Tolak Mantan Presiden Jadi PM, Puluhan Ribu Warga Armenia Unjuk Rasa

Penulis: Irene Harty Pada: Rabu, 18 Apr 2018, 10:12 WIB Internasional
Tolak Mantan Presiden Jadi PM, Puluhan Ribu Warga Armenia Unjuk Rasa

AFP/KAREN MINASYAN

PULUHAN ribu orang berunjuk rasa di Ibu Kota Armenia, Yerevan, Selasa (17/4), setelah Mantan Presiden Armenia Serzh Sarkisian terpilih menjadi perdana menteri oleh parlemen.

Mereka memblokade pintu masuk ke sekitar selusin gedung pemerintah, termasuk kementerian luar negeri dan bank sentral.

Pemimpin oposisi Nikol Pashinyan, yang memimpin unjuk rasa, mengatakan pengunjuk rasa berkumpul di alun-alun Republik Yerevan untuk mengecam upaya Sarkisian memperpanjang kekuasaannya setelah masa jabatan keduanya sebagai presiden berakhir pekan lalu.

Dia mendorong permulaan revolusi damai di Armenia sembari meminta para pendukung untuk melumpuhkan pekerjaan semua instansi pemerintah.

Memegang bendera Armenia dan meneriakkan 'Armenia tanpa Serzh!' pengunjuk rasa melakukan aksi protes kepada anggota parlemen yang mendukung politisi veteran dengan kemenangan 77 suara melawan 17 suara.

Oposisi mengecam pemungutan suara dengan alasan usia Sarkisian yang 63 tahun tidak didukung rakyat.

"Sarkisian tidak memiliki legitimasi dan telah mendapatkan kebencian orang-orang Armenia," kata Pashinian.

"Kita tidak boleh membiarkan transformasi Armenia menjadi negara otokratis di mana orang yang sama tetap berkuasa untuk waktu yang tidak terbatas," kata Mahasiswa, Karen Mirzoyan, 23.

Sementara pengunjuk rasa lainnya, Roza Tunyan, 38, mengatakan Sarkisian berbohong dan melanggar janji untuk tidak menjadi perdana menteri setelah masa jabatannya berakhir.

Sarkisian menyalahkan oposisi atas kerusuhan itu.

Unjuk rasa juga diadakan di kota terbesar kedua dan ketiga, Gyumri dan Vanadzor di negara itu dengan 80 demonstran ditahan secara singkat, menurut polisi.

Pada Senin (16/4), polisi menggunakan granat kejut saat pengunjuk rasa berusaha menerobos pagar kawat berduri di pusat Yerevan untuk sampai ke gedung parlemen.

Pihak berwenang mengatakan 46 orang termasuk enam polisi dan pemimpin oposisi Pashinyan membutuhkan bantuan medis.

Juru bicara partai yang berkuasa, Eduard Sharmazanov, menepis anggapan bahwa unjuk rasa adalah agenda buatan oposisi.

Sarkisian, mantan perwira militer cerdik itu juga menjabat sebagai perdana menteri pada 2007-2008 dan bertanggung jawab atas negara Kaukasus Selatan yang terkurung daratan sebesar 2,9 juta sejak memenangkan pemilihan presiden pada 2008.

Presiden baru negara itu, Armen Sarkisian, dilantik minggu lalu namun kekuasaannya akan lebih lemah di bawah sistem pemerintahan yang baru dan tidak memiliki hubungan keluarga dengan Serzh. (AFP/OL-2)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More