Ayo, 60 Detik Cegah Stunting

Penulis: Nia Pratiwi, SKM Pascasarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia Pada: Rabu, 18 Apr 2018, 10:30 WIB Surat Pembaca
Ayo, 60 Detik Cegah Stunting

ANTARA FOTO/Arif Firmansyah
Sejumlah siswa mencuci tangan dengan sabun cair

STUNTING (pendek) bukanlah hal yang baru terjadi pada kalangan anak Indonesia bukan? Namun, herannya selama ini kejadian stunting dianggap hal sepele yang biasa sehingga tidak ada tindakan pencegahan yang konkret.

Padahal, terjadinya stunting tidak bisa diobati seperti pada kasus kurang gizi lainnya. Serta dampaknya di masa depan dapat berimbas pada pertumbuhan ekonomi karena rendahnya produktivitas kerja pada anak-anak yang mengalami stunting.

Stunting mencerminkan kondisi gagal tumbuh pada anak baduta (bayi di bawah usia 2 tahun) akibat kekurangan gizi kronis sehingga anak menjadi terlalu pendek untuk usianya. Masalah balita pendek (stunting) menggambarkan adanya masalah gizi kronis, dipengaruhi dari kondisi ibu/calon ibu, masa janin, dan masa bayi, termasuk penyakit yang diderita selama masa balita.

Stunting disebabkan multifaktor sehingga tidak hanya disebabkan kekurangan gizi yang dialami ibu hamil maupun baduta. Intervensi yang paling menentukan untuk dapat mengurangi prevalensi stunting harus dilakukan pada 1000 Hari Pertama Kelahiran.

Riset Kesehatan Dasar 2013 mencatat prevalensi stunting nasional mencapai 37,2%, meningkat dari 2010 (35,6%) dan 2007 (36,8%). Artinya, pertumbuhan tak maksimal diderita sekitar 8,9 juta anak Indonesia, atau satu dari tiga anak Indonesia. Di seluruh dunia, Indonesia ialah negara dengan prevalensi stunting kelima terbesar.

Kejadian stunting di Indonesia tidak hanya dialami pada keluarga miskin, tetapi juga pada keluarga mampu. Stunting bisa terjadi karena adanya infeksi berulang dan kurangnya asupan zat makanan yang berkaitan dengan kurang baiknya perilaku kesehatan dan gizi ibu sebelum dan masa kehamilan.

Baduta yang sering sakit karena penyakit infeksi dapat mengalami gangguan pertumbuhan. Paparan terus menerus terhadap kotoran manusia dan binatang dapat menyebabkan infeksi bakteri kronis. Infeksi tersebut membuat asupan zat gizi sulit diserap tubuh akibat terjadinya gangguan saluran pencernaan.

Hal tersebut menyebabkan energi untuk pertumbuhan teralihkan kepada perlawanan tubuh menghadapi infeksi. Sebuah riset menemukan bahwa semakin sering seorang anak menderita diare, semakin besar pula ancaman mengalami stunting. Akibatnya, anak tersebut terancam mengalami stunting yang mengakibatkan pertumbuhan mental dan fisiknya terganggu sehingga potensinya tak dapat berkembang dengan maksimal.

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) harus diupayakan setiap rumah tangga. Termasuk meningkatkan akses terhadap air bersih dan fasilitas sanitasi, serta menjaga kebersihan lingkungan. Dengan menerapkan PHBS dalam kehidupan sehari-hari disinyalir dapat menurunkan kejadian sakit terutama karena penyakit infeksi.

Langkah sederhana yang bisa dilakukan ialah dengan cuci tangan pakai sabun (CTPS). Namun, hal yang begitu sederhana ini masih banyak orang yang malas melakukannya terutama dengan menggunakan sabun. Hakikatnya mencuci tangan tidak sekadar agar tangan menjadi bersih dari kotoran, tetapi juga terbebas dari kuman penyebab penyakit infeksi.

Perilaku mencuci tangan yang benar ialah mencuci tangan pakai sabun dengan menggunakan air bersih yang mengalir. Adapun 5 waktu penting untuk CTPS, yaitu sebelum makan, sesudah buang air besar, sebelum memegang bayi, sesudah menceboki anak, dan sebelum menyiapkan makanan.

Anak-anak yang terlahir sehat dan didukung pendidikan yang berkualitas akan tumbuh menjadi generasi yang menunjang kesuksesan pembangunan bangsa. Sebaliknya, jika anak terlahir dan tumbuh dalam kondisi kekurangan gizi akan mengalami stunting sehingga di masa depan produktivitas kerjanya akan menjadi rendah. Pada akhirnya, secara luas dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kemiskinan.

Jadi, masih mau berdiam diri melihat anak Indonesia tumbuh mengalami stunting? Mencuci tangan pakai sabun selama 60 detik merupakan aksi nyata mencegah terjadinya stunting. Ayo kita budayakan 60 detik cegah stunting dengan cuci tangan pakai sabun demi generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berprestasi.

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More