya terbunuh lebih lambat, setelah mitra alga mereka diusir. Komposisi kumpulan karang di ratusan terumbu individu berubah secara radikal hanya dalam beberapa bulan gelombang panas.

"Studi ini memberikan gambaran suram tentang besarnya kehilangan karang di Great Barrier Reef," kata Nick Graham, ahli ekologi kelautan di Lancaster University, Inggris.

Sekitar sepertiga dari terumbu karang dunia dipengaruhi pemutihan pada 2016. Di Great Barrier Reef, kurang dari 10% terumbu karang yang lolos tanpa pemutihan, dibandingkan dengan lebih dari 40% pada peristiwa pemutihan sebelumnya.

Tim McClanahan, ahli zoologi konservasi di Wildlife Conservation Society di Mombasa, Kenya, mengatakan, temuan penelitian mungkin tidak memprediksi bagaimana terumbu karang lain akan menghadapi dunia yang lebih hangat.

"Pemanasan global akan menghasilkan lebih banyak peristiwa tekanan panas, tetapi juga ada banyak bukti bahwa karang dapat menyesuaikan diri," katanya.

Pemutihan karang global telah diamati hanya dua kali, yakni pada 1998 dan 2002, sebelum insiden ekstrem 2016. Koloni karang dapat pulih dari kejadian semacam itu, terutama mengingat spesies yang paling rentan mati akibat tekanan panas ialah salah satu karang yang tumbuh paling cepat.

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More